fbpx
Speak Up

Salah Data dan ‘Dikepung Badai COVID-19’, Bagaimana Tanggapan Warga Kota Semarang?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Beberapa hari belakangan, kota semarang diterpa isu tak sedap terkait kasus COVID-19 yang melanda seluruh dunia.

Seperti diberitakan berbagai lini massa media nasional baik, cetak maupun elektronik, melalui akun Youtube BNPB, pada hari Senin (31/8) lalu, Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, menyebut Ibu Kota Jawa Tengah itu sedang menghadapi pelonjakan pesat kasus COVID-19.

Ia mengatakan Semarang menjadi salah satu daerah yang turut menyumbang kasus positif COVID-19 terbanyak di Indonesia. Bahkan menurutnya dalam sehari kota yang memiliki ikon tugu muda itu kurang lebih bisa mencapai 1000 kasus.

“Kota Semarang 2.591 kasus,” ucap Wiku di Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip tim energibangsa.id dari kumparan.com.

Berita tersebut akhirnya sampai ke telinga Hendrar Prihadi, Wali kota Semarang. Lantas Hendi, sapaan akrabnya, langsung menanggapi isu tak sedap itu dengan memberikan pengumuman kepada warga kota Semarang.

Menurutnya, sebagaimana yang diberitakan tim energibangsa.id dalam beberapa artikel sebelumnya, terjadi kesalahan data antara pusat dan kota semarang. Ada perbedaan yang begitu mencolok, antara yang disampaikan Satgas COVID-19 dengan Pemerintah Kota Semarang.

Berdasarkan data yang disebutkan Satgas COVID-19 jumlah kasus aktif di Semarang mencapai 2.591 kasus. Sementara data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Semarang hanya mencatatkan sekitar 497 (data terakhir, Rabu, 16 September) kasus pasien positif yang masih ditangani.

“Data kasus harus disinkronkan. Kalau ada yang belum terdata harus segera dikonfirmasikan agar pasien bisa segera ditangani,” kata Hendi, Rabu (3/9) lalu. Menurutnyan Penanganan COVID-19 di kota semarang masih bisa dikendalikan.

Pernyataan hendi turut diamini oleh dinas kesehatan kota semarang, yang mengemukakan bahwa data yang dimiliki semarang berbeda dengan pusat. Bahkan dalam akun resminya di media sosial instagram, dinkes telah mencoba mengklarifikasi hal tersebut kepada warga kota semarang agar tidak terjadi misinformasi.

Dinkes menyebutkan data yang ada di tempatnya tidak sebanyak itu. Kasus COVID-19 yang terjadi di semarang masih terbilang  aman dan terkendali .Hingga kini kota semarang dan pusat sedang gencar menyamakan data yang terjadi.

“Saat ini pihak kami sedang melakukan komunikasi dan konfirmasi dengan pusat. Berdasarkan data internal kami di Siagacorona (Data dari seluruh RS, Rumah Isolasi Rumdin, Diklat & Puskesmas) kasus aktif di Semarang saat ini sejumlah 549”, tulis dinkes saat menjawab pertanyaan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melalui akun twitternya, @dkksemarang.

Adapun dari pantauan terakhir tim energibangsa.id di akun instagram Hendi, melalui unggahan foto, dirinya juga mengabarkan bahwa sedang melakukan koordinasi terkait sinkronisasi data COVID-19 kota Semarang.

Dalam keterangan unggahan tersebut, Hendi menuliskan bahwa data real COVID-19 yang ada di kota semarang tak semeledak seperti yang dilaporkan di tingkat pusat. Karena besar atau kecilnya data statistic COVID-19, tetap masih menjadi salah satu pekerjaan besar Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang terus diupayakan serta Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) juga belum pernah dicabut.

Tetapi akibat kabar yang terlanjur berhembus tersebut secara tidak langsung meningkatkan rasa kekhawatir an warga terlebih beberapa saat lalu ditemukan klaster baru yang berasal dari warung makan yang cukup terkenal di Semarang.

Tidak hanya itu kabar ini pun secara tersirat turut  memperburuk citra kota Semarang yang kini berangsur memulai adaptasi kenormalan baru.

Lantas bagaimana tanggapan warga kota semarang terkait kasus COVID-19 yang sampai saat ini masih menyelimuti daerah tersebut, tindakan Pemkot hingga salah data yang sempat menghebohkan warga semarang?.

Nah tim energibangsa.id pun mencoba melakukan survei langsung di lapangan bertemu dengan warga untuk mencari tahu tanggapan mereka terhadap kasus COVID-19 di kota semarang.

Dan berikut adalah tanggapan beberapa warga kota semarang yang berhasil dihimpun oleh tim energibangsa.id, checkidot!:

Rizki Faturrachman, karyawan swasta warga Sendangmulyo Semarang

Sebenarnya saya yakin ya sama pemimpin kota Semarang (walikota) , melihat dari upaya-upaya yang telah dilakukan bisa dibilang sudah cukup baik. Dari yang pertama melakukan peraturan jam malam bagi tempat makan baik cafe maupun pinggiran jalan, lalu peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM), penutupan jalan secara bergilir ya bisa dikatakan ada upaya dalam mencegah penularan dan melakukan tes massal serentak utk mengetahui seberapa banyak warga Semarang yang positif (corona).

Namun cukup pun masih kurang karna tidak perlakuan akan peraturan atau batasan tadi secara kontinyu. Ya maksud saya klo emang dirasa perlu, PKM dll tadi tetap dilakukan kalo perlu di perketat,

Pak walikota sendiri  sebenarnya juga dalam aktifitas penanganan sudah bagus, beliau selalu mengingatkan utk pakai masker jaga jarak dan selalu sedia hand sanitizer.

Pun warga semarang sendiri, misalnya  di lingkungan saya juga sudah cukup membantu Pemkot dengan sadar kalo kita sedang berperang melawan pandemi ini. Contohnya masjid di tempat saya sediakan semprotan disinfektan, cek suhu dan menggunakan hand sanitizer serta masker dan jaga jarak saat sholat,

Tapi sayangnya masih ada pula yang ngeyel terutama anak-anak muda yang kalo malam malah nongkrong di café dengan mengabaikan protokol.

Kalo tentang kasus katanya di Semarang dengan kasus tertinggi di indonesia dan klarifikasi pak wali klo itu ada duplikasi data ya sebenernya saya sendri selaku warga semarang malah was-was, yang bener yang mana.

Kalo memang ada duplikasi data segera buktikan dgn data asli soalnya itu nanti membuat perspektif bahwa Pemkot gak serius dan gak cermat dalam menangani covid di semarang padahal setau saya gak begitu.

Saran saya, ditempat manapun terutama yang banyak aktivitas warga saya mengusulkan kalo di pintu masuk misal pasar ada tempat kayak penyemprotan disinfektan bagi pengunjung yg mau datang. Selama ini dari kacatamata saya mereka hanya menyemprot hand sanitizer saja. Menurut saya ini kurang. Ya memang bisa di blg ribet tapi klo pemerintah tegas dan ada pengontrol lalu masyarakat patuh bisa mgkin ya kita menekan angka covid menjadi kecil.

Rizki Faturrachman, karyawan swasta warga Sendangmulyo Semarang.

Rizki Faturrachman, karyawan swasta warga Sendangmulyo Semarang

Ulfa Nugroho, Mahasiswa Swasta di Kota Semarang

Kasus COVID-19 melunjak di kota Semarang bahkan sampai pertumbuhannya tertinggi no 5 setelah provinsi lainnya adalah bisa disebabkan oleh lengahnya masyarakat dalam menjaga protokol kesehatan, dan masih kurangnya peraturan ketertiban yg diberlakukan oleh pemkot Semarang terkhususnya,

Dari kacamata dan pendapat saya, perhatian dan cara yang dilakukan pemkot semarang dalam menangani COVID-19 masih relative kurang, belum  baik. Tapi tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada Pemkot Semarang,  Ini bukan hanya tugas Pak Walikota saja sih tapi juga kesadaran diri masyarakat Semarang.

Sarannya cuma: Bagi pemkot perhatikan rakyat menengah kebawah bila diperketat lagi peraturan atau kebijakan yg membatasi aktivitas masyarakat terutama mencari pangan,

Untuk masyarakat: mohon tertib aturan dan tetap menjaga  protokoler kesehatan bila dirasa aktivitas tidak urgent sebaiknya tetap dirumah,”

Ulfa Nugroho, Mahasiswa Swasta di Kota Semarang

Ulfa Nugroho, Mahasiswa Swasta di Kota Semarang

Sulton Karebet, Karyawan Swasta di Semarang

Menurut pengamatan saya, sebagian besar masyarakat kota Semarang sudah melek akan wabah COVID 19 dengan menerapkan dan menaati protokol kesehatan. Meskipun masih ada juga masyarakat yang abai. Jumlahnya tidak banyak, tapi ada, seperti area kota lama misalnya, sering dijumpai wisatawan yang tidak menggunakan masker, juga tidak berjaga jarak. Tapi jika dibandingkan kota lain yang pernah saya kunjungi di Jawa Tengah (saat kunjungan kerja misalnya), saya melihat bahwa masyarakat kota semarang jauh lebih tertib dalam hal protokol kesehatan

Saya termasuk salah satu orang yang setiap hari memantau informasi seputar angka COVID-19 baik di world meter maupun di siagacorona.semarangkota.go.id . Saya membandingkan angka active case, pasien sembuh maupun death rate kota semarang dengan kota besar lainnya di Indonesia.

Dari angka tersebut, saya melihat bahwa wabah COVID-19 di kota Semarang terkendali. Artinya tidak ada ledakan jumlah active case secara signifikan. Angka kesembuhan juga tergolong tinggi mencapai lebih 80%. Meskipun angka kematian juga masih bertambah, tetapi angka angka tersebut jauh lebih baik dari kota kota besar lain di Indonesia

Menurut saya pribadi, Pak Hendrar Prihadi sebagai walikota Semarang sudah melakukan yang terbaik untuk kota Semarang dan warganya. Beliau cukup perhatian terhadap masyarakat nya untuk melawan wabah COVID-19. Banyak hal yang sudah dilakukan Walikota untuk menekan angka COVID-19, memutus penyebaran virus ini, dan membantu masyarakat yang terdampak.

Yang saya perhatikan secara langsung ya mas. Karena bapak saya adalah ketua RT, saya memperhatikan bagaimana proses penyaluran bantuan tunai dan bantuan sosial baik uang tunai 600rb maupun sembako kepada masyarakat sangat cepat. Hal tersebut juga mempermudah urusan ketua RT untuk meneruskan bantuan tersebut kepada warganya sehingga tidak terjadi isu isu seperti yang terjadi di daerah lain.  

Dan warga pun juga sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Karena bapak Hendrar Prihadi juga harus memperhatikan dampak ekonomi masyarakat nya .

Ketika awal awal pandemi pun, walikota memberlakukan pembatasan jam operasional tempat umum seperti restauran dan mall. Hal tersebut ternyata cukup efektif untuk mengurangi kerumunan massa di suatu tempat.

Banyak hal positif yang bisa saya lihat dari walikota  selama masa pandemi ini. Selain semangat serta konsistensi beliau dalam memberlakukan aturan aturan terkait pandemi ini, juga bagaimana beliau meningkatkan kepercayaan warga kota Semarang terhadap beliau. Seperti agenda “blusukan’, hal tersebut secara tidak langsung membuat warga merasa diperhatikan oleh pemerintahnya.

Deengan melihat upaya upaya yang telah beliau lakukan untuk kota Semarang dan warganya, saya yakin bapak Hendrar Prihadi mampu membawa Semarang menghadapi dan keluaf dari pandemi ini.

Saran untuk pemkot Semarang adalah pemberian sanksi tegas bagi masyarakat yang melanggar aturan terkait protokol kesehatan dalam masa pandemik ini. Sedangkan saran untuk masyarakat, lebih menaati aturan terkait protokol kesehatan baik penggunaan masker di tempat umum, berjaga jarak atau tidak membuat kerumunan, rajin mencuci tangan selesai beraktivitas, dan saling mengingatkan kepada sesama. Stay safe and stay healthy everyone.”

Sulton Karebet, Karyawan Swasta di Semarang

Sulton Karebet, Karyawan Swasta di Semarang

Sheila Amelia, Mahasiswa Magister Ilmu Fisika UNDIP, Semarang

Kasus korona di semarang sudah semestinya kita berhati-hati sebab peningkatanya saat ini lagi signifikan, tapi harusnya kita tetep pinter- pinter menyaring informasi jangan menjadi masyarakat yang ketakutan sehingga memyebabkan rasa parno  berlebihan, hal ini lekat hubungannya sama psikis, sedangkan kalo psikis kita udah kena imun kita juga bakal kena dampaknya…dan kita jadi gampang kena penyakit…

Peran pemerintah menurut saya sudah baik ya, tinggal warganya aja yang harus patuh. Menurutku tingginya COVID-19 di Semarang lebih ke kesadaran masyarakat yang mulai abai atas bahayanya sih….kelonggaran yang pemerintah pusat sampaikan ( new normal )membuat sugesti masyarakat bahwa bahaya ini sudah biasa aja… Jujur, kalo dari keluarga ku takut, soalnya daerah ku tinggal tergolong tinggi korbannya.

Untuk penanganan penanggulangan COVID-19 oleh Pemkot Semarang sendiri sebenarnya masih bisa diupayakan lebih maksimal lagi ya…Karena situasi dan korbannya yang semakin meninggkat , dibutuhkan peningkatan penanganan juga oleh Pemerintah pusat & satgas untuk mengatur, mengupayakan warganya .

Oh iya untuk kasus  data yg mis kayaknya memang sering banget ya terjadi perbedaan data khususnya pada kasus ini dan ternyata ga cuma di lingkup daerah (pusat dan kota semarang) , negara-negara lain pun agak kerepotan menangani pendataan penderita COVID-19 ini

Kalo masalah data atau pemerintah yang salah  keduanya (pemerintah dan kota semarang) masih perlu evaluasi dalam penanganan situasi darurat ini. Kayaknya mungkin yang kita butuhkan untuk mendapatkan data valid dan bisa dibandingkan adalah mencari cara yang jelas dan sistematis untuk memilih kerangka sampling yang representative.

Sarannya mungkin pemerintah harus totalitas dalam penanganan ini seperti membagikan masker, rapid test gratis, menyemprot disinfektan di tempat umum, membagi apd untuk nakes, memang mungkin anggaran biaya akan bengkak,namun untuk  kemanusiaan seharusnya kerugian tidak sebanding dengan korban-korban yg berjatuhan..

Tambahan lagi untuk pemulihan ekonomi masyarakat, seharusnya penyaluran bantuan bisa disalurkan dengan lebih merata , prosesnya dipermudah & penerimanya tepat sasaran.

Sheila Amelia, Mahasiswa Magister Ilmu Fisika UNDIP, Semarang

Sheila Amelia, Mahasiswa Magister Ilmu Fisika UNDIP, Semarang

Nandito Kelvianto Wibowo, Mahasiswa Universitas Swasta dan Warga Manyaran Semarang Barat.

Dari yang saya lihat itu untuk perhatiannya warga semarang terhadap virus COVID- 19 ini sudah cukup baik, ya walaupun pada dasarnya masih ada warga yang tidak memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan lainnya. Namun, sejauh ini masyarakat sudah mulai sadar dan mematuhi anjuran pemkot semarang ya mas

Bagi saya perhatian Pak Hendi (walikota) beserta instansi terkait sudah sangat baik ya mas. Baik dari segi pengkontrolan warga semarang yang merantau sampai sosialisasi dari tempat ke tempat seperti pasar. Jadi, menurut saya Pak Hendi sudah sangat baik dalam menanggapi kasus COVID- 19 ini.

Cuman memang dalam realisasi penanggulangan COVID- 19 ini tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada saja warga yang bandel terhadap anjuran pemerintah dalam hal mengindahkan aturan yang sudah ditetapkan.

Untuk hal positif yang dilakukan mungkin sosialisasi masyarakat terhadap COVID- 19 dari segi protokol kesehatan sudah baik. Dalam artian sudah banyak warga semarang yang sadar akan menjaga kesehatan ditengah pandemi COVID- 19 sekarang ini

Mungkin kalau saran, sosialisasi lebih di marakkan lagi karena masih ada warga semarang yang belum mentaati aturan protokol kesehatan. Mungkin begitu mas pendapat saya.

Nandito Kelvianto Wibowo, Mahasiswa Universitas Swasta dan Warga Manyaran Semarang Barat.

Nandito Kelvianto Wibowo, Mahasiswa Universitas Swasta dan Warga Manyaran Semarang Barat.

Dhanu Ahmad, Wirausahawan di Pasar Johar, dan Mahasiswa salah satu Universitas Swasta di Semarang

Jujur gak begitu mengikuti kasus corona di Semarang atau Indonesia hanya mengikuti sekilas aja mungkin udah mulai jenuh terkait berita korona kali ya. Tapi menurut pandangan saya warga semarang sudah dewasa menyikapi corona anjuran pakai masker sebagian besar sudah dilakukan warga, tapi soal jaga jarak kayaknya sulit dilakukan tempat-tempat nongkrong masih rame mereka pake masker tapi melalaikan jaga jarak.

Maka dari itu perlu perhatian lagi dari Pemkot Semarang, sebab semakin kesini pengawasan pada kebijakan-kebijakan kurang diawasi lagi. Ya kayak dulu pas 2 bulan pertama kan masih sering dijumpai babinsa/aparat lain patroli. Ini saja saya gak tau Program PKM masih ada atau gak?

Kendati demikian jika saya lihat cara yang dilakukan oleh Pemkot Semarang itu udah baik sih, dengan menerapkan PKM bukan PSBB kaya dikota lainnya. Hal positifnya, jadi Pak Walikota dan jajarannya masih memikirkan perekonomian tinggal pengawasan dan dari masyarakatnya sendiri saja yang harus taat  protokol kesehatan.

Dari situ saya yakin kalo Pemkot Semarang (Pak walikota bersama jajarannya) bisa menangani kasus corona di Semarang asal seluruh pihak kerjasama dan koordinasi tidak hanya blusukan aja  tapi kedepannya ditindaklanjuti sampe kena sasaran, dan masyarakatnya juga harus manut sama peraturan yang dikeluarkan Pemkot.

Kalo di Pasar (johar) seluruh aturan sudah dilakukan pakai masker, setiap kios ada tempat cuci tangan. ya cuma itu tetep aja ada yang gak peduli, tapi sebagian besar sudah sadar lah.

Harapan dan saran saya untuk Pemkot Semarang, untuk data yang di tes bisa di publikasikan dan pengawasan untuk semua kebijakan, untuk warga ya sadar diri corona belum usai sabar ikuti aturan pemerintah jika tidak mau jadi the next brazil.

Dhanu Ahmad, Wirausahawan di Pasar Johar, dan Mahasiswa salah satu Universitas Swasta di Semarang

Dhanu Ahmad, Wirausahawan di Pasar Johar, dan Mahasiswa salah satu Universitas Swasta di Semarang

Itulah sobat energi tanggapan warga kota semarang yang berhasil terekam tim energibangsa.id terkait badai COVID-19 yang tengah menggempur ibukota Jawa Tengah tersebut.

Berdasarkan data terakhir yang tim dapat, kota semarang memasuki zona merah bersama kota pati.

Terkait salah data atau faktor lain, sudah seyogyanya kita harus berhati-hati kembali sebab virus yang diperkirakan dari Wuhan China ini belum benar-benar mereda di Indonesia dan khususnya di kota Semarang.

Semoga dari artikel ini dapat meningkatkan rasa kehati-hatian sobat energi yang berada di semarang ya. Tetap jaga jarak, jauhi kerumunan, dan patuhi anjuran pemeritah. Semoga kita selalu diberi perlindungan dan kesehatan. Aamii… (Gilban-buddy-dd/EB)

Back to top button