fbpx
Kabar Daerah

Sekolah Tatap Muka di Semarang Ditunda, Kecewa Lagi Gengs

SEMARANG, energibangsa.id – Libur sekolah telah usai bagi siswa sekolah dasar dan menengah, tahun ajaran baru segera dihadapi oleh seluruh siswa di Indonesia.

Turut berdampak besar bagi pendidikan, pandemi Covid-19 membawa perubahan yang signifikan bagi segala bentuk tatanannya. Contohnya yang dapat kita rasakan selama setahun kebelakang dengan pembelajaran lewat daring.

Meskipun tidak semua yang berhubungan dengan daring tidak selalu buruk, namun pastinya kita semua tetap merindukan kembali momen-momen dimana kita bisa secara tatap muka menuntut ilmu.

Sepertinya mimpi semua siswa untuk tidak belajar dirumah harus sirna pada semester ini karena pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Hal ini disampaikan oleh Gunawan Saptogiri selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang yang mengatakan akan menunda kegiatan pembelajaran tatap muka sesuai instrusi dari Pemerintah Provinsi.

‘’Sebetulnya sudah disiapkan apapun terkait dimulainya pembelajaran tatap muka di Semarang. Akan tetapi, karena kasus COVID-19 masih tinggi dan ada surat dari gubernur dan sekda untuk sementara kami tunda dulu realisasi pembelajaran tatap muka di sekolah,’’ ungkapnya

Hal ini menyusul laporan atas terinveksinya beberapa tenaga pendidik yang semakin bertambah kian harinya.  Beliau menuntu adanya inovasi untuk menanggulangi keterbatasan yang terjadi ini.

‘’Untuk memulai pembelajaran tatap muka kami tetap berpatokan pada keputusan empat menteri yang berisi bahwa pembelajaran diserahkan ke daerah masing masing dengan melihat zona risiko COVID-19. Jadi kalau Semarang bisa masuk zona kuning atau hijau baru boleh melaksanakan pembelajaran di sekolah,’’ katanya.

Orang Tua Siswa Dukung Penuh Pembelajaran Tatap Muka

Menurut IDN Times mengabarkan bahwa Dinas Pendidikan Kota Semarang telah melakukan survei dengan menyebar angket jajak pendapat kepada 40ribu orang tua siswa dari jenjang TK hingga SMP. Dari hasil survei tersebut sebanyak 60 persen orang tua menyatakan setuju dengan dilakukannya pembelajaran tatap muka.

‘’Mayoritas orang tua siswa setuju dengan pembelajaran di sekolah. Sedangkan, 30 persen tidak setuju dan 10 persen abstain. Alasan mereka setuju karena mayoritas keluarga memiliki kesibukan masing-masing sehingga agak susah mengontrol anaknya saat belajar secara daring di rumah. Orang tua juga tidak bisa mendampingi belajar anak secara terus-menerus saat pandemik ini dan pembelajaran daring ini menurunkan karakter peserta didik,’’ katanya. (Ozan/EB)

Related Articles

Back to top button