EssaiOpini / Gagasan

Tak Beretika, “Tak Beragama”

Oleh: Ahmad Rifki Hidayat

Tak beretika sama halnya orang tersebut (seolah) tak memiliki agama. Sobat Energi perlu memahami hal ini bukan sebuah kerangka untuk menghakimi antum, lho. Melainkan sebuah simpulan ringan atau natijah dari ajaran agama, terutama Islam.

Do you know this hadis?

انّما بعثت لا تمم مكارم الاخلاق ?

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak.”

Ceileh, mulai pake dalil nih… kayak pak ustaz aja nih. You have to know, maqsud ana sih hanya sekedar mengingatkan bahwa Sang penerima wahyu, Nabi Muhammad SAW yang menegaskan latar belakang utama diutusnya sebagai Nabi.

Ok guys, di sini ana tidak akan membahas tentang posisi hadis tersebut sebagaimana para kiai kita di pesantren mengajarkan ulumul hadis, baik secara riwayah maupun dirayah. Akan tetapi, penulis memilih untuk mengambil sudut pandang kontemporer dalam mengambil pesan keilmuan yang ada dalam hadis tersebut dalam konteks kehidupan kebangsaan kita belakangan ini. Istilah kerennya sih, membaca yang tersirat dari sesuatu yang tersurat, atau apa ya… kurang lebih ya kayak gitu dah..

Sebelum kita berbicara tentang kehidupan kebangsaan saat ini, penulis akan mengajak pembaca untuk menilik sekilas tentang sejarah peradaban bangsa Arab sebelum Islam. Kelahiran Muhammad yang sangat dinantikan diwarnai oleh sebuah fenomena peradaban yang disebut “Zaman Jahiliyyah”. Kala itu, sastra Arab mengalami peningkatan pesat yang mungkin boleh dikata sebagai puncak kejayan sastra Arab. Antum pandai sastra Arab atau hanya mahir tereak takbir? Ups… back to laptop.

Penulis dalam hal ini hanya sedikit mengingatkan sejarah bangsa Arab saja, I’m sure, suwer-ewer-ewer deh, gak lebih kok.

Ok, next, di masa itu bangsa Arab sangat kagum dengan sastrawan dan keindahan syair. Pasar Ukaz adalah bukti sejarahnya. Perlu kita pahami bahwa Ukaz bukanlah sebuah pasar biasa, lebih dari itu menjadi tempat berkumpulnya para politikus untuk berunding, bersekutu, berjudi, mabuk dan juga tempat berkumpulnya para sastrawan kenamaan. Ringkasnya, Ukaz merupakan sebuah tempat yang mungkin lebih mirip event ekspo yang besar atau pekan raya.

Selain itu, di Pasar Ukaz, para penyair handal dari berbagai kabilah juga menyajikan syair dalam untaian musik yang lebih mudahnya mungkin bisa disebut sejenis nasyid. Tujuh syair terbaik akan digantungkan di dinding Ka’bah yang kala itu dipenuhi dengan berhala. Kata pak guru tarikh istilahnya sab’u mu’allaqat.

Ternyata, tak hanya sastra, orang Arab jahiliyah juga memiliki rasa malu dan harga diri yang tinggi. Bagaimana tidak? Mereka tidak bisa menerima jika salah seorang anggota keluarga dilecehkan. Aib yang diterima salah seorang anggota keluarga dianggap juga aib keluarga. Dampaknya, secara etika mereka lebih condong merendahkan orang lain.

Oleh karena itu, peperangan sering terjadi karena persoalan penghinaan. Kekalahan akan berakibat pada penghinaan, perbudakan, utamanya pada perempuan. Hal inilah yang membuat mereka memandang lemah perempuan dan memilih membunuh bayi perempuan sebagai antisipasi kekalahan dan penghinaan.

Dari kilasan tersebut bisa kita ambil sebuah simpulan, jahiliyyah bukan sebuah zaman kebodohan dari sisi pengetahuan. Sastra, politik, dan perang yang ada kala itu menujukkan era semacam ‘gengsi gede-gedean’ gitulah.

Oh iya, lets back to ethics. Kita langsung fokus pada etika Nabi, dalam hadis lain dijelaskan, النبي خلقه القران akhlak Nabi Muhammad adalah Alquran. Alquran juga disebut sebagai mukjizat Nabi yang tak dapat ditandingi oleh siapapun dari segi kasusastraan. Alquran mengajarkan sejarah tanpa spesifikasi waktunya karena berfungsi menuturkan kisah sebagai sebuah media pembelajaran. Alquran dan hadis tidak mengajarkan orang untuk menghujat, meremehkan orang lain. Ente suka menghujat?

Sure, are you moslem?

Sebagai contoh bisa kita ambil hikmah saat Allah mengingatkan Nabi Muhammad yang mengabaikan seorang yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) lantaran sedang berdakwah dengan orang yang berlevel tinggi atau para pembesar Quraisy dengan harapan bersedia masuk Islam. Allah mengajarkan untuk santun dan menghindari akhlak yang tak terpuji meski hanya sekedar bermuka masam dan memalingkan muka, lebih ringan atau bahkan yang lebih berat dari itu.

Karena itu, perlu kita refleksi kembali perilaku kita dalam media sosial dan fenomena kehidupan kebangsaan kita hari ini. Banyak pihak atau orang yang mengaku sebagai umat islam namun jauh dari spirit yang dibangun oleh islam. Alih-alih dapat menunjukkan kapasitas keilmuannya, yang terjadi hanyalah mentashih diri dengan menyalahkan dan bahkan mencela orang lain.

Energi bangsa ini sejatinya sangat potensial. Jadi harus dimanfaatkan untuk kejayaan bangsa dan negara. Kritik sih boleh, tapi kritik konstruktif dan sesuai saluran aspirasi. Kritik tepat, cerdas dan membangun gitulah maksudnya.

I think that all. Good night and have a nice dream.

Related Articles

Back to top button