fbpx
Kabar Daerah

Selamat! Gubernur Jateng Kukuhkan Lima Sekolah Adipangastuti

SEMARANG, energibangsa.id – Ganjar Pranowo mengukuhkan lima sekolah di Solo yang menerapkan nilai budaya jawa dengan model Adipangstuti. Harapannya model pembelajaran seperti ini bisa diterapkan di daerah lain sebagi pembentukan karakter dan toleransi antar sesama.

Dilansir dari portal Humas Jateng, Kamis (17/12), lima sekolah yang menjadi model Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen, dan SMAN 1 Gemolong Sragen.

Ganjar mengatakan saat pengukuhan sekolah Adipangastuti secara daring di Kantor Gubernur bahwa dengan adanya pengukuhan ini bisa sebagai contoh dan bisa diterapkan di daerah lain walaupun berbeda konsep.

Ke lima sekolah ini sebelumnya sudah menerapkan nilai Adipangastuti selama enam bulan yaitu sejak Juli 2020 sampai Desember 2020. Maka dari itu, setelah menerapkan nilai Adipangastuti bisa menjadi pilot model untuk lainnya.

Apa itu sekolah Adipangastuti?

Sekolah Adipangastuti merupakan sekolah yang menerapkan nilai hasthalu. Hasthalaku adalah delapan nilai budaya Jawa yang meliputi gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak (ramah), lembah manah (rendah hati), ewuh pakewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap ashor (berbudi luhur), dan tepo seliro (tenggang rasa).

Menurut Ganjar, model sekolah Adipangastuti itu sangat efektif untuk mengajarkan toleransi dan kemanusiaan. Namun untuk mengukur efektivitas itu tidak serta merta bisa dilakukan. Harus ada keberlanjutan dalam menginternalisasi, memahami, melakukan, dan membudayakan konsep itu.

“Kalau semua orang sudah melakukan itu, baru dikatakan berhasil. Efektivitas harus dilakukan terus-menerus. Setiap orang pasti akan dipengaruhi oleh faktor dari luar, jadi kalau sudah belajar Hasthalaku akan tahu penerapan delapan nilai luhur itu sehingga perlu dilakukan secara kontinyu agar semua bisa menerapkan Hasthalaku dengan baik,” katanya.

Daerah lain tidak harus menggunakan konsep yang sama. Model Adipangastuti sangat bagus dan daerah lain harus bisa membuat konsep serupa yang sesuai dengan daerahnya.

“Konsep sebisa mungkin muncul dari bawah atau bottom up. Saya mendukung pengembangan ini, tetapi bukan dari saya karena kalau konsep muncul dari bawah maka nanti akan saling berbagi dan bertemu,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Back to top button