fbpx
Nasional

Program Kampus Mengajar Disebut Mirip KKN, Bagaimana Menurutmu?

JAKARTA, energibangsa.id—Belum lama ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis program Kampus Mengajar.

Program itu dilakukan dengan mengajak mahasiswa semester 5 ke atas menjadi pengajar di sekolah dasar (SD) di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Dari kegiatan ini, mahasiswa bakal mendapat nilai setara 12 satuan kredit semester (SKS).

Fasilitas mahasiswa

Mahasiswa juga bakal mendapat bantuan uang kuliah tunggal (UKT) hingga Rp2,4 juta dan biaya hidup Rp700 ribu per bulan.

Dengan jumlah kuota peserta yang disiapkan mencapai 15 ribu orang, setidaknya dibutuhkan dana Rp67,5 miliar. Uang tersebut berasal dari dana pendidikan abadi yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Menyorot kasus itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji menilai program Kampus mengajar tak jauh beda dari Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Pemborosan uang negara

Ubaid lebih menyoroti efektivitas penggunaan dana negara yang dikeluarkan untuk program tersebut. Lalu, ia menilai Kampus Mengajar berpotensi buang-buang uang negara.

“Yang dilakukan, mendorong ke daerah 3T, itu sudah dilakukan oleh kampus-kampus. Ada kampus yang mendorong mahasiswa melakukan KKN ke daerah 3T,” kata Ubaid, Rabu (10/2/2021).

Daripada membuat program baru, ia berpendapat seharusnya Kemendikbud berupaya memaksimalkan KKN yang sudah ada.

Caranya dengan memastikan sebelum terjun ke lapangan, mahasiswa dibekali tujuan dan strategi yang jelas untuk mencapainya.

Selain itu, ia menyinggung pembekalan peserta Kampus Mengajar yang hanya dilakukan 7 hari. Sementara menurutnya, dampak yang berarti dari intervensi mahasiswa di daerah baru bisa terjadi jika dipersiapkan dengan benar.

Lantas, bagaimana tanggapanmu sobat? (*)

Related Articles

Back to top button