ratik tagak
BudayaPojok BangsaReligius

Ratik Tagak, Budaya Dzikir ala Minang yang Kadang Dianggap Menyimpang

0

ENERGIBANGSA.ID – Video yang memvisualkan gerakan sekelompok jamaah di masjid seperti orang yang sedang bergoyang setelah melakukan salat pernah viral beberapa waktu lalu.

Beberapa netizen beranggapan miring tentang hal itu karena dianggap sebagai budaya yang menyimpang. Bahkan ada yang mengira itu agama baru.

Maka dari itu, mengutip dari detikcom dan berbagai sumber, termasuk dari turnbackhoax, tim energibangsa.id menjelaskan bahwa gerakan tersebut bukanlah sebuah penyimpangan, apalagi membuat agama baru.

Ratik Tagak adalah tradisi dari budaya yang berasal dari Minang yang dilakukan oleh orang-orang usai melakukan solat berjamaah dengan melantunkan zikir dan lafaz Allah dengan cara berdiri sambil menggoyang-goyangkan tangan dan tubuh mereka.

Disebut Tagak karena dilakukan secara berdiri. Biasanya tradisi ini dilakukan dengan ‘komando’ dari seorang ustaz melalui pengeras suara.

Pemuka agama dan para lanjut usia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari masyarakat lainnya. Antara satu orang dengan yang lainnya bergandengan tangan dan menggenggam kedua telapak tangan.

Dengan kompak mereka melakukan gerakan rukuk, tegak dengan iringan zikir. Terkadang karena begitu semangat ada orang yang sampai pingsan karena mengikuti tradisi tersebut.

Setelah melantunkan zikir bersama biasanya Ratik Tagak dilanjutkan dengan makan bersama. Para warga setempat membawa makanan yang disebut dengan tuduang saji.

Tujuannya selain mengajak berdzikir dengan semangat, juga untuk mempererat silaturahmi antara satu warga dengan warga lainnya.

Sebagaimana diulas detikcom, seorang netizen bernama Jefri Nofendi mengatakan bentuk tradisi Ratik Tagak juga dilakukan di dalam masjid. Gerakan seperti bergoyang itu yang menjadi perbincangan oleh netizen. Bahkan ada yang menganggap hal tersebut adalah ajaran sesat.

Jefri mengatakan, Ratik Tagak sering dilakukan dalam perkumpulan, seperti majelis dan kegiatan keagamaan lainnya.

“Jemaah melakukan gerakan Ratik Tagak dengan diiringi zikir ‘Laa ilaaha illallaah’ dengan membungkukkan badan sedikit agar tulang dan otot mengalami relaksasi. Agar menghilangkan rasa kebas, kesemutan, dan gejala keram akibat terlalu lama berdiri, rukuk, dan duduk selama melaksanakan salat tarawih dan menghilangkan letih yang menimbulkan rasa malas,” jelas Jefri.

“Gerakan tangan mengempas ke tanah, selain untuk relaksasi, juga untuk menghancurkan rasa malas yang menghinggap. Malas adalah temannya setan, maka dari itu gerakan tangan mengempaskan ke tanah mengisyaratkan membanting setan malas di dalam diri ke tanah,” ujarnya.

Islam dan Budaya Nusantara

Ustadz Umar Faruq, salah seorang pemuka agama di Kudus menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui tahapan-tahapan yang berbeda dan melalui budaya-budaya yang berbeda.

Jadi tidak mengherankan jika budaya beragama Islam di Minang berbeda dengan di Jawa. Umar mencontohkan budaya Islam di Jawa Tengah dijelaskan melalui wayang, gamelan, dan tembang-tembang Jawa yang sarat akan filosofi.

Solat diistilahkan dengan sembahyang, Tuhan dinamai dengan Gusti. Tujuannya agar pesan Islam bisa tersampaikan dengan mengelaborasikan ajaran Islam dengan budaya terdahulu, biar masyarakat mudah paham, mudah menerima, dan akhirnya ikut masuk Islam.

“dzikir setelah solat di zaman Nabi dilakukan dengan cara tenang, senyap, ya wajar itu di era Nabi dan sahabat, mereka sudah langsung bisa online dengan Allah, lhawong dzikinya bersama kekasih Allah nomor satu. Kalau di nusantara dzikir dilakukan dengan cara diam, senyap gitu ya malah ndak jadi dakwah, lhawong mereka belum bisa melafalkan dzikir dengan baik dan benar,” terangnya.

“belum lagi di Kudus, Islam dijelaskan dengan toleransi, makanya masjidnya malah mirip-mirip dengan tempat ibadah Hindu, dan umat Islam dikudus tidak boleh menyembelih sapi, karena menghormati agama lain,” jelasnya.

Kaitannya dengan budaya Ratik Tagak, Umar menjelaskan bahwa bisa jadi budaya di luar Jawa, terlebih di Minang, memang kebiasaan masyarakat Minang waktu itu lebih suka melakukan gerakan-gerakan fisik agar bersemangat dalam dzikir.

“toh itu juga baik, tidak melenceng, anggap saja itu senam sambil mengingat Tuhan. Salahnya dimana? olahraga itu kan menjaga kebugaran,” ujarnya.

“Al Aqlu Salim fi jismis salim, akal yang sehat ada dalam fisik yang sehat,” lanjutnya.

Maka dari itu, sobat energi tidak perlu menganggap gerakan Ratik Tagak sebagai budaya yang menyimpang, karena itu justru bisa jadi asal mula dan cikal bakal Islam disampaikan di sana, maka lestarikanlah.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Kominfo Pastikan Pornhub Tak Bisa Diakses via VPN, Pakar IT: Kebijakan Sia-Sia

Previous article

Persijap Jepara Juara Liga 3 Nasional 2019!

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Budaya