fbpx
Seni Sastra & Budaya

Sejarah: Berkat Rempah Pulau Jawa Kosmpolitan di Nusantara

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Berkat perniagaan rempah-rempah, dalam sejarahnya, Pulau Jawa yang bukan produsen pernah menjadi kosmopolitan di Nusantara.

Hal ini dibeberkan oleh sejarawan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Profesor Singgih Tri Sulistyono, dalam diskusi daring Budaya Rempah di Pusaran Jawa yang diadakan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dipantau dari Jakarta, Jumat (28/8).

“Jawa bukan penghasil rempah-rempah, kecuali Banten yang menghasilkan lada, tapi dinamika di hampir sepanjang sejarahnya dipengaruhi dan ditentukan perniagaan rempah-rempah,” kata Singgih

Penulis dan penjelajah bangsa Portugis, Duarte Barbosa, yang sempat mengunjungi Nusantara sekitar abad ke 16 memberi kesaksian tersebut.

Barbossa menggambarkan makmurnya kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa, yang kekayaannya dari perdagangan rempah-rempah sangat besar, tidak pernah dijumpainya di manapun sebelumnya.

Selain bangsawan yang kaya, Barbosa menyebut adanya keturunan Cina, Arab, Persia, Gujarat dan sebagainya yang hidup di kota-kota pelabuhan utara Jawa tersebut.

Sejarawan dan Dosen Fakultas Imu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Profesor Singgih Tri Sulistyono. (sumber: isu maritim wordpress.com)

Menurut Singgih, apa yang digambarkan Barbosa menunjukkan pesisir utara pulau Jawa sangat kosmopolitan pada masa itu.

Dengan demikian, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip itu mengatakan, rempah-rempah merupakan penggerak sejarah Nusantara sampai akhirnya perusahaan dagang VOC menguasai seluruh perniagaannya di Pulau Jawa.

Sebelum bangsa Eropa datang, Jawa juga disebutnya memiliki kedudukan penting dalam pelayaran di Nusantara.

Utusan dagang dari pulau tersebut, sebagaimana data yang diperoleh tim energibangsa.id sudah ada yang sampai ke Cina bahkan sebelum bangsa itu mulai mengarungi perairan Nusantara. 

“Peran Pulau Jawa untuk Nusantara bahkan internasional semakin berkembang pesat setelah pusat politik berpindah ke Jawa Timur,” kata Singgih.

Pada masa Kerajaan Majapahit, dunia perniagaan rempah-rempah atau maritim dapat dikontrol dengan baik.

Tapi di abad 15 mulai terjadi disintegrasi dalam kerajaan yang dipengaruhi faktor eksternal dan internal. 

Kedatangan pedagang dari berbagai daerah dan negara, menurut nya, mempercepat disintegrasi itu

Namun menariknya secara ekonomi jejaring perdagangan maritim di kepulauan Nusantara semakin berkembang karena munculnya pusat kekuatan ekonomi dan politik baru. 

“Dan di antaranya itu dihubungkan dengan kegiatan perdagangan dan pelayaran,” ujar dia sebagaimana dilansir dari antaranews.com.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Winarto, mengatakan Pati menjadi salah satu jalur niaga rempah itu dengan menjadi pintu masuk dari wilayah timur Jawa.

Dia menunjuk daerah Juwana terus berkembang mengingat letaknya strategis di pesisir utara Jawa Tengah.

Menurut dia, sejak dulu Juwana menjadi pusat galangan kapal terbaik di pesisir utara Jawa, sedangkan Tayu menjadi pelabuhan transit ke Jepara yang di masa kolonial menjadi pos dagang. [Gilban/EB)

Related Articles

Back to top button