fbpx
Essai

Tujuh Kebiasaan Menjadi Pribadi yang Lebih Matang di Tahun 2021

Oleh: Oktavia Ika Sari, Mahasiswa Psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata

ENERGIBANGSA.ID—Tak terasa tahun 2020 telah berganti, kini sudah seharusnya kita untuk berevolusi menjadi pribadi yang lebih matang di tahun 2021.

Melalui paradigma psikologi pertumbuhan oleh para tokoh Erick Fromm, Carl Rogers dan Gordon Allport terdapat tujuh kebiasaan positif yang bisa membantu kita untuk menjadi pribadi yang matang.

Tujuh kebiasaan

Pertama,“bersikap proaktif bukan reaktif”. Proaktif yaitu kekuatan, kebebasan, dan kemampuan untuk memilih respon sesuai dengan nilai.

Sedangkan reaktif adalah membiarkan suasana hati, perasaan dan keadaan untuk mengatur respon. Sikap reaktif ialah dimana ada stimulus seseorang tersebut akan langsung bertindak.

Sedangkan sikap proaktif ialah dimana seseorang mendapatkan stimulus dirinya akan mengambil waktu sejenak untuk berpikir mengenai keputusan yang akan diambil.

Sesuai dengan nilai-nilai yang tentunya mencakup kesadaran diri, imajinasi, hati nurani dan kehendak bebas, barulah kita memilih respon apa yang akan diberikan.

Membedakan bahasa reaktif dan proaktif ialah, bahasa reaktif seperti saya harus pergi, dia membuat saya begitu marah, tidak ada yang dapat saya lakukan, andaikan saja.

Sedangkan, bahasa proaktif seperti saya mau pergi, saya mengendalikan perasaan saya, mari kita jelajahi alternatif yang ada, saya dapat.

Stephen R.Covey menyebutkan bahwa bukan perbuatan orang terhadap kita yang dapat menyakiti kita. Pada dasarnya, respon yang kita pilih terhadap perbuatan mereka itulah yang menyakiti kita.

Kedua, mulai “menentukan tujuan akhir”. Beberapa pertanyaan yang wajib ditanyakan pada diri: apa yang membuat hidup anda penting? Apa yang membuat hidup anda menjadi bermakna? Apa yang anda ingin dan lakukan dengan hidup anda ?

Menentukan tujuan akhir membuat kita mengetahui kemana diri kita akan pergi, mengerti dimana posisi keberadaan kita sekarang.

Mengetahui apakah langkah-langkah yang sedang kita ambil berada pada arah yang benar. Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mulai menentukan tujuan akhir.

Ketiga, “put first thing first”. Setelah anda memiliki tujuan akhir, langkah berikutnya adalah mengutamakan hal utama dalam peran untuk mencapai tujuan akhir tersebut.

Kita sudah harus memilah mana kegiatan kita yang urgency (suatu aktivitas yang bagi anda atau orang lain tampaknya menuntut perhatian segera) dan mana yang importance (suatu aktivitas yang secara pribadi anda menganggapnya berharga, mendukung misi, nilai-nilai dan tujuan anda).

Banyak orang seolah super sibuk mengerjakan sesuatu yang ugent, ternyata tidak important. Maka dari itu agar kita bisa memilah perlunya membuat tabel jadwal yang efektif.

Saya akan memberikan contoh, ada seorang mahasiwa yang memiliki tujuan akhir cumlaude. Maka dirinya harus bisa mengatur waktu dimana belajar 70% mengikuti organisasi 15% dan rekreasi 15% perhari.

Jatah kita sama perhari adalah 24 jam, yang berbeda adalah cara kita menggunakannya. Saat kita sudah berhasil membuat jadwal yang efektif maka diperlukannya kedisiplinan dan sikap assertive dalam menjalankan jadwal yang telah kita buat.

Keempat, berpikir “menang-menang”. Hubungan yang sukses dibangun berdasarkan sikap menang-menang. Arti menang menang adalah upaya berani bukan selalu berbaik hati.

Cara terbaik menuju hubungan saling mendukung bukan selalu dicapai. Filsafat interaksi manusia yang didukung mentalitas kelimpahan (senyum, sentuhan, perhatian, waktu, solusi, harapan, pengetahuan dan keterampilan).

Dan bukan suatu teknik manipulatif, aturan interaksi yang berdasarkan karakter bukan pola pikir yang berdasarkan kepribadian.

Menang-menang akan berhasil apabila kita dan oranglain berusaha bersama, setuju, mencapai kesepakatan bersama, bukan menjatuhkan atau memberatkan salah satu pihak.

Kita harus menulis ulang naskah hidup kita utuk bisa berpikir menang-menang menjauhi menang-kalah, atau kalah-menang. Sebagai contoh di masa pandemi ini kita sering dirumah. Oleh karena itu diperlukannya kerja sama dalam membersihkan rumah.

Adik menginginkan tugasnya hanya menyapu saja dan tidak mencuci piring. Sedangkan kakak juga ingin mengepel saja namun tidak mencuci piring.

Agar terjadi menang-menang maka dibagi pagi hari yang mencuci piring adik dan malam hari yang mencuci piring kakak dengan kesepakatan bersama.

Kelima, “berusahalah untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti”. Terkait bagaimana cara kita untuk berelasi dengan orang lain secara efektif akan membentuk kepribadian yang matang.

Adapun kerangka acuan diri kita sendiri biasanya mengabaikan, berpura-pura, secara selektif, penuh perhatian, sedangkan acuan yang orang kita dengar adalah butuhnya rasa empatik.

Kita biasanya cenderung menyaring apa saja yang kita dengarkan melalui saringan masa lalu kita seperti menasihati, menyelidiki pernyataan dari kacamata kita, menafsirkan (menebak dan menjelaskan perilaku berdasarkan pengalaman kita), dan menilai.

Hal tersebut merupakan respon otobiografik, respon ini bisa menjadi efektif apabila sifatnya komunikasi lugas tanpa emosi.

Orang lain meminta bantuan, namun akan menjadi tidak efektif apabila sifat komunikasi emosional. Cuma ingin didengar, orang lain ingin menjelajahi perasaanya tanpa terancam.

Hal tersebut juga dipengaruhi nada suara yang kita gunakan sebesar 40%, kata-kata yang kita gunakan 7%, dan bahasa tubuh tanpa kita sadari berperan 53%.

Mendengarkan secara empatik yakni, apabila kita tidak yakin kita mengerti, memahami, memiliki komponen emosional yang kuat (ikut merasakan apa yang sedang dirasakan), menganggap permasalahannya penting.

Maka dari itu sebaikanya kita berespon empatik agar orang yang kita dengarkan merasa nyaman. Respon empatik seperti mengulangi kata demi kata, refleksi isi, refleksi perasaan, refleksi isi dan perasaan, tahu kapan untuk tidak merefleksikan apapun.

Keenam, “bersinergilah”. Sinergi adalah memanfaatkan perbedaan buka mentolerir perbedaan. Kerja sama bukan bekerja mandiri, keterbukaan pikiran bukan berpikir saya selalu benar, menemukan cara baru yang lebih baik bukannya kompromi dengan yang sudah ada.

Model sinergi ini apabila masalah atau peluang muncul, lihat pada kebiasaan 4,5,6 yang sudah kita lakukan barulah kita melihat alternatif kebiasaan ke 3 dan munculah hasil sinergi kita.

Mewujudkan sinergi adalah puncak keberhasilan dari semua kebiasaan. Saat kita mulai bersinergi maka kita akan dapat bertoleransi, menerima, menghargai bahkan merayakan suatu perbedaan.

Hal tersebut dinamakan kemenangkan public yang berarti keberhasilan dalam interaksi yang efektif yang memberikan manfaat bagi semua pihak.

Terakhir, “asahlah gergajimu”. Efektivitas adalah dimana kita bisa mencapai hasil yang diinginkan dan bisa kembali mencapainya berulang kali.

Efektivitas memerlukan keseimbangan produksi (hasil yang diinginkan) dan kemampuan produksi (aset yang dimiliki).

Aset yang dimiliki adalah diri yang meliputi fisik (olahraga, gizi, manajemen stress), mental (membaca, visualisasi, perencanaan, menulis), spiritual (klarifikasi nilai dan komitmen, doa dan meditasi), sosial dan emosional (EBA, pelayanan, empati, sinergi).

Sedangkan, hasil yang diinginkan adalah perusahaan meliputi fisik (efektivitas dalam bekerja), finansial (hasil dari kerja kita), manusia, teknologi.

Seimbangkah aktivitas produksi dan kemampuan produksi kalian ? Hidupilah 7 kebiasaan yang akan membentuk kepribadian yang mantang. Jadilah tokoh transisi, hiduplah sesuai misi, dahulukan yang utama, usahakanlah menang-menang, dengarkan orang lain terlebih dahuju, rayakanlah perbedaan dan asalah gergajimu. (*)

Related Articles

Back to top button