fbpx
Pojok BangsaRagam BangsaReligius

Saung Santri Kalialang; Tempat ‘Ngobrol’ Agama dan Ngaji Kasih Sayang

ENERGIBANGSA.ID – Menimbang banyaknya manusia yang semakin disibukkan dengan kegiatan mengumpulkan materi duniawi, sehingga sering lupa membekali diri untuk kepentingan ukhrowi, membuat kehidupan kita berjalan bias, kering, dan hampa.

Untuk itulah, keberadaan dan peran tokoh agama sebagai tempat untuk mendapatkan solusi hidup yang teduh menjadi sangat penting untuk diikhtiyari Bersama.

Berbagai kajian ilmu dan agama diadakan dimana-mana, namun terkadang terlalu formal, sehingga yang mengikuti cenderung inklusif hanya kalangan tertentu saja.

Adalah Yoyon Supriyanto, S.E, inisiator tempat ngobrol dan ngaji kehidupan bertajuk “Saung Santri Kalialang”, pria asal Kudus ini menggagas tempat dan kegiatan ngaji urip dengan gaya santai, obrolan ringan, sehingga siapa saja tidak merasa rikuh untuk bergabung belajar tentang agama dan kehidupan.

Hurmat Guru

Saat disinggung mengenai istilah “majlas wa ta’lim” bukan “majlis ta’lim”, ayah dua orang anak ini mengutip pesan dari salah satu gurunya; Habib Muhammad Dhiyauddin Al Muthohhar: “ini tuan rumahnya belum memiliki kapasitas yang cukup untuk membuat majlis ta’lim (tempat belajar)”.

Menurut penjelasannya, majlas wa ta’lim, itu artinya (majlas) tempat duduk ngobrol dan (ta’lim) belajar, berbeda dengan majlis ta’lim yang artinya memang murni tempat belajar.

“ini penting dipahami, karena kapasitas saya bukan guru, bukan ustadz, bukan kyai, saya hanya seorang murid yang ingin ikut mengunduh berkah para habaib dan para kyai, jadi saya di sini ya ikut belajar,” terangnya pada energibangsa.id

Saung Santri Kalialang; Tempat ‘Ngobrol’ Agama dan Ngaji Kasih Sayang

Belajar Istiqomah Hurmat Tamu

Saat ditanya apa motivasi dalam membuat Saung Santri Kalialang ini Yoyon juga bingung, namun karena ini adalah arahan dari para gurunya, maka ia menuruti.

“sebenarnya dulu ya hanya ingin buat gazebo buat ngobrol-ngobrol saja, kalua ada tamu para habaib para kyai, para ustadz rawuh, saya pinara’aken di sana, sambal saya bertanya-tanya mengenai hal-ihwal agama,” kisahnya.

“Sebenarnya dulu saya inginnya menamainya Saung Kalialang saja, tapi oleh guru saya (Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi) diminta untuk  ditambahi kata santri, jadi Saung Santri Kalialang,” lanjutnya.

Meski begitu, Yoyon -sapaan akrabnya- menolak untuk disebut ustadz atau kyai, “sebenarnya jujur saja ini agak berat kalau saung ini ada kata santrinya, nanti sohibul bait kesannya adalah ustadz atau kyai, nah itu yang saya nggak mau,” akunya.

Hanya Menyediakan Ruang dan Wedang

Tapi Kembali lagi, karena atas arahan dari guru, diridhoi oleh gurunya, dan para guru bersedia berkegiatan di sana, maka pria yang ngesto’aken dawuhnya Almarhum wal maghfurillah KH Abdullah Sa’ad tentang pentingnya hurmat dan taat pada guru ini pun mengiyakan arahan tersebut.

“saya ini orang bodoh, tidak berilmu, tugas saya ya cuma nyiapke ruang, nggawe wedang, dan ikut ndeprok ngalap berkah poro habaib dan kyai, namun ingin berusaha ikut melajutkan perjuangan KH Abdullah Sa’ad untuk menghurmati para habaib dan ulama’” jelasnya.

Yoyon mewanti-wanti bahwa kapasitas ustadz apalagi kyai haruslah benar-benar sosok yang memiliki ilmu mumpuni di bidang agama.

“saya betul-betul mohon perhatian, jangan sampe setelah ada majlas wa ta’lim ini, lantas saya dipanggil ustadz atau kyai, ini bahaya bagi dunia keilmuan agama, (panggilan itu) malah bisa menurunkan nilai branding dan keilmuan para ustadz dan kyai yang bener-bener kyai, mentang-mentang mendirikan tempat ngaji, lalu dengan mudahnya jadi ustadz atau kyai, ini bahaya, saya ndak mau, sekali lagi, posisi saya hanya sekedar sohibul bait, tukang nyepak’i wedang saja,” pungkasnya.

Acara Selapanan

Kepada energibangsa.id, pria berusia 40 tahun-an itu menjelaskan bahwa kegiatan ngobrol urip di Saung Santri Kalialang Bersama para Habaib dan Kyai ini akan berlangsung secara hybrid; yakni online dan offlline.

“kegiatan nanti digelar setiap satu selapan sekali, setiap Ahad malam senin pon, dan diselenggarakan secara hybrid, karena masih di suasana pandemi dan PPKM, para habib dan kyai ada di sini (Saung Santri Kalialang), dan beberapa orang saja, nanti yang lainnya bisa menyimak melalui channel online via Youtube dan Facebook,” tukasnya.

Yoyon bersikeras untuk mengkampanyekan agar semua masyarakat tetap menghormati aturan dan kebijakan pemerintah, termasuk juga gerakan vaksinasi.

“kita gelar acara secara terbatas, kita tidak mengajak kerumunan, tidak mengajak-ajak masyarakat untuk berkerumun ya, melalui ini kami juga mengkampanyekan vaksinasi, dan di sini kita semua justru ikut berdoa semoga pandemic covid-19 ini segera berlalu,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button