fbpx
Essai

Tamparan Surat An-Nisa (3) Bagi Pegiat Poligami

Oleh: Muhammad Fathurrahman, Mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) — Poligami seakan menjadi salah satu kegiatan yang sudah familiar di telinga kita. Bahkan, kita pernah dihebohkan fenomena seorang anggota dewan (DPR) yang datang ke sebuah acara resmi bersama tiga orang istrinya. Cukup ‘keren’, rupanya!

Ilustrasi poligami (sumber: penasantri.id)

Ada lagi ! Kisah asmaranya Syeh Puji dan masih banyak yang lain. Tapi sayangnya kegiatan poligami pada era sekarang ini sebagian sudah mengalami pergeseran dengan kasus poligami di era kenabian. Selain itu poligami yang sejatinya dapat mengayomi karena ada standar ‘adil’, justru sebaliknya. Gawat!

Jika berkaca pada hasil riset LBH Apik, terdapat 107 responden (poligami) menyatakan bahwa ada 37 pasangannya yang tidak dinafkahi, 23 ditelantarkan, 7 mengalami penganiayaan fisik, 21 mengalami depresi, 11 pisah ranjang, 2 mendapat teror dari istri tua, dan 6 reponden di ceraikan.

Dari kacamata Islam

Pelaku poligami seyogiyanya berkaca pada dalil Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 3 (sebagai hujjah atau dalil). Pada dasarnya teks Al-Qur’an itu bersifat polisemik (terbuka) untuk dibaca dengan berbagai variasi.

Namun membaca teks Al-Qur’an dengan berbagai sudut padang memang perlu dilakukan, seperti pemahaman teks Al-Qur’an dari segi historis (sebab turunnya). Hal ini menjadi penting karena ayat Al-Qur’an ini diturunkan sebagai panduan atau jawaban kontekstual dalam berbagai masalah aktual.

Tetapi, pemahaman melalui satu sudut pandang (tekstual) dan klaim sepihak sering mewarnai praktik spiritual masyarakat, sehingga sebagian substansi dari ayat tertentu seolah tidak terlihat.

Jika dilihat lebih dalam, ayat ini memberikan informasi mengenai pembatasan sekaligus teguran bagi kaum jahiliyah (Arab) yang memiliki istri lebih dari empat, bukan malah sebaliknya.

Selain pembatasan jumlah istri, ayat ini juga memberikan informasi mengenai kesejahteraan (manajemen harta) anak yatim dan larangan bagi wali asuh untuk berbuat aniaya, yang sebetulnya itu semua merupakan salah satu poin penting dalam ayat ini.

Dalam hal ini ada beberapa ayat yang saling berkaitan, dimulai dari surah An-Nisa ayat 2 yaitu:

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim yang sudah mencapai masa (baligh) harta-harta mereka, dan janganlah sekali-kali kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan jangan pula kamu memakan harta anak yatim bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan tersebut adalah dosa besar ”.(Qs. An Nisa: 2).

Dalam ayat tersebut sudah jelas menerangkan larangan bagi seorang wali anak yatim untuk berbuat zalim, dengan berlaku tidak adil dan memakan harta anak yatim yang diasuhnya.

Hal ini dapat kita lihat bahwa peran Islam dalam mengajarkan perilaku adil, kasih sayang, tanggung jawab, dan memikirkan kesejahteraan anak yatim maupun piatu sangatlah besar.Pembahasan ini berlanjut pada surah An-Nisa ayat 3 yang menjadi pelengkap dari ayat sebelumnya.

Dan jika kamu takut tidak bisa berlaku adil terhadap hak perempuan yatim yang kamu nikahi, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.

Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka kawinilah satu saja, atau budak-budak yang kamu punyai, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya “.(Qs. An Nisa: 3).

Dari makna ayat di atas ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik. Pertama, secara historis ayat ini turun untuk melarang para wali yatim yang tidak dapat berlaku adil untuk menikahi para yatim yang diasuhnya, karena mengincar harta yang berada dalam kuasanya.

Selanjutnya Islam memberi opsi untuk menikahi wanita lain, dua, tiga, atau empat, tapi lagi- lagi dengan catatan “adil”.Tapi jika tidak bisa, maka cukup satu saja!

Kedua, pada zaman dahulu banyak orang jahiliah menikah lebih dari empat, kemudian ayat ini turun untuk membatasi jumlah istri mereka, bukan malah menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk poligami.

Ketiga, pada penggalan ayat terakhir “yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya “, mengisyaratkan bahwa kegiatan monogami (tidak poligami) itu lebih berpotensi menghindari perbuatan aniaya.

Akan tetapi bukan berarti setiap poligami pasti terjadi aniaya, karena penggalan ayat itu masih mujmal. Penjelasan pada surah An-Nisa ayat 3 ini diperkuat lagi dengan surah An Nisa ayat 129.

Menurut Quray Sihab dalam ayat tersebut jika dicermati menggunakan ilmu nahwu ada huruf nafy berupa لن, yang menunjukkan makna (tidak sama sekali) atau dengan kata lain manusia tidak akan pernah bisa berbuat adil. (Quray Sihab, Tafsir Al-Misbah).

Hal tersebut karena sejatinya hati manusia itu memiliki kecenderungan ke satu titik (untuk lebih menyukai sesuatu yang ia sukai).

Ayat pada surah an-Nisa di atas dapat dijadikan tamparan keras bagi kita. Selaku manusia yang ulul albab seyogyanya bisa berpandangan lebih luas.

Karena sejatinya perintah Allah itu tidak ada yang bertentangan dengan kemaslahatan dan tidak membuat perpecahan atau aniaya(*).

Related Articles

Back to top button