Essai

Sudah Era Boruto, Bukan Era Malin Kundang Lagi!

ENERGIBANGSA.ID – Suatu waktu (misal, ini fiksi ya wkwk) ada seorang guru bernama Lukman hakim selalu memberikan wejangan agar menjadi manusia yang baik hati, tidack sombong dan jangan durhaka seperti Malin Kundang.

Namun, para siswa hanya cengengesan saat mendengar wejangan tersebut.

Akan tetapi, ada guru lain yang bernama Ary Senpai selalu sharing nilai-nilai kemanusiaan yang dia ambil dari cerita-cerita anime seperti kerja keras ala Mas Rocklee temennya Naruto.

Bagaimana menjadi pribadi yang mencari visi ala Mas Boruto, bagaimana menjadi manusia yang enggak mageran agar tidak seperti Mas Lord Satou Kazuma, hingga bagaimana menjadi manusia yang pantang menyerah seperti Om Bakugo di anime My Hero Academia.

Saat Ary Senpai sharing nilai-nilai ala anime para siswa selalu mampu mengambil pelajaran dan secara tidak langsung menjadi Ary Senpai ini populer di kalangan para muridnya plus terkenal pula di sekolah-sekolah lain.

Bahkan banyak pula alumni yang masih sharing curcol ganas dengan Ary Senpai dengan branding dunia anime ala wibuniyah.

Apakah Lukman Hakim salah? Apakah Ary Senpai salah? Apakah Ary Senpai enggak orisinil?

Mereka berdua benar kok. Kok iso???

Lukman Hakim benar jika hal tersebut dijelaskan untuk para siswa angkatan zaman dulu alias di eranya.

Sedangkan Ary Senpai juga benar karena menyesuaikan zaman dalam memberi pelajaran.

Keduanya sama-sama orisinil jika disesuikan dengan zaman dan sasarannya.

Kok iso?

Sebuah nilai memiliki kebenaran yang relatif. Nilai suatu hal akan terus mengalami “hal-hal dinamis” karena kebutuhan manusia.
Kok iso? Yo iso lah.

Misal gini, nih.

Kita kembali lagi di masa lalu (tapi enggak mengingat mantan).

Era dulu banget sebelum kebudayaan Islam menyebar di Nusantara, masyarakat Nusantara sudah mengenal Wayang ala Hindu Budha sebagai alat edukasi.

Kemudian saat penyebaran agama Islam di Nusantara, Wayang dikemas dengan nuansa kebudayaan Islam sebagai alat edukasi.

Nah, lagi-lagi menyesuaikan kebutuhan yang ada, alias assessment kebutuhan.

Bisa jadi di era sekarang untuk para generasi Z kita mengedukasi juga gak selamanya mengambil dari nilai-nilai pewayangan tapi mengambil nilai-nilai dari cerita-cerita anime, budaya populer dan masih banyak lagi.

Kebutuhan era sekarang yang bisa disebut juga era Boruto ini sangat jelas berbeda dengan kebutuhan era jaman malin kundang.

Jadi dalam nilai-nilai yang ada jelas pula sangat berbeda karena standar nilai itu sangat dinamis.

Nah, ujung-ujungnya kembali lagi ke identifikasi atau assessment kebutuhan.

Semoga bermanfaat

Oleh : Ary Senpai
(Pengajar, Graphic Designer, penulis buku “Sekolah Membunuhmu” & Koordinator Lazis Baiturrahman Kab. Grobogan)

Related Articles

Back to top button