fbpx
Kabar DaerahKabar Indonesia

Ada Yang Baru, Petugas Gunakan Walking Billboard Untuk Sosialisasi Protokol Kesehatan di Semarang

SEMARANG, energibangsa.id – Petugas promosi kesehatan (promkes) puskesmas Semarang terus melakukan inovasi dalam edukasi protokol kesehatan.

Tekad kuat ini mendorong kesadaran dan mengingatkan masyarakat untuk menerapkan 3M yakni mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Berbagai inovasi diciptakan agar masyarakat tak jenuh mendengarkan himbauan tentang protokol kesehatan. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah walking billboard berisi pesan-pesan protokol kesehatan.

Petugas promkes laki-laki akan berkeliling di Kota Lama dengan menggendong walking billboard seukuran badan selama libur Nataru.

Salah satu Petugas Promkes perempuan juga membawa pengeras suara sembari bersuara memberikan imbauan-imbauan kepada pengunjung Kota Lama untuk menerapkan 3M.

“Jangan lupa ya untuk selalu mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker. Maskernya yang benar, jangan dagunya yang dikasih masker, tapi dari hidung sampai ke dagu,” seru seorang petugas promkes.

Edukasi mudah dengan walking billboard

Salah satu petugas promkes puskesmas, Reina menjelaskan adanya walking billboard lebih memudahkan dalam mengedukasi masyarakat, terlebih di tempat kerumunan seperti di Kota Lama.

“Kalau hanya suara saja kurang jelas. Jadi, melalui alat ini masyarakat bisa mendengarkan imbauan sembari melihat dan membaca pesan-pesan yang tertera,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam juga menyampaikan edukasi protokol kesehatan adalah hal yang berkelanjutan. Karena itu, perlu ada inovasi dan kreatifitas agar masyarakat tidak bosan.

Sebagai media sosialisasi prokes

Sudah beberapa bulan walking bilbard digunakan Dinas Kesehatan Kota Semarang sebagai media sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat dan hasilnya cukup efektif.

Masyarakat mulai paham dan tau prokes yang baik dan benar. Alat walking billboard tersebut nantinya akan digunakan oleh petugas puskesmas secara bergantian.

Pihaknya membeli empat alat dengan anggaran sekitar Rp 25 juta per alat. Alat ini baru pertama kali digunakan di Kota Lama pada Kamis (25/02) kemarin. (Nicola/EB)

Related Articles

Back to top button