fbpx
Kabar Daerah

Sido Laras Semarang, Lestarikan Musik Gamelan Pada Era Kini

SEMARANG, energibangsa.id – Sebuah gerakan pelestarian budaya dilakukan oleh warga Jabungan, Banyumanik dengan mendirikan Kelompok Gamelan Jawa Sido Laras.

Bermodal iuran swadaya dan semangat, kelompok yang terdiri dari 25 orang tersebut berlatih secara intensif setiap harinya.

“Kami dulu iuran untuk beli alat gamelan. Tujuannya karena musik jawa bagian dari kebahagian dan identitas kami sebagai orang jawa,” kata pelatih kelompok Sido Laras, Sudarno

Meski sudah terhitung cukup lama namun minat masyarakat sendiri dalam bermain gamelan rupanya belum terwadahi dengan baik sejak tahun 2016, setelah ide terealisasikan barulah mereka membeli seperangkat gamelan Jawa dari Wonogiri.

Lalu dua tahun setelah itu barulah kelompok tersebut mendaftarkan dirinya ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

“Kami sebelum pandemi rutin latihan setiap Selasa dan Sabtu. Hasil latihan biasanya disalurkan melalui penampilan di  acara hajatan kampung maupun acara Agustusan,” ujarnya.

Darno menjelaskan, semangat kelompoknya untuk bermain gamelan lantaran prihatin terhadap fenomena di masyarakat yakni orang jawa namun tak mengenal kesenian jawa. 

Seni Jawa kian waktu makin ditinggalkan.  Musababnya, orang Jawa itu sendiri tak mau tahu atau acuh. 

Fenomena tersebut diperkuat semakin semaraknya di tengah masyarakat yang lebih memilih dangdutan daripada pertunjukan kesenian jawa. 

“Masyarakat banyak yang lebih memilih hiburan Campursari atau dangdut.  Menampilkan pertunjukan gamelan setiap hajatan bukan satu pilihan. Padahal secara finansial gamelan jauh di bawah biaya sewa campur sari dan dangdutan. Ini bukan menyoal materi, namun dukungan semangat memperkenalkan budaya Jawa ke generasi muda,” terangnya. 

Berbanding terbalik di luar negeri yang malah mendapat apresiasi lebih ketimbang di negaranya sendiri, bahkan sudah ada warga asing yang serius mendalami kesenian Jawa seperti musi gamelan dan Wayang Kulit.

Hanya 25 persen anak muda dari total keseluruhan di Indonesia yang terhitung menggemari musik gamelan yang didominasi oleh orang dewasa.

Upaya terus dilakukan kelompoknya untuk terus menularkan musik gamelan jawa berupa mengajarkan ke para anak SD untuk belajar gamelan tiap hari minggu.  Hal itu dilakukan sebelum pandemi.  Selama pandemi otomatis latihan tersebut diliburkan. 

“Sebenarnya potensi  semangat anak sekolah untuk bermain musik gamelan sangat besar. Namun hanya memang tak tersalurkan. Kami mencoba memawadahi hal itu kendati terkendala di alat,” jelasnya.

Di tengah semangat memperkenalkan budaya Jawa,ungkap dia, ternyata tak sebanding dengan kepedulian pihak Kelurahan setempat. Pasalnya selama empat tahun berdiri tak ada perhatian dari pihak kelurahan.

“Kami tak berharap banyak. Saat latihan ditengok saja itu sudah sangat senang.  Tetapi hal itu tak menyurutkan kami untuk terus bermain gamelan,” ujarnya.

Dia berharap, pandemi segera berakhir agar bisa lekas latihan dan tampil kembali. Meski hanya di tingkat lokal yakni di kampung namun hal itu menjadi sebuah kebahagiaan.

“Selama masa pandemi, kelompok musik gamelan kami tak dapat berlatih lantaran mematuhi protokol kesehatan,”. (Ozan/EB)

Related Articles

Back to top button