budaya ngaji di langgar
budaya ngaji di langgar (qureta)
Essai

Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad

0

Oleh : Ust. M. Syaiful S.pd.i, MA

ENERGIBANGSA.ID – Bagi umat muslim, perayaan-perayaan hari besar Islam telah menjadi tradisi yang dilakukan setiap tahun sesuai dengan bulan dan tanggal perayaan. Termasuk perayaan hari besar yang diperingati umat muslim ialah perayan maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 bulan Rabi’ul Awal.

Perayaan maulid dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, ada yang hanya dengan membaca kitab maulid, ada yang dengan mengadakan pengajian umum, dan lain sebagainya.

Lalu pertanyaannya, siapakah orang yang pertama kali merayakan maulid? Sebelum menjawab itu, saya akan mengulas pengertian Maulid dan Kitab Maulid dulu, agar runtut dan sistematis.

Pengertian Maulid dan Kitab Maulid
Kata “Maulid” berasal dari bahasa Arab “Walada” (Fi’il Madhi):
وَلَدَ – يَلِدُ – وِلاَدَةً – وَمَوْلِداً – فَهُوَ وَالِدٌ – وَذَاكَ مَوْلُوْدٌ – لِدْ – لاَتَلِدْ – مَوْلِدٌ2 – مِيْلَادٌ.
Maulid dapat diartikan Kelahiran (Masdar Mim), Waktu Melahirkan (Isim Zaman) atau Tempat Kelahiran (Isim Makan).

Kitab Maulid adalah kitab yang berisi tentang sejarah hidup seseorang seperti kitab “Manaqib”. Tapi kalau kitab “Maulid” hanya diperuntukkan sejarah hidup Baginda Nabi Muhammad SAW, untuk kitab “Manaqib” biasanya diperuntukkan riwayat para Wali Allah. Di kalangan orang sekarang biasa menyebutnya dengan Biografi atau Auto Biografi.

Biografi ialah Riwayat hidup seseorang yang dibuat oleh orang lain, sedangkan Auto Biografi ialah Riwayat hidup seseorang yang dibuat dirinya sendiri.

Sedangkan orang yang pertama kali mengarang kitab maulid adalah al-Hafidz Ibnu Dakhiyyah dengan judul “at-Tanwir fi Maulid as-Siroj al-Munir” yang dihadiahkan kepada Raja Mudhoffar Abu Said, dan sebagai imbalannya Imam Ibnu Dakhiyyah diberi hadiah uang 1.000 Dinar oleh Sang Raja..

Sejarah Munculnya Perayaan Maulid
Orang yang pertama kali merayakan hari kelahiran (maulid) adalah Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri, hanya saja peringatan beliau tidak seperti sekarang dengan pembacaan kitab maulid, beliau memperingati hari kelahiran beliau dengan cara melakukan puasa yaitu puasa setiap hari senin, sebagaimana sabda beliau ketika ditanya tentang puasa pada hari senin:
عَنْ أَبِى قَتَادَة الأَنْصَارِيْ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الإثْنَيْنِ، فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ.
Artinya: “Dari Abi Qotadah al-Anshari, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hai senin, kemudian beliau menjawab: “Pada hari itu Aku dilahirkan dan mendapatkan wahyu”.

Setelah itu, sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW banyak yang mengenang hari kelahiran (maulid) beliau dengan melantunkan syair pujian kepada beliau.

Di antara sahabat Nabi yang menceritakan sejarah kelahiran beliau dengan membaca syair Maulid adalah sahabat Abbas bin Abdul Muthalib paman beliau SAW sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani sebagai berikut: Imam Ath-Thabari berkata: “Abdan bin Ahmad, Ahmad bin Amr al-Bazzar, dan Muhammad bin Musa bin Hammad al-Barbari menceritakan kepada saya, mereka berkata: Abu Sukkain Zakaria bin Yahya bercerita kepada kami, Pamannya Bapakku Zahr bin Hisn bercerita dari kakeknya Humaid bin Manhab berkata: Huraim bin Aus bin Harisah bin Lam berkata: Ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW kemudian Abbas bin Abdul Mutholib berkata kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, saya ingin memujimu.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: Silahkan, semoga Allah SWT menjaga gigimu agar tidak akan pernah sakit. Kemudian Abbas bersyair:

قَبْلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلالِ وَفِي مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ
ثُمَّ هَبَطْتَ الْبِلادَ لا بَشَرٌ أَنْتَ وَلا مُضْغَةٌ وَلا عَلَقُ
بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَّفِينَ وَقَدْ أَلْجَمَ نَسْرًا وَاهَلَهُ الْغَرَقُ
تُنْقَلُ مِنْ صَالِبٍ إِلَى رَحِمٍ إِذَا مَضَى عَالِمٌ بَدَا طَبَقُ
حَتَّى احْتَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ مِنْ خنْدَفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطْقُ
وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الأَرْضُ وَضَاءَتْ بنورِكَ الأُفُقُ
فَنَحْنُ فِي الضِّيَاءِ وَفِي النُّورِ وَسُبْلُ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Artinya:
“Sebelum manusia berada di muka bumi ini, engkau senang di surga berada dalam naungan daun-daun surga”
“Kemudian diturunkan ke bumi, engkau belum menjadi manusia, janin, dan juga belum menjadi darah”
“Tetapi masih berupa nutfah yang menaiki bahtera Nuh, dan sesungguhnya kaum Nuh menjadikan “Nasr” sebagai sesembahan, lalu mereka ditenggelamkan beserta keluarga Nuh”
“Dipindah-pindah dari tulang rusuk ke rahim sampai berlalunya tiap tingkatan alam”
“Sampai mencapai tingkatan dan kedudukanmu yang tinggi dari puncak yang tertinggi”
“Dan ketika Engkau dilahirkan maka bersinarlah dunia dan cahayamu memenuhi cakrawala”
“Dan kami selalu berada di tengah cahaya itu dan di jalan yang penuh petunjuk”.

Kemudian jauh setelah itu perayaan maulid Nabi Muhammad SAW diperingati dengan besar-besaran pada mas Raja Mudhoffar sebagaimana Cucu dari Imam Ibnu Jauzi menceritakan dalam kitab “Mir’atuz Zaman”: Bahwa orang yang pertama kali mengadakan perayaan maulid dengan besar-besaran ialah Raja Mudhoffar Abu Said al-Kukuburi bin Zainudin Ali bin Buktikin at-Tirkamani, Penguasa Kota Irbil wilayah Moushol Irak yang meninggal pada tahun 136 H pada usia 82 tahun.

Perayaan maulid yang dibuat oleh Raja Mudhoffar sangat mewah dan besar-besaran. Raja Mudhoffar menghidangkan 5.000 Kepala kambing panggang, 10.000 potong ayam, 100.000 makanan yang mengandung susu dan mentega, 30.000 piring yang berisi kue dan beliau mengundang ulama’ besar pada masa itu.

Dalam perayaan tersebut Raja Mudhoffar menghabiskan dana sebesar 300.000 dinar. Sang Raja juga mempunyai tempat khusus untuk tempat tinggalnya para tamu dari penjuru dunia. Dan pembiayaan tempat tinggal tersebut menghabiskan biaya sekitar 100.000 dinar tiap tahunnya.

Raja Mudhoffar adalah raja yang selalu memberikan sumbangan dana untuk perawatan dan kemakmuran Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi dan pengairan di Hijaz sekitar 30.000 dinar setiap tahunnya, dan ini diluar sedekah-sedekah yang lainnya.

Sedangkan Orang yang pertama kali mengarang kitab maulid adalah al-Hafidz Ibnu Dakhiyyah dengan judul “at-Tanwir fi Maulid as-Siroj al-Munir” yang dihadiahkan kepada Raja Mudhoffar Abu Said, dan sebagai imbalannya Imam Ibnu Dakhiyyah diberi hadiah uang 1.000 Dinar oleh Sang Raja.

*Ustadz M. Syaiful S.pd.i, MA, pengurus LP Maarif NU Jateng

DAFTAR PUSTAKA:
Abdul Hamid al-Qudsi, Kanzun Najah was Susrur, Jakarta; Rubath Nur Tariem Al-Ghanna’.
Adz-Dzahabi, Tahdzib Siyari A’lamin Nubala’, Beirut; Muassasah ar-Risalah, 1992, Juz 3.
As-Suyuti, al-Hawi lil Fatawi, Beirut; Darul Kutub al-Arobi, Juz 1.
Ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz 4.
Muhammad bin Salim Ba Bashil, Is’adur Rofiq, Surabaya; al-Hidayah.
Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz 6, Hadist 1978.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Festival Patjar Merah, Berjuang Melawan Mitos ‘Generasi Menunduk’

Previous article

Jargon Kembali pada Quran dan Sunnah: Gagah atau Gegabah?

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai