fbpx
OlahragaRagam Bangsa

Sejarah Judo di Indonesia, Sebuah Cerita tentang Cinta

ENERGIBANGSA.ID – Alkisah… Makino san adalah salah seorang murid langsung dari Jigoro Kano, Judo Founder, pada perang dunia ke II sebagai perwira tentara Jepang beliau di tugaskan di pulau Jawa.

Selama ditugaskan di pulau Jawa beliau banyak bergaul dan dapat diterima baik dengan tokoh-tokoh beladiri Tapak Suci (saat itu Pendekar Besar KH Busyro Syuhada sudah berpulang ke Rahmatullah) dan tokoh-tokoh religius di Kauman, Yoyakarta.

Di sini , di Kauman, berdasarkan referensi yang saya baca beliau sempat menurunkan ilmu pedangnya kepada Perguruan Tapak Suci.

Setelah Jepang dikalahkan oleh sekutu dan seluruh tentara Jepang menjadi tahanan sekutu, pemuda Makino yang sudah  menjadi pejuang Indonesia menetap di Yogya dan menikah dengan seorang wanita jawa, sebelumnya beliau sudah masuk agama Islam dan berganti nama menjadi Umar Muhamad Makino.

Beliau menjadi instruktur militer di Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, banyak sekali murid-murid beliau di Angkatan Darat yang pada tahun 1990an menjadi puncak pimpinan Angkatan Darat. (menjadi KASAD dll. pada saat itu).

Dari banyak referensi-referensi yang saya baca Makino san juga pernah membuka dojo judo di Surabaya.

Cinta Indonesia

Beliau wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di Makam Pahlawan Yogyakarta dengan upacara militer penuh.

Tahun 1970an saat murid-murid langsung dari Jigoro Kano sudah meninggal, hanya Makino san saja yang masih tinggal membuat pemerintah Jepang melalui kedutaannya saat itu  memohon kepada beliau (walaupun masih melatih murid-muridnya di dojo Institut Judo Jakarta Raya,

Tapi saat itu beliau sakit gula dan sudah dalam keadaan lumpuh, Kedutaan Jepang meminta beliau untuk bersedia kembali ke Jepang berobat dan kembali menjadi warga negara Jepang serta untuk melanjutkan tradisi Judo di Jepang.

Namun, karena kecintaannya pada bangsa Indonesia beliau menolak kembali ke Jepang, walaupun saat itu pemerintah Jepang akan membayar kembali pensiun beliau dan seluruh fasilitas-fasilitas yang lain, termasuk fasilitas pengobatan yang saat itu sangat dibutuhkan oleh beliau yang hidupnya sangat sederhana sekali.

Pada saat tersebut banyak sekali pejudo-pejudo senior Jepang yang datang ke Jakarta untuk mendapatkan pengesahan tingkat keahlian mereka (untuk mendapatkan cap semacam stempel kecil sebagai tanda tangan di budaya Jepang).Murid-murid beliau baik di militer, di AMN,  maupun sipil di Institut Judo Jakarta Raya (IJDR) selalu menjadi judoka-judoka yang disegani dalam setiap kompetisi dan berpengaruh di Indonesia. 

Mungkin itu pula sebabnya muncul upaya untuk menyingkirkan nama beliau dari sejarah perkembangan awal Judo di Indonesia.

Dua orang dari banyak murid beliau yang masih hidup dan masih berkiprah dan membaktikan diri dalam dunia Judo adalah: Rudy Rapar dan Pergiwati.

Dari referensi yang pernah saya baca Makino san juga pernah menjabat sebagai Direktur Tehnik PJSI dimana saat itu PJSI sudah menjadi anggota resmi INTERNASIONAL JUDO FEDERATION (IJF).

Sayang, dalam perkembangan organisasi terjadi konflik antara Teknical Director PJSI S. Makino dengan JD Schilder yang memimpin Jigoro Kano Kwai.

Akibatnya cukup fatal, anggota Jigoro Kano Kwai tidak diperbolehkan menjadi anggota PJSI sehingga mereka pun mendirikan organisasi tandingan yang diberi nama PERSATUAN JUDO INDONESIA DJAKARTA (PJID) yang dipelopori oleh mahasiswa dan Kepolisian RI.

Sejak itu kegiatan judo di Indonesia ditangani oleh PJSI dan PJID. Keadaan ini berlanjut sampai tahun 1960.

Nama beliau saya kenal dan banyak saya dengar karena dimasa kanak-kanak saya  (sekitar  tahun 1963) saya sering mengantarkan seorang paman yang juga ikut belajar judo  pada dojo beliau dimana  saat beristirahat saya sering mendengar dari murid-murid beliau yang sedang bercerita tentang beliau.

Paman saya tidak terlalu lama berlatih sehingga saya tidak pernah bermain lagi ke dojo beliau hingga suatu saat sekitar tahun 1970an saya yang saat itu tinggal di jalan Madiun yang tak telalu jauh dari dojo beliau sering bermain di sekitar dojo dan saya teringat lagi untuk mampir “nonton” latihan  judo.

Saat itulah saya pertama kali melihat ibu Pergiwati dan saat itu saya belum melihat pak Rudy Rappar  suami beliau (mungkin Ibu Perwiwati angkatannya lebih senior dibandingkan ibu Pergiwati).

Keduanya kemudian menjadi pelatih saya  ketika tahun 1980an saya ikut bergabung belajar olah raga judo di dojo beliau.

Di sinilah saya lebih sering lagi mendengar tentang Seiichi Makino san langsung dari pelatih saya pak Rudy Rappar yang pernah belajar langsung dari beliau.

Saya bersyukur ternyata nama beliau tidak seratus persen hilang. Lucunya nama beliau ternyata muncul dibeberapa tulisan di Indonesia yang justru menyangkut pencak silat dan Jujutsu di Indonesia.

Judoka Indonesia bernaung di bawah PJSI (Persatuan Judo Seluruh Indonesia) yang bernaung di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Tokoh-tokoh Judo Indonesia antara lain Ferry Sonnevillepebulu tangkis yang aktif membidani lahirnya PJSI; Perry G. Pantouw, juara SEA Games 1983; Kresna BayuMaya FransiscaIra PurnamasariAprilia MarzukiPeter Taslim, atlet judoka Indonesia.

Pada tahun 1970-an dan 1980-an dikenal nama-nama atlet seperti Bambang Prakasa, Ceto Cosadek, Raymond Rochili dsb.

Di bawah kepemimpinan Ir. Soehoed saat itu, Judo merintis didirikannya training center untuk pelatnas di Ciloto, Puncak, Jawa Barat. Saat itu di Jakarta sangat berkembang berbagai perguruan Judo, seperti misalnya Judo Waza di Jakarta Selatan (dipimpin oleh alm. Robert Judono/ Robert Jung), Perguruan Judo Tiang Bendera di Jakarta Utara, dan sebagainya.

Saat ini perkembangan Judo di daerah juga mulai pesat. Semisal perdepokan Judo Mataram Bantul (Wiramataram) di bawah bimbingan Guru Om Tjong (Budy Tanudjaya) dan dipimpin oleh Dain Santoso meraih 8 emas di kejuaraan Judo daerah DIY.

referensi : mardinusi

Related Articles

Back to top button