EssaiPendidikan

Tatanan Sekolah Yang Baru

ENERGIBANGSA.ID – Situasi di tengah pandemi memberi dua efek bagi dunia pendidikan. Efek positif dan negatif. Kok bisa? Terus harus ngapain donk? Rebahan gitu? Atau demo besar-besaran? Ya enggak gitu jugalah.

Tatanan Sekolah Yang Baru? betul, saat kondisi seperti banyak yang mempertanyakan tentang “masalah-masalah” tentang bagaimana nanti sekolah saat kondisi seperti ini? Nanti masuk sekolahnya seminggu sekali? Masak sekolah pakai gadget mulu? Kan enggak ketemu gurunya juga? Emang kita harus bayar sekolah? Kan enggak masuk ? cuman tugas-tugas dan tugas?terus nyari muridnya gimana?

Lembaga pendidikan formal alias sekolah mulai resah dengan hal-hal seperti itu (enggak ngaku ya udah :p). Ada yang panik jika nantinya tidak dapat murid, ada juga dari kalangan guru yang mulai “sambat” jika nantinya mereka tak dibayar karena jarang masuk kelas dikarenakan pandemi seperti ini. Bahkan ada yang bingung tentang plus minus sekolah online atau online class.

Di sini kita semua belajar bahwa “tatanan sekolah yang baru” itu penting. Dari segi metode pembelajaran, model pembelajaran bahkan kerja sama dalam hal kebijakan pendidikan. Ini adalah PR bagi dunia pendidikan terutama pendidikan formal, agar tidak hanya mengajarkan ilmu, membagikan ijasah, nyinyirin siswa, kepo rumah tangga siswa, nyinyirin guru yang enggak sepaham, bahkan mendidik hanya untuk “duit”.

Tentunya dunia pendidikan terutama jalur pendidikan formal harus benar-benar melakukan usaha yang ekstra keras dalam hal identifikasi kebutuhan belajar, penyiapan kompetensi hingga pembentukan moral. Jika memang tidak mau berbenah mungkin saja di masa-masa yang akan mendatang pendidikan formal alias sekolah terkesan “tidak penting” atau hilang ditelan bumi.

Why? Karena jalur dunia pendidikan nonformal maupun informal seperti PKBM (Pusat kegiatan belajar masyarakat), pondok pesantren yang terintegrasi dengan PKBM, homeschooling, maupun kursus/pelatihan sudah unggul dalam hal asesmen kebutuhan belajar, penyiapan materi hingga kompetensi bagi warga belajarnya. Kok Bisa?

Coba liat saja pada homeschooling yang benar-benar tergarap dengan baik, sudah siap-siap sejak dulu kan? Terus PKBM, tentunya lebih siap dari jaman dahulu kala sebelum era pandemi seperti ini. Karena PKBM sudah menerapkan pendidikan jarak jauh sejak dulu, penugasan mandiri hingga persiapan kompetensi mandiri.

Bahkan pondok pesantren juga tak mau ketinggalan, sekarang pun pondok pesantren menjalin kerja sama dengan PKBM untuk memberi bekal pada santri-santrinya agar tak hanya hebat dalam ilmu agama tapi juga keterampilan khusus. Seminggu sekali atau 2 kali dalam seminggu para santri belajar keterampilan di PKBM, selanjutnya pada hari lain mereka ngaji di pondok.

So, ini PR bagi dunia pendidikan terutama formal yang mungkin akan memiliki banyak terobosan baru. Kalau enggak? Ya terserah, toh bukan urusan saya juga hehehe

Ary Senpai, M.Ag, (Pemerhati Pendidikan Milenial-Graphic Designer-Calon Kepsek / Wali Kota )

Related Articles

Back to top button