fbpx
Nasional

Setujukah Nuklir Dikembangkan di Indonesia?

SEMARANG, energibangsa.id—Indonesia tengah mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% pada 2025 dan 31% pada 2050 mendatang.

Namun seperti ditulis CNBC, Selasa (9/3/2021), capaian sampai dengan 2020 baru sebesar 11,5% atau baru separuh dari target di 2025 mendatang.

Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan, dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) untuk sektor pembangkit listrik disebutkan sumber EBT berasal dari panas bumi, air, bio energi, solar, bayu, dan EBT lainnya.

Dari sumber energi EBT lainnya disebutkan bahwa tambahan kapasitas sampai dengan 2050 dibutuhkan sebesar 6,1 giga watt (GW).

Sayangnya, jenis EBT lainnya ini belum disebutkan secara rinci.

Teknologi nuklir paling siap!

Tapi menurutnya, nuklir bisa menjadi pertimbangan untuk dimasukkan ke dalam jenis EBT lainnya ini karena secara teknologi, tenaga nuklir memiliki teknologi paling siap.

“Saya mau sampaikan ada porsi EBT lainnya, ada 6,1 GW. Energi baru ini menurut saya, teknologi saat ini nuklir lah yang paling siap,” paparnya dalam webinar ‘A Place for Nuclear Energy in the Indonesian Energy Mix’ diselenggarakan Katadata, Selasa (09/03/2021).

Dia menilai, pemanfaatan energi nuklir tidak harus menunggu semua energi habis. Namun bisa dipertimbangkan dengan kajian yang mendalam.

“Pemenuhan kebutuhan energi yang terus meningkat dan emisi karbon, energi nuklir bisa dimanfaatkan, standar keamanan tinggi bisa jadi pertimbangan,” jelasnya.

Di Indonesia, pemanfaatan energi nuklir masih menuai pro kontra di kalangan masyarakat.

Karena berkaca dari negara lain, pemanfaatan energi nuklir pernah mengalami kecelakaan.

Dia menjelaskan dari sisi teknis Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sudah mengalami perkembangan.

Dari mulanya generasi 1, lalu berkembang ke generasi 2. Generasi 2 kini sudah banyak dioperasikan di beberapa negara.

“Generasi 3 dibangun awal 2000-an, yang masuk generasi 3 desain keselamatan lebih pasif. Fukushima belum dengan keamanan pasif. Ke depan, generasi 4 tahun 2030 ke atas, penelitian sudah ada sekarang,” jelasnya. (*)

Related Articles

Back to top button