Kabar IndonesiaPojok Bangsa

Rekam Jejak K.H Ma’ruf Amin, Santri “Milanisti” yang Bersahaja

ENERGIBANGSA.ID – Tak lagi di usia muda, inilah geliat rekam jejak K.H Ma’ruf Amin yang genap berusia 76 tahun pada 2019 ini sebagai santri paripurna yang aktif dan energik menjalani aktifitas perdananya sebagai wakil presiden RI.

Memperingati Hari Santri Nasional pada hari ini, sobat energi pasti sudah banyak yang mengira jika mantan Ketua MUI ini sewaktu muda pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren alias menjadi seorang santri. Hal itu terlihat dari sosoknya yang terlihat berbeda dengan kandidat capres cawapres lain di pilpres 2019 ini.

Ciri khasnya yang berpenampilan dengan baju koko putih dipadukan peci hitam dan sarung membuat kita ingin menengok kebelakang sebentar mengenal kisah masa kecil dari K.H Ma’ruf Amin.

Semasa muda saat menjadi santri beliau sangat gemar bermain sepak bola, hobi yang mayoritas disukai oleh anak laki-laki pada umumnya. Melansir dari CNN Indonesia, Ma’ruf Amin kecil sangat “Gibol” alias Gila Bola. Beliau mengaku klub bola idamannya yaitu AC Milan pada waktu itu.

“Saya menyukai AC Milan. Sejak dulu zaman trio Belanda, ada [Ruud] Gullit, [Frank] Rijkaard, [Marco] van Basten,” ujar Ma’ruf.

Kegemarannya ini bahkan seperti yang ditulis Iip Yahya dalam bukunya ‘KH Ma’ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna’. Iip menyebut bahwa hobi bermain bola Ma’ruf makin tersalurkan saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Mengulas sedikit rekam jejak perjalanan K.H Ma’ruf Amin, beliau lahir pada 11 Maret 1943 di Desa Kresek, sebuah desa kecil di Kabupaten Tangerang, Banten dan tumbuh dewasa dalam tradisi NU. Ayahnya memiliki Pondok Pesantren di daerah Koper, Tangerang. Tak hanya itu, Ma’ruf sendiri memiliki darah keturunan kiai besar dari Banten. Kakeknya bukan sembarang kiai. Banyak kiai-kiai Nusantara dulu sempat berguru pada kakeknya.

Shohibul Ulum dalam bukunya ‘Kiai Ma’ruf Amin, Menyelami Jejak Pemikiran Sang Politisi, Pemikir dan Ulama Besar mengatakan Ma’ruf adalah cicit dari ulama besar Syeikh Nawawi al-Bantani.

Meskipun kini tak segesit menyepak bola seperti dulu dan nantinya tak lagi sering memakai sarung, kesibukan sesepuh NU yang sekarang menjadi wapres ini tak melupakan 4 kebiasaan yang sudah beliau jalani.
Penjagaan pondok pesantren yang diperketat ini dilakukan untuk membuat kebiasaan mengurus pesantren, mengajar santri mengaji tafsir setiap hari minggu, dan sebisa mungkin kemana-mana akan mengenakan sarung agar tidak terganggu dijalani seperti biasa.

Tiga hal tersebut sudah melekat dan menjadi identitas beliau, rekam jejaknya mewarnai Hari Santri Nasional hari ini yang mengenang rekam jejak beliau sebagai santri paripurna yang bersahaja.

Related Articles

Back to top button