Opini / Gagasan

WS Liem, Backcang dan Hakekat Kerukunan

Kita semua harus dapat memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan mengoyaknya, juga bukan memecah belah

ENERGIBANGSA.ID – Jumat 25 Juni 2020 lalu, menjadi momen penting dalam kunjungan saya ke Klenteng Hok Tik Bio milik WS Liem Ping An di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Apalagi hari itu bertepatan dengan ritual Duan Yang yang diselenggarakan umat Khonghucu tiap tahun sekali.

Drs. H. Taslim Syahlan, M.Si bersama Tokoh Khonghucu, WS Liem Ping An saat kunjungan di Klenteng Hok Tik Bio Ambarawa (25/6/2020)

Saya tak sendiri. Bersama tokoh Hindu Jawa Tengah, Eko Pujianto, perjalanan menjadi lebih bernilai. Sebab kehadiran kami memiliki banyak makna; yakni saya bisa dikatakan mewakili kalangan Islam, serta kalangan Hindu yang direpresentasikan Eko Pujianto sebagai penganut agama Hindu. Kedatangan kami berdua menjadi lengkap sekaligus membawa pesan damai atas nama kerukunan umat beragama.

Kedatangan kami memang terlambat cukup lama. Pukul 11.30 WIB harusnya telah tiba, mundur, dan pukul 13.00 WIB baru sampai lokasi. Momen ritual Duan Yang baru saja selesai, yang artinya tak ada kesempatan untuk diikuti. Namun kami yakin, WS Liem pasti setia menanti. Dan, rupanya benar. Tokoh senior Khonghucu itu tetap sabar menunggu kedatangan kami.

Ritual Duan Yang

Welcome drink, spesial kopi hitam telah terhidang di meja utama. Aneka jajan pun menemani kehangatan di siang itu. Diskusi kecil muncul mengalir cerdik, WS Liem memaparkan esensi Duan Yang yang telah menjadi ritualitas tahunan bagi pemeluk Khonghucu.

Duan Yang atau istilah lainnya Duan Wu, ialah hari suci untuk mendekatkan diri kepada Tian (baca: Tuhan Yang Maha Esa). Itu merupakan perayaan yang dilakukan di tengah hari, yakni sekitar Pukul 11.00 hingga 13.00. Dimana, matahari memancarkan energi dan cahaya paling kuat.

Umat Khonghucu berkeyakinan, cahaya matahari adalah sumber kehidupan sekaligus rahmat Tuhan Yang Kuasa. Itu adalah bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sedangkan doa yang dipanjatkan tidak lain untuk mengharap kebahagiaan hidup umat manusia.

Obrolan tanpa moderator pun melebar, hingga tertuju pada jenis kuliner kue backcang yang ternyata memiliki runtutan sejarah negeri Chu (zaman Chan Guo). Masyarakat Chu kala itu membuat backcang yang dibungkus daun bambu, dengan melemparnya ke sungai sebagai usaha pencarian jenazah Menteri Qu Yuan yang melakukan pengorbanan dengan mencebur ke Sungai Milo.

Kegiatan itu dilakukan secara turun-temurun, mentradisi hingga saat ini. Pada hari-hari perayaan, kue lemper backcang atau bisa juga disebut kweecang selalu hadir disajikan. Kue lemper dengan bahan beras ketan berbalut bumbu serasa sedap untuk disantap. Namun lebih dari itu, WS Liem menyebut backcang memiliki makna tersendiri.

Makna dibalik Backcang

Lemper backcang yang bentuknya segi empat, secara simbolik mengandung makna bagi kehidupan. (1) sudut pertama, sebagai simbol manusia percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) sudut kedua mengisyaratkan agar manusia bersatu dengan sesama, (3) sudut ketiga, mengisyaratkan agar manusia dapat berbagi dengan sesama, dan (4) sudut empat, mengandung pesan agar manusia tetap rendah hati dan tidak sombong.

Bahan utama beras ketan, memiliki makna pentingnya rasa persatuan dan kesatuan. Ketan yang memiliki karakter khas, lengket, memberikan pelajaran bahwa manusia seyogiyanya dapat hidup sebagai perekat (antarsesama) dan bukan menjadi penyekat serta saling pisah. Apapun agama dan keyakinannya.

Berdiskusi kue lemper backcang menyeret saya pada suatu simpulan pada pentingnya merawat kerukunan umat beragama. Indonesia yang memiliki keragaman agama serta kepercayaan sangat rawan akan gesekan sosial berbalut agama. Sikap saling ejek, serta pembenaran pada keyakinan masing-masing sangat riskan terjadi. Maka simbol kue backcang dapat kita jadikan pelajaran penting dalam memupuk persaudaraan antar umat beragama.

Saya dan kita semua harus dapat memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan mengoyaknya, juga bukan memecah belah. Ragamnya agama “kita” adalah kekayaan nusantara.

Dan sejatinya, Tuhan telah menakdirkan untuk duduk bersama dalam kehidupan yang majemuk. Nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 telah mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara secara berdampingan, demi menggapai kesejahteraan serta kemajuan bangsa.

Taslim Syahlan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah

Related Articles

Back to top button