EssaiOpini / Gagasan

Revolusi Industri 4.0 is Bullshit!

Oleh: Ary Senpai

Para era ini, hal-hal yang seringkali digaungkan salah satunya adalah Revolusi Industri 4.0. Sebenarnya apa itu revolusi industri? Apa itu revolusi industri 4.0? mengapa ada Revolusi industri 4.0? Apa dampaknya? Dan bagaimana menghadapinya?

Kilas Balik Revolusi Industri

Revolusi Industri dimulai pada abad ke-18, ketika masyarakat pertanian menjadi lebih maju dan urban. Kereta api lintas benua, mesin uap, listrik, dan penemuan-penemuan lainnya mengubah masyarakat secara permanen.

Makna dari revolusi industri sendiri yakni perubahan besar cara manusia memproduksi barang atau jasa. Revolusi industri adalah keadaan di mana banyak aspek kehidupan yang terpengaruh oleh hal-hal tersebut. Hingga saat ini Revolusi industri sudah masuk pada revolusi keempat.

Lho? kok keempat?

Ya keempat.  Sebelum revolusi Industri 1.0 terjadi, manusia memproduksi barang atau jasa hanya mengandalkan tenaga otot, tenaga air, ataupun tenaga angin. Pada tahun 1776, James Watt menemukan mesin uap yang mengubah sejarah. Penemuan mesin uap menjadikan proses produksi lebih efisien dan murah. Dari sinilah revolusi industri 1.0 dimulai.

Revolusi industri 2.0 terjadi pada awal abad 20.pada tahun 1913, revolusi 2.0 dimulai dengan menciptakan “Lini Produksi” atau assembly line yang menggunakan “ban berjalan” atau conveyor belt di tahun 1913. Proses produksi berubah total. Tidak ada lagi satu tukang yang menyelesaikan satu mobil dari awal hingga akhir, para tukang diorganisir untuk menjadi spesialis, cuma mengurus satu bagian saja, seperti misalnya pemasangan ban.

Revolusi industri 3.0 adalah penemuan mesin yang bergerak, yang berpikir secara otomatis: komputer dan robot. Di saat ini, dunia bergerak memasuki era digitalisasi. Sedangkan revolusi industri 4.0 dicetuskan pertama kali oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman, pada tahun 2011 lalu di acara Hannover Trade Fair.

Dipaparkan bahwa industri saat ini telah memasuki inovasi baru, di mana proses produksi mulai berubah pesat. Pemerintah Jerman menganggap serius gagasan ini dan menjadikannya sebuah gagasan resmi. Pemerintah Jerman bahkan membentuk kelompok khusus untuk membahas mengenai penerapan Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Di mana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory.

Manusia Era 4.0

DRevolusi industri 4.0 juga mempengaruhi tentang kinerja manusia yang awalnya dilakukan manual bisa dilakukan secara otomatis. Setidaknya kita merasakan arus industri 4.0 dalam kehidupan sehari-hari seperti:
(1) Kemajuan dalam bidang teknologi informasi, di mana pekerjaan-pekerjaan dilakukan dengan bantuan teknologi informasi;
(2) Big data;
(3) Cloud computing;
(4) Machine learning.

Yang selalu menjadi pertanyaan saya adalah, apakah sumber daya manusia di sekitar kita sudah siap? Kalau sudah siap, bagaimana langkah-langkah untuk mengaplikasikan? Kalau belum siap, mengapa belum siap?

Berdasarkan data dari World Economic Forum, Indonesia menduduki peringkat 4  pada keterampilan SDM di negara-negara ASEAN.

Dari hal tersebut untuk sementara ini saya berpendapat bahwa “SDM Indonesia perlu adanya dobrakan baru”. Alias dalam bahasa kasarnya “kurang siap menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Mengapa SDMnya kurang siap? Karena pendidikan yang tidak menyiapkan untuk membangun manusia yang  terampil.

Kok seperti itu? Seperti yang kita tahu bahwa hal yang dibutuhkan manusia dalam era revolusi industri 4.0 adalah kreativitas manusia, alias keterampilan. Bukan ijasah atau bahkan itu tu ngandalin jadi PNS (hehehehe :p kalau jadi PNS ya gapapa, deh).

Dalam hal mengenai kreativitas ini pendidikan di indonesia secara umum belum mengarahkan manusia-manusianya ke arah itu. Hal ini ditandai dengan tingginya pengangguran pada lulusan universitas dan SMK (SMK BISA! BISA APA? ). 

Pendidikan kita masih berusaha mencetak manusia agar sama dengan manusia yang lainnya, bukan membangun manusia untuk berkarya, dan berkreativitas.  Hal ini bisa dilihat dari:
(1) masih maraknya kompetisi semu sekolah yang ditandai dengan masih membanding-bandingkan potensi satu anak dengan yang lain;
(2) tidak adanya kerja sama antara pendidikan formal, informal dan nonformal untuk bekerja sama membangun kesadaran manusia dan transfer kreativitas;
(3) masih ada kurikulum “latah” yang hanya menjadikan alumni-alumni universitas atau sekolah hanya menjadi generasi meminta bukan memberi;
(4) budaya gengsi tumbuh di lingkungan sekolah  yang ditanamkan oleh sekolah itu sendiri;
(5) link and match yang masih semu di dunia SMK (SMK meneh wkwkkww)

Dari hal-hal terkecil itulah Sumber daya manusia (SDM) kita belum bisa dikatakan unggul. Eh  boro-boro unggul, kreatif aja kagak. Maka bisa dikatakan revolusi industri 4.0 is bullshit jika tidak adanya pembenahan di lingkungan pendidikan, baik formal, nonformal, dan informal. Perlu adanya membangun kesadaran dalam 3 jalur pendidikan tersebut, mulai dari hal-hal terkecil (enggak usah nggaya mau ngubah sistem).

  • Ary Senpai, penulis buku Sekolah Membunuhmu, Maaf Aku Bukan PNS

Related Articles

Back to top button