fbpx
EssaiKolom

Siapa Bilang Film TILIK Tidak Bermutu?

Oleh: Ikhwanus Sobirin

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) — Ini film gue banget, gaes. Secara, gue itu kan penggemar dunia ibu-ibu, yah. Film ini bermutu banget menurutku. Bikin orang ngakak tengah malam saat mantan habis nyakitin gue bertubi-tubi.

Mana kayak nggak ada teman gitu yah yang mau peduli ma gue, eh tiba-tiba nih film nyelip menghibur. Bikin orang lain seneng kan berpahala toh? Masak bikin dosa?

Film ini banyak sekali mengajarkan nilai-nilai positif! Antara lain:

Pertama, Obrolan heboh di atas truck nggak akan pernah terjadi jika Bu Sam, ibu-ibu gemuk berjilbab marun itu tidak memulai sebuah pertanyaan kepada Bu Tejo di sampingnya.

“Apa bener Fikri sama Dian itu pacaran?” Andai Bu Sam yang anu suaminya nggak bisa tegang itu nggak kepo urusan kehidupan Fikri, nggak mungkin Bu Tejo sampai senyocot itu di atas truck.

Jenis makhluk seperti Bu Sam sebenarnya jenis orang yang sangat berbahaya. Penampilannya datar, nggak terlalu menggebu ekspresinya, tetapi, sekali dia melempar umpan, buaya-buaya muara pun ikut keluar.

Kedua, Ghibah dan suudzon memang perilaku yang kurang baik. Tetapi, tak selamanya kita selalu menghakimi seperti itu.

Bu Tejo beberapa kali menegaskan; bahwa dia hanya ingin berjaga-jaga, jangan sampai ada wanita model Dian merusak rumah tangga orang di kampungnya.

Bu Tejo memiliki deep feeling yang kuat. Dia mengabarkan ke semua penumpang truck, bahwa perempuan lajang yang terlihat keluar masuk hotel, yah memang patut untuk dihindari.

Jadi, tak selamanya ghibah itu buruk. Dalam kasus tertentu, ghibah termasuk sarana memperluas informasi dan memperjuangkan kebenaran (filosofi Bu Tejo).

Ketiga, Juga dalam kasus Gotrek di-jewer istrinya di depan umum, gue kira sih yah masih wajar-wajar saja. Tindakan si istri menjewer suaminya itu bukan berarti si suami berada di bawah kekuasaan istri.

Melainkan hal tersebut lumrah-lumrah saja. Daripada nanti suaminya kecantol Dian di hotel, mending gue jewer aja sekarang. Mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Keempat, Adegan Bu Tejo mempertontonkan gelang dan cincinnya kepada ibu-ibu, merupakan bentuk sindiran kepada orang-orang yang mau maju jadi pemimpin tapi cuma ngandalin kekuatan harta doang.

Mau nyaleg cuma modal sembako demi mendulang suara. Padahal, bukti kinerja selama ini kepada masyarakat zonk! Nol putul.

Kelima, Gue yakin, tidak ada maksud Bu Sam melecehkan agama lantara dia bilang suaminya nggak bisa attahiyat.

Dari akting ini, kita harusnya malah belajar menjadi penganut agama yang supel, ramah, sejuk, bukan malah menjadi bensin yang mudah sekali terbakar. Santai aja kelesss.

Keenam, Ada satu tokoh yang menurutku patut diviralkan juga selain Bu Tejo. Yaitu Yuk Na. Dia ini jenis ibu-ibu yang lemah, pendiam, dan biasanya jadi bulan-bulanan bulli. Naik truck aja bisa sampai muntah-muntah begitu.

Lah, malah sama orang-orang digojloki “Oala Yuk Na, Yuk Na. Wong-wong podo ndelok padhang howoe dunyo kok malah muntah.” (Oala Yuk Na, Yuk Na, di saat semua orang pada menikmati gemerlapnya dunia, eh malah muntah).

Secarik ajaran filsuf pun gue tarik. Perilaku Yuk Na patut kita teladani. Yuk Na adalah tipekal manusia zuhud. Nggak tertarik sama keindahan dunia. Karena memang dunia ini kan memang fana dan sementara.

Ketujuh, “Mulakno Yu Niiing. Sregepo moco berita soko internet! Yo ora? Dadi lek dijak ngomong nyambung ngono loh,” kata Bu Tejo pada Yuk Ning sambil mulutnya mletot-mletot.

Dari part akting tersebut, di sini Yuk Ning seolah menutup mata dan telinga tentang kelakuan Dian selama ini.

Padahal, sudah jelas di Facebook, Dian itu berfoto berdempetan/bermesraan dengan seseorang yang kuduga benar suaminya Bu Lurah.

Yuk Ning dari adegan Yuk Na muntah-muntah hingga Bu Tejo kepoyo (ngompol-red) di pinggir sawah, Yuk Ning kekeh tetep membela si Dian.

Sikap Yuk Ning yang always positif thingking itu sebenarnya karena dia gaptek. Handphone-nya aja jadul bingit. Mana mungkin dia paham posting-postingan Dian di sosmed selama ini? Yo po ra?

“Keterbukaan informasi kadang lebih penting dari pada menutup diri dengan bermodal positif thingking.” (Filosofi Yuk Ning)

Kedelapan, Eh, ada satu lagi loh bu ibu. Yaitu sikap seorang wanita yang nggak perlu ditiru kelakuannya. Dia agak kurus badannya. Kalau nggak salah sih namanya itu Yuk Tri apa Bu Tri begitu, yah.

Posisi wanita yang satu ini ibaratnya tim hore, atau micin penguat rasa. Saat ada tetangga yang sedang gosip membicarakan perilaku buruk orang lain, orang jenis ini biasanya suka bilang begini; “He, iya, benar itu he! Betul itu hemm! Betul banget! Sumpah betul!”

Otomatis olahan gosip akan menjadi makin sedap dan tentu akan menjadi heboh dan menjadi sangat layak untuk diperbincangkan.

*Ikhwanus Sobirin, Keturunan Ken Arok yang ke-27. Pengamat masakan. Duta sinetron Indosiar. Suka nulis-nulis

Related Articles

Back to top button