fbpx
Sosial & Budaya

Samin dan Nilai-nilai Ajaran Sedulur Sikep

ENERGIBANGSA.ID—Indonesia memang kaya akan suku bangsa. Terdapat ratusan suku bangsa yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Ada suku yang tetap bertahan dengan nilai tradisinya, dan ada juga suku yang mulai tergeser.

Salah satunya, Samin. Meski tak dapat dijelaskan sebagai suku, Samin lebih tepat disebut sebagai kelompok masyarakat adat yang tinggal di pedalaman Blora, Jawa Tengah. Samin merupakan sebutan bagi keturunan para pengikut Samin Surosentiko, yakni seorang tokoh yang mengajarkan pengetahuan kearifan lokal dan interaksi antara manusia dengan alam.

Sebagai masyarakat yang masih memegang teguh adat dan tradisi, Samin memiliki ajaran sendiri. Salah satu ajarannya adalah menjunjung tinggi kejujuran dan tidak bersikap sombong.

Ajaran: Sedulur Sikep

Ajaran yang terus dipatuhi oleh orang-orang Samin disebut “Sedulur Sikep”. Karena ajaran ini, orang-orang Samin justru dianggap bodoh, tolol, atau bahkan sinting. Walau begitu masyarakat adat Samin masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi mereka tersebut.

Rata-rata orang Samin bermatapencaharian sebagai petani. Mereka menerapkan sistem pertanian yang tetap menjaga keseimbangan alam. Sebab bagi mereka, hidup berasal dari dan untuk alam.

Samin dan Nilai-nilai Ajaran Sedulur Sikep
Tokoh Sedulur Sikep, Samin Surosentiko/ sumber: etnis.id

Komunitas Samin bercocok tanam dengan tidak menggunakan bahan kimia dan membuat alat pertanian sendiri dengan cara memande. Hasilnya, cukup untuk makan sehari-hari. Mereka tak berpikir untung rugi, karena yang terpenting bagi mereka adalah sebuah rasa “cukup”.

Dalam bingkai kesederhanaan, rumah orang-orang Samin terbuat dari papan kayu. Di sekeliling tempat tinggal mereka terdapat pekarangan (kebun) dan sawah yang hijau dan luas. Semuanya asri, meski jalan setapaknya belum beraspal. Selain itu, mereka gemar saling membantu jika sesamanya ada yang kesulitan. Mereka menolong dengan ikhlas, tak meminta bayaran.

Masyarakat Samin berpegang teguh pada ajaran Samin yang terdiri dari tuntunan, pepali (larangan), dan pedoman. Ajaran itu berisi pesan moral antara lain jujur, sabar, trokal (berusaha) lan narimo (menerima dengan ikhlas akan anugerah sang pencipta), rukun (pertalian persahabatan dan persaudaraan), gotong royong (kerja sama).

Menyatu dengan alam

Dilansir dari Merdeka.com, Selasa (18/02/2020), orang Samin hidup menyatu dengan alam sejak dahulu kala. Pada masa penjajahan Belanda, pernah ada warga Samin yang didatangi petugas pajak Belanda. Ia hendak menagih pajak warga Samin itu. Bukannya membayar, orang Samin itu justru keluar rumah dengan membawa cangkul dan sekantung uang. Di hadapan petugas pajak itu, dia menggali tanah dengan cangkul dan menanam uang itu di dalamnya.

Pernah juga ada orang Samin yang dimintai seorang warga yang bukan Samin untuk menjaga sawahnya. Saat sang empunya sawah kembali, betapa kagetnya ia saat mengetahui sawahnya diserbu ratusan burung pipit dan Orang Samin yang menjaga sawahnya hanya diam saja.

Pemilik sawah itu langsung memarahi orang Samin itu. Dengan lugunya, orang Samin itu menjawab bahwa ia hanya disuruh untuk menjaga sawah, bukan mengusir gerombolan burung pipit yang sedang makan. Kisah lainnya, konon, orang Samin juga tidak mau memetik buah dari atas pohon sebelum buah itu jatuh sendiri ke tanah.

Rasa kemanusiaan yang tinggi

Berdasarkan  Lipi.go.id, sebagaimana dikutip Merdeka.com, Selasa (18/02/2020), orang Samin tidak tinggal menggerombol. Mereka tinggal berpencar di tiap desa yang tersebar di Kabupaten Blora dan kabupaten-kabupaten lain di sekitarnya. Seperti Kabupaten Grobogan, Bojonegoro, Rembang, Pati, dan Kudus. Dalam satu desa biasanya terdiri dari 5-6 keluarga.

Dalam pergaulan sehari-hari baik terhadap sesama Samin maupun orang luar, masyarakat Samin memegang prinsip, “ono niro mergo ningsung, ono ningsung mergo niro” (saya ada karena kamu, kamu ada karena saya). Karena prinsip itu, orang Samin tidak mau menyakiti orang lain, tidak mau mengambil hak orang lain, tapi mereka juga tidak mau hak-hak mereka dirampas. (dari berbagai sumber)

Related Articles

Back to top button