fbpx
Ekonomi & Bisnis

Sumber Energi RI Macet Karena Membeli Listrik?

ENERGIBANGSA.ID – Produksi minyak dan gas bumi (migas) nampaknya memiliki opsi beberapa pembeli, berbeda dengan salah satu jenis energi baru terbarukan (EBT).

Hal ini berlaku juga untuk sektor energi listrik yang menganut monopsoni atau hanya punya pembeli tunggal yakni PT PLN (Persero).

Dengan pembeli tunggal oleh PLN, ini membuat calon investor di sektor panas bumi terbatas untuk menentukan harga jual listriknya.

Sehingga, harga listrik yang diinginkan pembeli, yakni PLN di bawah harga keekonomian proyek panas bumi.

Pada akhirnya, minat investor untuk mengembangkan panas bumi di Tanah Air juga memudar.

Menurut Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Priyandaru Effendi, dalam menjual listrik ke masyarakat, PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendapat tugas menyalurkan barang Public Service Obligation (PSO).

Alasan ini membuat PLN tidak bisa membeli listrik dari EBT sesuai keekonomian, termasuk panas bumi ketika masih ada listrik dari sumber pembangkit energi lainnya yang lebih murah.

Kondisi berbeda pada migas yang mana pembelian bisa didasarkan pada harga keekonomian karena pembelinya banyak dan harga disesuaikan dengan pasar.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang PLTP pada 2020 mencapai 2.130,7 MW, tidak berubah dari kapasitas terpasang pada 2019.

Pemerintah menargetkan adanya tambahan 196 MW PLTP beroperasi pada 2021 ini. Itu berarti total kapasitas terpasang PLTP hingga 2021 ini akan meningkat menjadi 2.326,7 MW.

Tidak adanya tambahan kapasitas PLTP pada 2020 ini juga tak terlepas dari batal beroperasinya tiga proyek panas bumi yang seharusnya beroperasi pada tahun lalu karena adanya pandemi Covid-19.

(Ara/ EB)

Related Articles

Back to top button