fbpx
Sosial & Budaya

Seperti Ini Cara Penguasa Jawa Mengelola Air

ENERGIBANGSA.ID – Air merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan setiap makhluk di muka bumi ini.

Mengutip sejarawan, JJ Rizal, Purnawarman membuktikan itu dengan mengendalikan dan mengatur air untuk kesejahteraan rakyat. Jadi, air bukan penyebab musibah, melainkan anugerah.

Ada dugaan penguasa di Jawa Tengah menerapkan kebijakan serupa Purnawarman, melalui prasasti-prasasti di Jawa Timur yang terang menyebut adanya pengelolaan air.

Prasasti Harinjing, bertarikh 921, menyebut para kepala desa menggali sebuah saluran dan membangun sebuah tanggul (dawuhan) di salah satu anak Kali Konto.

Sementara, sistem irigasi dibangun di Kali Pikatan yang mengalir dari lereng-lereng gunung Welirang ke arah barat laut dan bermuara di Kali Brangkal, salah satu anak Sungai Brantas.

Prasasti Sarangan

Keterangan itu ada dalam Prasasti Sarangan yang berasal dari pemerintahan Mpu Sendok, raja pertama kerajaan Medang, pada 929.

“Menurut Prasasti Bakalan yang dibuat rakryan (pemimpin) dari Mangibil pada 934, daerah itu dikembangkan pada awal abad ke-10,” tulis Lombard.

Prasasti itu juga menyebut persawahan yang dirancang secara sistematis.

Disebutkan ada pembangunan tiga bendungan di kali-kali kecil yang mengalir dari Gunung Welirang.

Dibangun pula sebuah waduk besar berukuran 175 x 350 m dengan kapasitas menampung air hingga 350.000 m3.

Tiap musim hujan, material vulkanik dari pangkal kipas itu tercurah melalui sungai-sungai yang mengalir di pusat kerajaan.

Curah hujan itu membuat air sungai meluap sehingga banjir pun tak terelakkan.

Kurang-lebih 10 km ke utara pusat kerajaan, terbentang sungai Brantas. Daerah sekitar aliran sungai ini merupakan hamparan luas dataran banjir.

Penguasa Majapahit pun putar akal untuk mencegah banjir kian parah dan memanfaatkan air untuk kesejahteraan rakyat.

Upaya Majapahit dalam Prasasti Kandangan

Dalam rentang 1293-1500, penguasa Majapahit membangun sejumlah waduk, kolam buatan, kanal, saluran air kecil, bak air, dan sumur.

Keterangan itu antara lain termaktub dalam ‘Prasasti Kandangan’, bertarikh 1350. Salah satu pembangunan waduk yang terkenal itu adalah “Candi Tikus”. Jangan terkecoh dengan sebutan itu.

Disebut candi karena di tengah waduk itu berdiri candi. Fungsinya sebagai bendungan dan simbolisasi Gunung Meru yang mengucurkan air dari puncaknya.

Simbolisasi ini penting dan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa.

(ara)

Related Articles

Back to top button