Essai

Semua Tak Harus Sama

ENERGIBANGSA.ID – Pesan pertama saya adalah, “Jangan Jadi Pembunuh Bagi Anak-Anak Kita”. Berikut adalah ilustrasi sebuah kisah tentang Yuzuriha, seorang gadis yang sedjak kecil menyukai kerajinan tangan. Ia selalu mendapatkan penghargaan dari kreativitasnya tersebut.

Namun, ia harus rela bersabar karena “tuntutan” kuliah di jurusan Akuntansi hingga akhirnya bingung setelah lulus kuliah. Begitu pula dengan Tsukasa yang memiliki bakat beladiri harus mampu dituntut mahir dalam pelajaran Kimia di sekolahnya.

Selain itu Ryusui yang harusnya sekarang sudah menjadi manajer di sebuah perusahaan harus rela menjadi kondektur padahal bukan keinginannya, 3 tahun lalu Ryusui sudah diterima di perusahaan advertising, namun orangtuanya tak menyetujuinya dengan alasan advertising bukan pekerjaan yang jelas. Akhirnya Ryusui pun nganggur dan terpaksa jadi kondektur padahal bukan bidangnya.

Semua tak harus sama, ada orang yang bekerja dengan otaknya, ada pula yang bekerja dengan ototnya. Ada pula mereka yang bekerja dengan imajinasinya hingga mereka yang bekerja dengan lidahnya.

Semua tak harus sama, ada yang mereka bekerja pulang sore dengan bayaran tetap, ada pula yang hanya setengah hari di kantor kemudian mereka harus banting tulang lagi jualan cilok pada sorenya, ada juga mereka yang kerja berangkat pakai mobil, ada yang kerja pakai motor, bahkan ada pula yang bertahun-tahun bekerja belum bisa membeli kulkas sekalipun.

Semua tak harus sama. Terkadang kita, orangtua kita, guru-guru kita bahkan masyarakat bisa menjadi “pembunuh” bagi mereka yang sedang merintis karirnya. Orang yang sedang merintis karir di bidang kreativitas disindir enggak sukses, sudah bagus-bagus merintis dirinya agar bisa menjadi akuntan keren eh malah dipaksa jadi dokter, sudah menjadi atlet hebat eh malah dipaksa lagi harus jadi PNS.

Bahkan sudah bekerja tetap sesuai bidangnya malah dibanding-bandingkan dengan para pegawai pajak. Entahlah kenapa pikiran ini bisa masuk dalam “budaya” kita. Baik orangtua, guru-guru, bahkan kita sendiri pun mungkin “membunuh” mimpi anak kita? “membunuh” mimpi teman kita? Atau “membunuh” mimpi oranglain?

Semua tak harus sama, kita punya porsi masing-masing. Semua memiliki keahlian yang menjadi pilihan masing-masing orang. Tentunya daripada menjadi “pembunuh” mimpi bagi mereka yang sedang merintis, kenapa kita tidak mendukungnya saja? Minimal mendoakanlah.

Banyak di era milenial ini menganggap bekerja ya harus pulang sore, harus berdasi, atau bahkan bermobil. Entahlah, apakah kita termasuk pembunuh impian, bakat, dan imajinasi mereka?

Ary Senpai, Pengamat pendidikan milenial-Penulis Maaf Aku Bukan PNS-Salah 1 Author sekolah membunuhmu-Graphic Designer

Related Articles

Back to top button