fbpx
Kabar Daerah

Tantangan Petani Tembakau Makin Berat, APTI Dorong Pemerintah Optimalkan DBHCHT

TEMANGGUNG, energibangsa.id – Tantangan organisasi dan sektor pertembakauan akan semakin berat. Beban petani tembakau sangat berat lantaran disaat pandemi, cukai naik hingga 23 peren dan harga jual eceran rokok naik menjadi 35 persen.

Dilansir dari Antara, Rabu (23/12), dengan adanya kebijakan tersebut maka sangat memberakan bagi industri hasil tembakau terutama industri menengah dan kecil. Hingga saat ini lebih dari 100 perusahaan rokok skala menengah kecil tidak bisa beroperasi karena dampak Covid-19.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menjadi wadah untuk bisa memajukan dunia tembakau di wilayah Temanggung, Magelang, Wonosobo dan Kendal. Maka di hari itu lah, DPC APTI dillantik kepengurusan barunya.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTI, Soeseno mengatakan, kondsi ini berimbas pada petani tembakau. Serapan tembakau dan hasil dari tembakau kurang baik, ditambah lagi harga tembakau juga naik sehingga tahun ini merupakan tahun berat bagi petani tembakau.

“Oleh karena itu dengan penyegaran organisasi ini nanti kita harus menghadapi tantangan itu bersama-sama suapaya beban itu kita pikirkan bersama,” ungkapnya.

Tantangan makin berat

Harapannya dengan adanaya pelantikan pengurus baru, semua anggota bisa menghadapi tantangan tersebut bersama-sama. Tantangan ini dinilai belum seberapa karena PRJMN terus menghendaki untuk menaikkan cukai. Belum lagi tantangan terkait anti tembakau.

Maka dari itu, Soeseno meminta pengurus APTI bisa bekerja lebih giat dan bersemangat. Memperkuat organisasi dan memperkuat sinergitas dengan semua pihak.

Peran pemerintah juga diharapkan bisa turut serta unutuk membantu sektor pertembakauan dalam Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan mendorong implementasinya.

“Rencana Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan memberikan DBHCHT alias cukai rokok sebanyak 50 persen. Untuk kesejahteraan petani tembakau dan buruh pabrik rokok patut diapresiasi,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Back to top button