fbpx
Nasional

Setahun Pandemi, Ini Sektor Paling Hancur Dihantam Corona, Simak Apa Saja?

SEMARANG, energibangsa.id—Selasa (2/3/2021) kemarin, tepat setahun sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengonfirmasi kasus Covid-19 pertama masuk Indonesia.

Dampaknya terasa hingga ke sisi ekonomi, di mana hingga kini kondisinya juga belum pulih total.

Masih banyak sektor-sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi RI yang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan usai dihantam pandemi.

Adapun sektor yang paling terdampak oleh pandemi  Covid-19 adalah sektor pariwisata seperti bisnis perhotelan hingga transportasi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menyebut bisnis perhotelan dan transportasi menjadi sektor paling parah.

Fenomena penjualan hotel secara murah, menurut Bhima, disebabkan pemilik tak sanggup lagi menanggung biaya operasional ditengah okupansi kamar yang rendah.

Ia menyatakan sektor industri pariwisata terutama perhotelan dan transportasi menjadi sektor yang paling lama pulih.

“Sektor pariwisata diperkirakan jadi sektor paling akhir yang pulih,” sebut Bhima, Selasa (2/3/2021).

2021: Sektor pariwisata masih terpuruk

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata tanah air masih dalam kondisi terpuruk dan belum bisa bangkit dari gempuran pandemi Covid-19.

Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tercatat hanya 141,3 ribu di Januari 2021.

Artinya telah terjadi penurunan 13,90% dibandingkan Desember 2020 dan turun lebih dalam yaitu 89,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Minimnya wisman yang berkunjung ke Indonesia pun berdampak pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang.

Di mana pada Januari 2021, tercatat di level 30,35 atau turun 10,44 poin dibandingkan bulan Desember 2020 dan turun 18,82 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor kuliner juga drop!

Selain sektor pariwisata, sektor kuliner atau makanan dan minuman (mamin) juga terdampak cukup parah.

Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, penyedia akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi juga rontok.

Hal itu karena aturan PSBB yang telah dijalankan pemerintah. Menurutnya, sektor ini akhirnya harus menyesuaikan dalam menjalankan usaha.

“Maka tidak heran, kedua sektor ini merupakan dua di antara sektor yang mengalami kontraksi pertumbuhan cukup dalam, akomodasi, makanan dan minuman secara tahunan terkontraksi -10,22%, sementara transportasi mengalami kontraksi hingga -15%,” ujar Yusuf Rendy Manilet.

Sektor-sektor itu bukan hanya pulih paling lambat namun juga sulit pulih secara optimal selama masih ada pandemi Covid-19.

“Yang pasti kedua sektor ini, ataupun sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata sulit pulih secara optimal ketika pandemi Covid-19 belum tertangani secara baik,” terangnya.

“Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan usaha dengan protokoler kesehatan yang ketat,” imbuhnya. (*)

Related Articles

Back to top button