fbpx
Nasional

Pusdatin Kemdikbud Khawatirkan Imbas Pandemi pada Pendidikan

SEMARANG, energibangsa.id—Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang belum lama ini menggelar webinar nasional. Seminar itu bertajuk “Optimalisasi Penyelenggaraan Pendidikan Islam Formal dan non-Formal pada Era New Normal: Upaya Mencari Solusi Kini dan Ke Depan”, Jumat (20/11) lalu.

Plt. Kapusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hasan Habibie, ST.,MSi, mengkhawatirkan beberapa hal akibat pandemi pada pendidikan, terutama pada siswa dan orangtua.

Dalam materinya ia menyampaikan, para siswa akan ketinggalan pelajaran, meningkatnya kemungkinan putus sekolah, serta ancaman stres. Ia juga menambahkan produktivitas ekonomi orangtua juga melemah. Hal ini karena dampak harus bekerja sambil mengasuh anak di rumah.

Hasan yang berbicara dari perspektif teknologi informasi memandang perlu adanya solusi terkait kekhawatiran tersebut. Ia memberikan gambaran, misalnya dengan pemanfaatan internet untuk metode pembelajaran secara jarak jauh. Serta, siaran pendidikan melalui radio dan televisi.

Tantangan yang dihadapi

Namun, selanjutnya muncul beberapa tantangan yang mesti dihadapi seperti ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat.

Pusdatin Kemdikbud Khawatirkan Imbas Pandemi pada Pendidikan

“Ketersediaan infrastruktur pada beberapa daerah di Indonesia merupakan problem pelik yang tidak bisa diselesaikan setahun dua tahun,” tegasnya.

Tantangan lainnya berupa keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti internet dan kuota, dan relasi guru, murid, orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.

Ia juga berharap semua pihak terutama guru dan dosen untuk memahami perubahan budaya saat pandemi ini.

“Saat bicara teknologi era pandemi, yang paling vital adalah perubahan budaya, karena dampak situasi ini dirasakan oleh guru dan dosen,” sambungnya.

Dampak perubahan budaya

Saat ini, menurutnya, banyak doktor dan profesor yang masuk kategori digital immigrant. Artinya, dunianya, lebih ke buku, penelitian dan jurnal dan dilakukan secara klasikal. Berbeda dengan anak-anak yang mereka adalah digital native, yang dunianya adalah bermain gadget, social media, game online dan sekarang dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara online.

Sementara narasumber lain, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, Dr. KH. Waryono, M.Ag memandang bahwa yang paling terdampak saat era pandemi ini adalah adalah pondok pesantren, mengingat pesantren harus menyesuaikan perubahan budaya terkait protokol kesehatan terutama menerapkan physical distancing.

“Protokol kesehatan mengharuskan adanya physical distancing. Padahal di pesantren satu kamar saja bisa diisi oleh beberapa orang. Saya sendiri dulu ‘mondok’ sekamar berisi  20 orang,” jelasnya.

Selain itu di pesantren beberapa kegiatan dilakukan berkelompok, seperti kegiatan istighosah, mengaji bandongan, makan bersama dan lain sebagainya.

“Tantangan lain di lingkungan pesantren adalah infrastruktur pesantren seperti sanitasi, fasilitas MCK dan dapur yang dimiliki pesantren kadang terbatas dan tidak sesuai dengan rasio jumlah santri,” sambungnya.

Dalam surat keputusan bersama 4 menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran TA 2020/2021 pada Masa Pandemi Covid-19 SKB 4 lembaga pesantren memang dikecualikan. Karena tidak seperti sekolah dan madrasah yang memungkinkan lockdown dan belajar dari rumah. Dari sisi pembelajaran juga tidak bisa dilakukan oleh semua pesantren.

“Pembelajaran daring dilakukan pada sekitar 14 ribu pesantren, padahal kita ada 31.000 pesantren, jadi separuhnya tatap muka,” tegasnya.

Namun dirinya bersyukur bahwa berdasarkan survei Kemenkes, kini  hampir 90 persen pesantren telah memiliki gugus tugas. Artinya pendidikan formal dan non formal pesantren tetap berjalan dengan mengikuti protokol kesehatan yang dikawal gugus tugas pesantren ini.

Pusdatin Kemdikbud Khawatirkan Imbas Pandemi pada Pendidikan

Strategi kampus sehat

dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes. Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dalam slide-nya memaparkan strategi yang harus dilakukan terkait kampus sehat dan Health Promoting University (HPU).

Strategi tersebut tertuang pada lima hal, yaitu komitmen dan kebijakan pimpinan universitas, kegiatan akademik tentang kesehatan (pendidikan dan penelitian), peningkatan kapasitas Individu untuk hidup sehat, staf universitas dan mahasiswa yang sehat, lingkungan sosial dan fisik yang mendukung perilaku sehat.

Narasumber lain dari unsur praktisi pendidikan, Moh. Miftahul Arief, S.Pd.I., MPd. memaparkan best practice di lembaganya. Sebagai pelaku pendidikan ia merasakan langsung dampak pandemi pada lembaganya.

“Negatifnya di tempat kami masih ada beberapa wali murid masih sulit sesuaikan pendampingan anaknya, selain itu di antara mereka ada yang masih memiliki stigma PBM Daring boros anggaran,” tegas kepala MI Miftahul Akhlaqiyah Semarang dan penerima award Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI atas Praktik baik Pembelajaran di masa pandemi ini.

Adapun dampak positif yang dirasakan di lembaganya, seperti guru lebih melek IT dan mahir produksi berbagai sumber belajar termasuk video, selain itu program kehumasan dan strategi branding lebih mudah dan murah via aneka platform medsos. (*)

Related Articles

Back to top button