EssaiOpini / GagasanReligius

The Santri Vs Hayya, The Power of Love 2, Mana yang Lebih Religius?

Oleh: Ahmad Rifki Hidayat

Tahun ini, bulan September serasa spesial. Apa sebab? Karena kemunculan The Santri membuatku lupa dengan siklus tahunan, isu kebangkitan PKI. Ups, keceplosan. Maybe it’s because belum ngopi nih. Hehe…

Kita ketahui bahwa efek dari minum kopi pikiran jadi lebih cerdas lantaran kopi memberikan efek kejut pada otak atau memberi rangsangan untuk berpikir dan tak mudah ngantuk. Ilmiah atau tidak? Yang jelas kita sepakati dulu soal kopi ini. Ok, baiklah kita siapkan dulu secangkir kopi yang hangat. Oh iya camilan juga perlu, guys

Secangkir kopi akan menemani kita bernostalgila, eits, bernostalgia pada 5-10 tahun belakangan ini yang mana kita selalu ribut akan isu kebangkitan PKI, terutama kalau menjelang Pilpres.

Agaknya, kali ini PKI sudah tidak bisa dijadikan momok lagi, atau mungkin sudah tidak laku karena pasaran ekonomi belakangan ini mengedepankan ekonomi kaum proletar, eh maksudnya ekonomi kerakyatan. Atau mungkin, santri memang memiliki kharisma tersendiri sehingga film The Santri mematahkan eksistensi isu tahunan tersebut.

Next, kita perhatikan pada film yang dipromosikan oleh para pengasong bendera khilafah, Hayya The Power of Love 2. Sebuah sekuel film yang berbeda dari sebelumnya. Ini tergolong film yang unik.

Kok bisa?

Lha bagaimana tidak?

Sekuel pertamanya bertemakan cinta, keimanan dan kemanusiaan dengan latar belakang demo politik. Di dalamnya juga mengandung unsur religi yang tinggi, kata mereka. Seorang yang demi agama dan negaranya, mengawal fatwa Majles Ulama Indonesia harus berjuang sampai melaksanakan salat Jumat di Monas.

Padahal, tidak ada satu pun perawi hadis yang meriwayatkan dalil yang menerangkan Nabi Muhammad memperbolehkan salat Jumat di Monas, eh, maksudnya salat Jumat selain di masjid. Sangat luar biasa bukan? Tak perlu dibahas apakah mereka salat Jumat juga masih dalam kondisi suci atau sudah batal wudunya? Yang jelas itulah cerminan keberagamaan mereka. Kita patut bersyukur karena jutaan orang yang berkumpul di sana tidak kebelet mundur, eh mau “ke belakang” maksudnya. Gak kebayang deh, kalau sampai terjadi.

Sobat Energi juga perlu pahami bahwa film tersebut juga mengandung unsur cinta tanah air, katanya sih begitu. Kita iyakan saja dulu ya Sobat Energi. Buktinya, film yang mengangkat latar belakang atas reaksi ‘penistaan agama’ menjelang Pilgub DKI pada tahun 2016 juga muncul bendera negara lain sebagai atribut demonstrasi.

Hal ini pernah diberitakan oleh Suara, meskipun negara yang bersangkutan keberatan benderanya dibawa dalam aksi politik untuk melawan pemerintah Indonesia.

Selanjutnya, mari beralih pada The Power of Love 2, sekuel lanjutan dengan tema yang sama, yakni tentang cinta, keimanan dan kemanusiaan.

Sebuah film yang dipromosikan artis pengagum khilafah seperti yang meroket namanya setelah menjadi Ana Althafun Nisa dalam sebuah film. Ya maklumlah, kan Oki Setiana Dewi selaku executive producer film tersebut dan adiknya Ria Ricis sebagai artisnya. Jangan omong nepotisme dalam film, sebab keduanya memang berbakat dalam dunia akting, dan ukhuwah adalah faktor yang berbeda.

Let’s say about a message at the movie.

Seseorang yang berhijrah memang harus total cinta pada agama melebihi segalanya. Hal ini sebagai manifestasi keimanan di mana dirimu merasa bersalah atas dosamu yang telah lalu. Kamu harus menjadi lebih baik dan lebih religius, peduli pada sesama muslim. Jadi, meskipun saudaramu yang seiman di negara ini masih membutuhkan bantuan. Carilah sensasi lain, jadi relawan kemanusiaan ke Palestina.

Kalau Anda mampu, tirulah KH Yahya Staquf Cholil yang menyampaikan pesan perdamaian dalam naskah pidato yang dibacakan dalam forum Israel Council on Foreign Relations. Pidato dukungan untuk Palestina tersebut dibacakan lantaran sebelumnya ditolak di forum American Jewish Committee (AJC) di Yerusalem.

Kata Gus Yahya pidatonya urung dibacakan karena panitia tidak menyukai materi yang disiapkannya. Maka, format acara diubah menjadi dialog agar panitia bisa mengontrol materi. Perihal ini bisa sobat energi baca di sini atau searching tentang hal tersebut di google.

Nah, itulah pentingnya persaudaraan sesama umat Islam. Harus diperjuangkan meski mendapat hujatan dan tentangan. Lalu bagaimana dengan The Santri? Maaf sobat, kopi ini keburu dingin. More words can I say.

Jadi, saksikan saja di bioskop kesayangan Anda tentang bagaimana kehidupan umat Islam dalam menyikapi perbedaan agama di sebuah negara. I think it’s better than we talk.

Related Articles

Back to top button