fbpx
Kabar IndonesiaTeknologi

Wow Satelit Satria Harapan Baru Digitalisasi Indonesia

ENERGIBANGSA.ID  (Jakarta)– Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan jika saat ini program digitalisasi bukanlah menjadi suatu pilihan lagi. Namun telah berubah menjadi kebutuhan dalam upaya untuk meningkatkan percepatan pemulihan perekonomian Indonesia.

Airlangga mengatakan ketersediaan infrastruktur digital menjadi prasyarat utama yang tidak dapat ditawar karena untuk mendukung proses digitalisasi. Terutama untuk di daerah terluar, terdepan dan tertinggal yang hingga saat ini belum terjangkau layanan digital.

Upaya Kemenkominfo yang menghadirkan infrastruktur digital melalui pembangunan Satelit Multifungsi Satria juga mendapat apresiasi dari Airlangga. Ia berharap proyek ini dapat mendu kung seluruh sektor pemerintah.

Satelit Multifungsi Satria merupakan sebuah satelit khusus internet yang memiliki harapan dapat memajukan digitalisasi yang merata di Indonesia.

airlangga hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Sumber: kabargolkar.com)

“Mulai dari sekarang harus disiapkan kesepakatan dengan para calon pengguna agar satelit ini dapat menopang untuk mendukung program-program pemerintah,” kata Airlangga dalam konfrensi virtual, Kamis (3/9/2020) dikutip tim energibangsa.id dari bisnis.com

Sekadar catatan, Satelit Multifungsi Satria diklaim sebagai satelit terbesar di Asia saat ini untuk kelas 150 Gbps dan nomor lima terbesar di dunia dari sisi kapasitas.

Baca Juga : Airlangga: Vaksin Corona Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

Kemenkominfo melalui Satelit Multifungsi Satria berusaha menghadirkan internet berkecepatan tinggi ke 149.000 titik daerah 3T termasuk perbatasan, yang meliputi sarana pendidikan atau sekolah sebanyak 93.900 titik, kantor pemerintah sebanyak 47.900 titik, Puskemas sebanyak 3.700 titik dan markas polisi dan TNI sebanyak 3.900 titik.

Satelit multifungsi Satria merupakan satelit khusus internet, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dalam megabit per detik (Mbps), terhitung akan lebih murah dibandingkan dengan menyewa satelit konvesional. Itulah sebabnya pemerintah rela mengucurkan dana sebesar Rp20,7 triliun yang dibayarkan menyicil selama 15 tahun. (tata/EB)

Related Articles

Back to top button