Kabar Indonesia

Tanggapan Rektor Unnes Soal Wacana Rektor Luar Negeri

ENERGIBANGSA.ID — Diberitakan sebelumnya, Menristekdikti, M Nasir bicara soal rencana mendatangkan rektor dari luar negeri untuk menjadi rektor di Indonesia. 

Hal ini berkaitan dengan keinginan Presiden Joko Widodo berencana membuka rekruitmen rektor dari luar negeri untuk memimpin perguruan tinggi di Indonesia.

Menristekdikti menyebutkan didatangkannya rektor dari luar negeri itu untuk mengembangkan pendidikan di perguruan tinggi.

Selain itu dengan adanya rektor dari luar negeri, bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM di kampus. 

Ia mencontohkan beberapa negara yang berhasil menerapkan itu.

“Kita belajar, Singapura maju karena rektor dari luar negeri, Taiwan maju karena rektor dari luar negeri, China maju karena rektor dari luar negeri. Bahkan Arab yang 800 tidak masuk, sekarang rektor dari Amerika 40 persen, Amerika dan Eropa, sekarang masuk 189. Ini jadi tantangan, maka canangkan tahun 2020 bagaimana rektor ada dari perguruan tinggi asing. Akan saya petakan lagi,” kata M Nasir, Senin (22/7) lalu.

Namun rencana yang diusulkan M Nasir sejak tahun 2016 ini mendapat penolakan dari berbagai pihak.

Melihat hal tersebut Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), M. Fathur Rokhman turut memberikan komentarnya

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), M. Fathur Rokhman saat memberikan jawaban atas pertanyaan jurnalis. (dok detik.com)

Rektor Unnes ini menganggap rencana mendatangkan rektor dari luar negeri sebagai shock therapy. 

Menurutnya hal itu bisa memicu para rektor lokal meningkatkan standar pendidikan di kampusnya.

“Ini shock therapy bagi perguruan tinggi negeri agar punya daya saing mendunia. Bagi para rektor ini jadi ada sebuah tantangan,” kata Fathur di Unnes, Rabu (24/7/2019).

Jika nantinya rencana itu benar diterapkan, lanjut Fathur, maka kemungkinan hanya untuk Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). 

“Kalau yang belum PTNBH harus urus remunerasi, bisa tidak betah nanti,” ujarnya, disitir energibangsa.id dari detik.com

“(Misalnya) kalau ada satu (kampus) saja misalkan UI (menerima rektor impor), itu luar biasa. Akan mendongkrak, kita belajar dari sana,” pungkas Fathur.

Meski mendapat banyak penolakan, rencana mendatangkan dosen dan rektor dari Luar negeri sebenarnya juga mempunyai sisi positif.

Selain mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di kampus, dengan adanya tenaga dari luar negeri di bidang pendidikan di Tanah air maka diharapkan dapat terjadi kerjasama yang dapat menguntungkan Universitas, khususnya kampus-kampus negeri di Indonesia.

Related Articles

Back to top button