Islam dan china
Islam di China
EssaiPojok BangsaReligius

Realita Islam di China

0

Oleh : Yanuar Aris Budiarto

Tempo hari sebelum pemilu 2019 berlangsung, banyak beredar foto beserta narasi kisah sedih soal Muslim di Xinjiang, China hingga menjadi viral di media sosial Indonesia. Tapi apakah itu benar?

Sudah banyak media kredibel tanah air yang mewartakan bahwa keadaan Muslim di China baik-baik saja, namun arus peredaran foto dengan narasi penyiksaan umat muslim China tidak bisa dibendung, tetap saja ramai dibagikan dan berseliweran grup-grup WA.

Saya mencoba mencari tahu jawabannya dengan bertanya pada beberapa teman saya yang pernah tinggal di China dan juga pada teman yang masih menempuh studi master Hubungan Internasional di China.

Ketika saya tanya mengenai keadaan Muslim China. Jawabannya sama: aman! Kisahnya jauh berbeda dengan banyak info yang beredar.

Jika mau sedikit jeli dan kritis, beberapa media arus utama seperti detik.com yang mengirim wartawan langsung ke Xinjiang pada 3-11 Mei 2018 lalu, juga mengulas fakta sebenarnya konflik di sana.

Di Ibukota Provinsi Xinjiang Uyghur Autonomous Region, Kota Urumqi, wartawan dari beberapa negara berjumpa dengan State Council Information Office China, Information Office Xinjiang Uyghur Autonomous Region dan Xinjiang Islamic Institute.

Presiden Xinjiang Islamic Institute, Abdurakib Bin Tumurniyaz ternyata sudah mengetahui dan menyadari banyak pemberitaan negatif soal Xinjiang beredar luas di luar negeri.

Ternyata berita bahwa puasa Ramadan dilarang, itu tidak benar. “Datang saja ke sini dan lihat langsung. Tidak ada larangan,” ujar Abdurakib sebagaimana ditulis detik.com

Fakta ada kekerasan pemerintah China terhadap Muslim di Xinjiang memang sudah bukan rahasia lagi. Ada satu juta lebih warga Muslim China ditahan di kam-kamp pendidikan ulang, tapi mengapa tidak ada negara-negara Islam atau dengan penduduk mayoritas Muslim angkat bicara dan menentang China?

Lantas bagaimana dengan kerusuhan besar yang pernah terjadi di Xinjiang pada tahun 2009? yang kemudian diikuti dengan beberapa kali insiden di tahun-tahun setelahnya.

Publik harus tahu bahwa kerusuhan itu bukan karena masalah agama (Islam). Xinjiang menghadapi masalah ekstremisme primordial yang melibatkan kekerasan.

Kerusuhan di Provinsi Xinjiang memang sedikit rumit, namun yang paling banyak terpublikasi adalah kerusuhan di Kota Urumqi dengan korban tewas lebih dari 197 jiwa.

Tapi sekali lagi, konflik ini tidak dipicu oleh agama. Kerusuhan ini dipicu konflik antara etnis muslim Uyghur dengan etnis Han, dan konflik ini tidak bisa digeneralkan sebagai konflik semua muslim di Xinjiang. Faktanya, etnis Hui (etnis muslim lain yang ada di China) tidak terlibat konflik, bahkan mereka tidak mau menjadi bagian dari konflik.

Khusus untuk etnis muslim Uyghur, ada sejarah panjang soal separatisme sejak tahun 1960 yang dimobilisasi beberapa kelompok, seperti East Turkistan Islamic Movement (ETIM), dan yang terakhir adalah Turkistan Islamic Party (TIP).

Sebagaimana yang terjadi di Indonesia, ada pengaruh kelompok teror seperti Al Qaeda sampai ISIS yang membuat konflik domestik seperti Uyghur ini semakin keruh.

Nah, konflik menjadi lebih rumit dan mudah dibumbui hoax karena pemerintah China bersikap keras dan represif dalam menghadapi kelompok seperti ini. Idealnya, pendekatan humanis perlu dikedepankan, dan pemerintah China juga sudah mulai menyadarinya.

Jika mau melihatnya secara objektif, kedua pihak memang ada salah semua. Pemerintah China tidak ingin ada separatisme, itu bisa dimaklumi karena Negara manapun tidak ingin terjadi makar. Namun menghadapi kelompok minoritas dengan sikap keras dan represif itu juga tidak bisa dibenarkan. 

Di sisi lain, Uyghur memiliki kecemburuan sosial dengan etnis dengan Han, karena etnis Han lebih sejahtera secara ekonomi. Sedangkan etnis Han cemburu karena orang Uyghur tidak terkena One Child Policy karena (meskipun miskin tapi) boleh punya anak lebih dari satu.

Sialnya kecemburuan sosial ini direfleksikan dengan jalan kekerasan, separatisme, dan terorisme seperti yang dilakukan sekelompok kecil oknum masyarakat Uyghur. Faktanya, tidak semua etnis muslim Uyghur menghendaki cara brutal seperti ini.

Sampai di sini bisa dilihat memang ini masalah kesenjangan antar etnis dari faktor sejarah rumit, baik dari aspek ekonomi maupun sosial-politik.

Sayangnya, ada pihak-pihak yang membumbui akar konflik masalahnya dengan bungkus agama. Hal itu tampaknya supaya isu Xinjiang ini laku dijual untuk mendapatkan simpati umat Islam di dunia. Namun, hal itu tidak menyelesaikan akar masalah.

Pemerintah China harus bersikap lebih lunak lagi. Etnis Uyghur pun harus mengedepankan cara-cara damai. Hentikan kekerasan. Etnis-etnis minoritas lain di Xinjiang harus membuka komunikasi dan dialog. Di saat China sedang membangun kekuatan untuk melawan Amerika (sebagai negara adidaya), di sisi lain mereka punya Xinjiang yang jadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Fakta lainnya adalah Xinjiang Islamic Institute yang berdiri tahun 1982 dengan seizin Partai Komunis China (PKC) dan pemerintah Xinjiang, kini menjadi lembaga pendidikan untuk mempromosikan Islam yang damai. Ini sejalan dengan gaya Islam Nusantara ala Nahdlatul Ulama yang mengkampanyekan islam yang teduh dan damai.

Dengan ini saya jadi sangat bersyukur bisa menjadi umat Muhammad yang ada di Indonesia, karena selain menjadi umat muslim terbesar di dunia, juga karena Islam Nusantara yang tidak mudah terbakar emosi karena faktor ekonomi, kalaupun ada konflik itu lebih pada alasan karena tidak ingin sesama muslim di Indonesia beragama dengan otak kosong.

Sekarang apa hubungannya dengan Indonesia? Amerika sedang bersitegang dengan China, bukan tidak mungkin negeri Paman Sam tersebut ingin konflik (Xinjiang) di China itu semakin tersulut dan disebarluaskan dengan nada nyinyir dengan dibalut isu-isu agama, kemudian memperlihatkan pada dunia bahwa China sangat kejam terhadap Islam.

Nah, China kebetulan sedang dekat dengan Indonesia, sebuah negara dengan umat muslim mayoritas yang secara alamiah memang rentan tersulut emosi, rata-rata netizennya mudah terhasut hoax, menjadi sasaran empuk para penghasut untuk membuat gaduh Negara. Jadi, sampai di sini paham?

*Alumnus Hubungan Internasional Unwahas (Universitas Wahid Hasyim Semarang)

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Kepedulian Pemerintah China dalam Pelayanan Haji Umat Muslim Tiongkok

Previous article

BNI Turut Sukseskan Peningkatan Ekspor Seafood ke Amerika Serikat

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Essai