fbpx
Kabar Daerah

Ulama Bersama Akademisi di Jateng Jihad Melalui Medos? Simak yuk…

DEMAK, energibangsa.id –  Ganjar Pranowo bertemu dengan sejumlah ulama dan akademisi di Pondok Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak. Selain untuk silaturrahmi sekaligus untuk melawan gerakan dan paham radikalisme yang kini marak bertebaran di media sosial.

Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo, KH Munif Muhamad Zuhri mengatakan, seharusnya agama untuk menyejahterakan, mendamaikan dan menyatukan bangsa. Namun kenyataannya, justru dibuat ujung tombak untuk kepentingan pribadi, kelompok dan sebagainya.

Harapannya dengan adanya forum ini, bisa menjadikan agama sebagai payung bagi semua seperti semboyan rahmatan lil alamin. Sekarang banyak media sosial bukan menjadi ruang yang nyaman untuk berinteraksi. Melainkan, banyak isu yang memancing perpecahan sehingga menimbulkan keresahan.

KH Munif berharap, perguruan tinggi dan pesantren bisa menjadi kontrol sosial dengan memberikan solusi atas isu negatif yang bisa membawa perpecahan. Jika terjadi perpecahan maka yang menjadi korban pertama kali yaitu tetap rakyat.

Para ulama dan akademisi bisa turut andil dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan jihad di media sosial. Jihad dalam artian menyebarkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamain.

Perangi radikalisme

Wakil Rais Syuriah PWNU, Dr H Muhammad Adnan mengatakan, jihad tidak hanya berarti perang melainkan menanamkan nilai islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Bersama para ulama dan akademisi harapannya bisa memerangi paham radikalisme di media sosial.

Akademisi Unissula, Dr Jafar Shodiq mengatakan, ada kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda. Ada beberapa orang yang ingin mengubah proses ideologi bangsa namun dengan intoleransi dan radikalisme yang menggunakan media sosial.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo turut mengucapkan terima kasih kepada para ulama dan akademisi karena mereka berinisiatif untuk mendiskusikan tentang bangsa dan negara. Pemikiran dari ulama dan akademisi semoga bisa menjadi policy brief.

“Dengan cara yang nyaman, semua terselesaikan dalam bingkai NKRI, nilai-nilai pancasilanya tetap kuat. Ajaran yang diberikan kepada anak didik pun sehingga diharapkan, jika berhubungan dengan agama ada moderasinya. Jika berhubungan dengan komunikasi, mereka nyaman sesama anak bangsa,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Back to top button