Sosial & Budaya

Tradisi Selametan: Makna dan Orientasi

ENERGIBANGSA.ID – Upacara tradisi selamatan (bahasa Jawa: slametan) bagi masyarakat Jawa seakan sudah menjadi pola kehidupan yang biasa dilaksanakan.

Walau hal tersebut mengalami sebuah pergeseran bahkan pertentangan. Pasalnya, telah terjadi sebuah perubahan dan pengaruh dari budaya luar.

Sejak manusia Jawa lahir sudah diperkenalkan dengan tradisi-tradisi selamatan. Mulai dari kelahiran (brokohan, sepasaran, piton-piton, selapan, setahunan), anak-anak (tetakan/ khitanan), upacara perkawinan, masa kehamilan, sampai dengan kematian.

Mentradisi

Begitu pula dalam pola tradisi kehidupan masyarakat Jawa seperti pindah rumah, membuat rumah, tardisi bersih desa/nyadran, upacara-upacara di Keraton dan masih banyak lagi.

Hampir perilaku atau kegiatan yang akan dilakukan oleh masyarakat Jawa tidak lepas didahului dengan tradisi selamatan.

Selamatan yang biasa dilakukan oleh orang Jawa, merupakan adat yang tidak bisa dilepaskan dengan akar sejarah kepercayaan-kepercayaan yang pernah dianut oleh orang Jawa.

Akar sejarah

Aktivitas selamatan bertujuan untuk memperoleh keselamatan bagi pelakunya. Ada yang menyebut, pada mulanya bersumber dari kepercayaan animisme-dinamisme, kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang orang Jawa yang menganggap bahwa setiap benda itu punya roh dan kekuatan tertentu.

Dari kenyataan ini manusia pada awalnya merasa tidak berdaya. Kemudian meminta perlindungan kepada sesuatu yang memiliki kekuatan lebih, yang disebut dengan roh-roh dan kekuatan-kekuatan yang ada pada benda-benda tertentu.

Kegiatan yang berupa permohonan untuk suatu keselamatan itu kemudian disebut dengan “selamatan”.

Jika pada masa animisme-dinamisme disebut nama-nama roh dan kekuatan tertentu kemudian pada masa Hindu-Budha diganti dengan nama-nama dewa-dewi, dan setelah kedatangan Islam diganti dengan nama-nama Allah, Muhammad SAW, dan para keluarga Nabi serta para sahabatnya dan prinsip-prinsip Islam.

Makna selamatan

Ritus atau upacara yang sering dilakukan oleh orang Jawa yaitu slametan. Slametan dapat didefinisikan sebagai sebuah ritus yang dijalankan untuk mengatakan kepada dunia semesta Jawa bahwa kita slamet atau berada dalam kondisi yang diharapkan.

Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk.

Filosofi Jawa mengartikan slamet sebagai suatu keadaan pas. Dalam keadaan pas tersebut, tempat dan waktu bertemu dalam suatu posisi keselarasan sempurna, sehingga terlihatlah semua slamet. Hal ini yang kemudian mendasari slametan diadakan.

Upacara memang diadakan agar orang dapat keluar dari situasi yang dianggap buruk dengan memberikan sajian atau korban.

Orang Jawa pun mengadakan slametan karena mereka berada dalam kondisi slamet, yaitu sebagai bentuk ucapan syukur atas keadaan slamet.

Prinsip dasar slametan adalah berbagi kebahagiaan dengan masyarakat.

Pendefinisian masyarakat bagi orang Jawa bisa jadi keluarga besar, tetangga, teman dan sebagainya. Tidak ada pengategorian berdasarkan kelas, etnik, agama, pendidikan atau umur. “keadaan slamet” merupakan satu-satunya nilai yang mengikat mereka.

Realisasi slametan

Orang-orang yang diundang duduk di atas tikar di hadapan hidangan yang telah disiapkan para perempuan sebelumnya, lalu mereka berdoa bersama.

Hidangan selalu terdiri dari nasi yang dibentul menjadi gunungan yang dikelilingi berbagai macam makanan lainnya atau disebut dengan tumpeng.

Setelah berdoa, semua orang menyantap jamuan tumpeng dan kemudian pulang dengan membawa sisa tumpeng yang disebut berkat,dan membawa pulang pula besekan.

Masakan yang sama yang disiapkan sebelumnya dibungkus besek atau kardus karton. Membawa pulang berkat dan besekan merupakan lambang keadaan berbagi. (ara/ EB)

Related Articles

Back to top button