NasionalPojok Bangsa

Romo Aloys Budi Minta Generasi Muda Jadi Penebar Damai dan Kasih Sayang

ENERGIBANGSA.ID, SEMARANG – Energi bangsa ini banyak dibuang untuk menyebarkan hoaks dan konten yang tak ramah terhadap sesama umat manusia, bahkan sesama generasi bangsa ini.

Untuk itu Kepala Campus Ministry Universitas Katolik (UNIKA) Soegijopranoto Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr mengingatkan persaudaraan dan persahabatan sebagai unsur yang transenden dalam kehidupan beragama.

Hal demikian ini ia jelaskan saat menjadi narasumber Seminar Pencegahan Radikalisme Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Semarang bersama Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang dan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) di Laboratorium FDK Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (27/2/2020).

Menurutnya mendalami ilmu agama membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu ia menceritakan prosesnya belajar sampai menjadi seorang Romo bagi umat Kristiani tidaklah instan. Sejak lulus SD sudah mulai sekolah seminari.

Bahkan, khusus mendalami spiritualitas selama 1 (satu) tahun penuh yang disambung dengan filsafat sehingga ia mampu membangun persahabatan meski berbeda keyakinan sebagai aplikasi ajaran agama yang dianutnya.

“Unggahan di facebook saya isinya persahabatan, persahabatan dengan Gus Mus, persahabatan dengan Habib Luthfi, persahabatan dengan Gus Muwafiq,” kata dia.

Pun demikian, atas sikap ramahnya Romo Budi mengaku tidak luput dari bully atau aksi penolakan. Namun demikian, ia mengaku tidak pernah melawan pihak yang membully di media sosial maupun kekerasan lain. Ia juga merasa tidak pernah terpengaruh adanya radikalisme Islam.

kasihsayang

Menurut tokoh senior lintas agama yang dekat dengan berbagai kalangan masyarakat ini hanya menyebut sebagai oknum dalam menyikapi pelaku radikalisme berbasis agama. “Itu hanya oknum yang merusak, apapun agama yang dibela,”tegasnya.

Dalam kebaikan, ia mengimani sesuai yang termaktub dalam Al-Kitab Injil. Sebab, kata dia, gereja katolik mengakui, menghargai semua kebaikan semua agama. Karena itu hal-hal terkait perdamaian dan kemanusiaan perlu dikerjasamakan. Terlebih jika menjadi penentu kebijakan.

“Apabila semua tergantung padamu, maka jadilah pembawa perdamaian,” tandasnya.

Sebagai penutup materinya, aktifis lintas iman Jawa Tengah ini membawakan syair karya Abunawas dan Indonesia Pusaka dalam alunan saxophone.

Indonesia Negeri Kaya
Senada dengan hal itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, H Samsul Maarif mengatakan betapa beruntungnya menjadi bangsa Indonesia dengan berbagai kekayaannya.

“Anda punya bonus yang luar biasa, bonus kekayaan alam, bonus multikultural, dan bonus demografi,” kata Guru Besar UIN Walisongo Semarang ini.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Semarang ini juga mengingatkan, radikalisme berbasis agama di Indonesia, terlebih Islam kerap berhadapan dengan Islam yang gencar diisukan anti Islam atau Islam yang tidak benar versi mereka, “Indonesia mayoritas adalah Islam,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, kekuatan Indonesia dalam melawan radikalisme adalah local wishdom yang menyejukkan seperti adanya lagu sluku-sluku batok dalam proses penyebaran Islam di tanah Jawa. “Budaya ini terus digerus, yang guyup, yang rukun dengan nyanyi,” jelasnya.

Pengasuh PP Riset Al Khawarisme Mijen ini berpesan pentingnya sebuah strategi khusus dalam menangkal persebaran radikalisme-terorisme. Teroris dalam aksinya selalu melakukan tindakan yang bertolak belakang dari ajaran agama. Karena itu teroris disebut kejahatan kemanusiaan yang luar biasa atau extra ordinary crime. (*)

Related Articles

Back to top button