EssaiReligius

Ternyata Santri Jadi Wapres RI Bukan Hanya KH Ma’ruf Amin

Oleh: Ahmad Rifki Hidayat

Kalangan kaum sarungan atau santri yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia bukan hanya KH Ma’ruf Amin. Lho, kok bisa? Bukankah saat ini yang terpilih sebagai Wapres dalam pesta demokrasi pemilihan presiden belum lama ini adalah KH Ma’ruf Amin. Apa mau bikin Wapres sendiri?

Lho… Sabar, guys. Apa emang ada wapres yang santri sebelumnya? Penasaran?

Begini Sobat Energi. Ini memang bukan bualan, dan bukan pula mengada-ada. Tapi fakta lain dari sejarah. Memang benar sosok KH Ma’ruf Amin saat dipilih sebagai Cawapres mendamping Joko Widodo berposisi sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI). Fakta ini memang menegaskan beliau sebagai santri yang sudah menjadi kiai. Nah, terus siapa yang dimaksud santri sebagai Wapres lain?

Begini guys, ini pengalaman penulis saat wawancara dengan almarhum Dr. Drs. KH Chabib Thoha MA. Sebenarnya saat itu hanya untuk kepentingan menulis skripsi tentang tasawuf atau tarekat. Data ini tak dapat tersajikan dalam skripsi, karena itu penulis setelah mengingat, menimbang, dan seterusnya kemudian menetapkan dan memutuskan agar data ini tidak sia-sia, maka penulis sajikan dalam bentuk artikel bebas. Cieleh.. kayak naskah konsideran surat pengesahan nih.

Nah, sebagai sekretaris dari Idarah Ulya (istilah untuk pengurus di tingkat pusat) Jamiyyah Ahlut Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) mendampingi Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, pengalaman Chabib Thoha berkeliling ke banyak daerah mengungkapkan hal tersebut.

Dosen yang pernah menjabat Kepala Kanwil Kemenag Jateng tersebut mengatakan sebuah fakta lain dari sejarah bangsa Indonesia. Dijelaskannya, santri memegang peranan penting dalam kemerdekaan. Bukan hanya dalam Laskar Hizbullah yang melegenda, tapi juga mendampingi Bung Karno dalam proklamasi kemerdekaan yang selanjutnya dipercaya menempati posisi sebagai Wapres RI pertama, dialah Dr. Moh Hatta.

Kala itu, kepada penulis Chabib Thoha menuturkan bahwa ayah Bung Hatta adalah seorang mursyid tarekat. Tak hanya itu, Bung Hatta juga santri tarekat. Namun, pimpinan dalam tarekat twrsebut bukan Bung Hatta yang melanjutkan, melainkan pamannya.

“Anda juga harus bertarekat. Man laisa lahu wirdun fa huwa (ka) kirdun ‘orang yang tidak memiliki wirid (baiat tarekat) itu (diibaratkan) seperti monyet,” pesannya pada penulis.

Karena itu, Chabib Thoha juga sering mengingatkan hal itu pada para santri yang ditemuinya untuk segera berbaiat. Nah, apakah Sobat Energi sudah berbaiat? Maksudnya bukan baiat pada khalifah untuk mendirikan negara Islam guys, tapi berbaiat tarekat pada mursyid tarekat. Mari kita berdoa, melangitkan pengharapan, siapa tahu, nanti ada sobat energi yang tergolong santri tarekat penerus perjuangan bangsa ini seperti Bung Hatta.

Back to the fact. Ungkapan Chabib Thoha adalah fakta lain dari sebuah sejarah santri dalam peran kehidupan berbangsa dan bernegara. Bung Hatta dalam tindakannya mengajarkan bahwa negara ini sah, dan tidak perlu berubah menjadi negara Islam. Eufemisme dengan istilah NKRI bersyariah karena malu-malu kucing untuk menegaskan dukungan pada khilafah juga tak perlu. Tak diwacanakan ataupun direalisasikan Bung Hatta pada waktu itu.

Nah, kalau seorang ahli tarekat menjadi Wapres RI pertama, maka sistem pemerintahan ini jelqs sudah mendapatkan rida dari para ulama. Karena itu, ribut-ribut sistem negara Indonesia yang dinilai kafir dan bughot oleh para pengasong khilafah itu sebenarnya sudah usang. Mari kita nikmati karunia Tuhan YME berupa negara yang multi kultural ini. Bersyukur hidup damai dalam NKRI yang kaya budaya, suku, etnis, dengan berbagai perbedaan agamanya.

Related Articles

Back to top button