fbpx
Pendidikan

Terkendala Belajar, Guru Minta Program Belajar Masuk TV Swasta

ENERGIBANGSA ID (Semarang) – Dilansir dari berita Antara (30/8), Serikat guru meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menambah program Belajar di Rumah (BdR) di TVRI maupun televisi swasta.

Ilustrasi (sumber: istimewa)

Hal ini dilakukan untuk menyiasati kendala belajar bagi anak yang tak punya gawai dan tak mendapat bantuan kuota internet dari pemerintah.

“Misalnya dengan menambah durasi pembelajaran [di TVRI], bisa juga dengan memperluas cakupan per sesi pembelajaran,” ungkap Masur Sipinathe dari Serikat Guru Mataram melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/8).

Pada program BdR di TVRI sekarang ini, satu sesi tayangan diperuntukan bagi siswa tiga jenjang kelas sekaligus. Misalnya program setiap pukul 08.30 menayangkan materi untuk siswa kelas 1 sampai 3 SD.

Menurut Masur, konten pada program BdR mestinya dikembangkan supaya bisa mencakup materi per jenjang kelas sesuai kurikulum. Terlebih, BdR sudah berjalan hampir enam bulan.

“Kelas 1 sampai 3 SD dibuat satu sesi atau satu Kompetensi Dasar (KD) pembelajaran. Padahal belum tentu sesuai dengan kurikulum formalnya. Jadi seharusnya KD pembelajaran bisa disesuaikan dengan kurikulum,” lanjutnya.

Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyarankan Kemendikbud menggandeng stasiun TV swasta untuk merealisasikan hal tersebut.

Dengan begitu, katanya, siswa yang tidak memiliki akses belajar daring di seluruh jenjang pendidikan bisa mengikuti pembelajaran dengan jadwal belajar yang normal di pagi hari.

“Kerja sama dengan TV swasta menjadi kebutuhan karena sinyal TVRI juga ternyata tidak dapat diterima dengan baik di sejumlah daerah”, katanya.

“Namun, TV swasta lain malah sinyalnya diterima dengan kuat di daerah tertentu. Ini bisa melengkapi, bisa didahului dengan pendataan, sehingga tepat sasaran dan tepat kebutuhan,” tambahnya.

Guru SMP Negeri 2 (Satu Atap) Bandungan Kabupaten Semarang, Anjaryadi juga menuturkan persoalan siswa secara lebih kompleks.

“Ada (siswa) yang terkendala tidak memiliki HP, dimana dalam satu keluarga hanya memiliki 1 HP, milik ayah yang kadang saat pagi hingga sore dibawa untuk kerja”, jelas Anjar.

“Ada pula yang terkendala HP tidak support untuk menginstal aplikasi google classroom yang digunakan untuk pembelajaran”, paparnya.

“Dan ada juga anak yang terkendala kehabisan kuota karena digunakan untuk belajar bersama saudara. Bahkan untuk mengikuti pembelajaran maupun mengumpulkan tugas harus bergantian”, imbuhnya.

Anjar menyebut, jika program belajar masuk televisi swasta besar. Kemungkinan bisa menjadi salah satu solusi pembelajaran selama belajar daring dari rumah.

“Ini bisa dijadikan salah satu solusi pembelajaran dari rumah. Karena beberapa tempat tinggal anak-anak justru kadang tidak bisa menampilkan siaran TVRI”, pungkasnya (dd/EB).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button