fbpx
Kesehatan

Yakin Mau Beli Alat Rapid Test? Yuk Simak Kata Ahlinya

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Saat ini, semakin banyak bermunculan kasus – kasus baru penularan virus COVID-19. Karenanya, banyak orang yang semakin khawatir terhadap kesehatan dirinya sendiri. Sebagian orang berusaha mencegahnya dengan berinisiatif membeli alat rapid test (Tes Cepat) sendiri melalui berbagai toko online. Perlukah hal ini dilakukan?

Dilansir dari Republika.co.id, “Saya termasuk orang yang tidak menganjurkan masyarakat membeli (alat) rapid test sendiri,” ungkap akademisi dan praktisi kesehatan Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH saat dihubungi.

Baca Juga : Setujukah, Jika Biaya Rapid Test Rp 150 ribu ?

Prof Ari juga mengatakan bahwa salah satu pasiennya ada yang memiliki kekhawatiran mengenai COVID-19, lalu kemudian membeli satu boks alat rapid test. Pasien tersebut kemudian melakukan rapid test sendiri setiap dua pekan sekali. Prof Ari lalu menjelaskan bahwa ini sebuah kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.

Prof Ari juga mengungkapkan bahwa sebagian orang menyamakan alat rapid test dengan gravindex test atau alat untuk mengetes kehamilan. Gravindex test bersifat individual, sedangkan rapid test tidak.

“(Gravindex test) jelas memang dia individual, dia positif atau negatif hamil,” ujar Prof Ari.

Sebenarnya, hasil negatif dari rapid test belum tentu benar – benar mengindikasikan seseorang memang negatif COVID-19. Begitupun sebaliknya.

“Karena ada masanya ketika dia positif di awal, itu belum terdeteksi positif. Itu harusnya menjadi perhatian,” papar Prof Ari.

Disisi lain, alat rapid test lebih ditujukan untuk kepentingan surveillance dalam mengetahui kondisi di tengah masyarakat. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan seberapa besar prevalensi orang-orang yang sudah mendapatkan imunitas atau pernah terinfeksi di tengah kelompok masyarakat.

“(Rapid test) sifatnya tidak individual, nah kita mesti bedakan pemeriksaan rapid test dengan gravindex test,” jelas Prof Ari.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengeluarkan saran yang serupa. WHO tidak menyarankan rapid test berbasis deteksi antigen untuk pelayanan pasien.

Prof Ari mengatakan, orang-orang yang ingin melakukan tes swab juga perlu mengetahui apa tujuan mereka melakukan tes tersebut. Indikasi untuk melakukan tes swab harus jelas, misalnya karena telah melakukan kontak dengan orang yang positif Covid-19, untuk kepentingan ujian, atau keperluan lainnya.

“Indikasinya mesti jelas,” tutur Prof Ari. (buddy/EB/republika.co.id).

Related Articles

Back to top button