fbpx
Essai

Potret Aliran Penghayat Mencari Pengakuan (Agama) Lewat Film ‘Atas Nama Percaya’

Oleh: Nicola Adelia, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Udinus Semarang

ENERGIBANGSA.ID—Indonesia memang memiliki banyak budaya yang menjadi ciri khas bagi bangsa kita. Sayangnya, pemerintah sendiri belum kelar dalam mencatat seluruh budaya yang ada.

Termasuk di dalamnya, agama, suku, adat istiadat yang sangat beragam. Dan, melalui film “Atas Nama Percaya” ini kita akan melihat budaya Indonesia dari sisi lain kepercayaan: agama.

Film itu menceritakan fenomena kepercayaan (agama budaya/ penghayat) selain enam agama resmi pemerintah. Secara ‘tedeng aling-aling’, film “Atas Nama Percaya” mengisahkan diskriminasi agama kepercayaan (agama budaya). Yang kadangkala dicap sebagai sekte atau ’sesat’.

Berjuang mendapat pengakuan

Lewat film “Atas Nama Percaya ini” kita diperlihatkan bagaimana beberapa kepercayaan untuk berjuang dalam mendapatkan pengakuan dari negara dan masyarakat.

Penghayat kepercayaan menjadi subjek yang penting bagi Indonesia. Penghayat sudah masuk terlebih dahulu sebelum negara Indonesia terbentuk. Bahkan mereka sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Namun sayang, dalam hal kepercayaan banyak yang masih ‘terjajah’, tidak diakui dan membuat mereka dipaksa untuk memilih agama yang mereka tidak dipercayai.

Negara, sebelumnya, juga memaksa untuk memilih salah satu agama yang diakui untuk pendataan penduduk.

Alhasil, banyak yang mengambil agama hanya sebagai pendataan saja.

Hal tersebut seharusnya tidak dibenarkan. Pasalnya, kepercayaan adalah milik perorangan dan bukan atas paksaan orang lain bahkan negara.

Studi kasus Agama Penghayat: Marapu

Sama seperti halnya ajaran agama Marapu yang mempunyai kepercayaan bahwa agama tersebut diturunkan oleh leluhur mereka. Sehingga mereka menganggap Marapu sebagai agama.

Agama menurut saya sendiri juga pastinya diturunkan dari leluhur saya, kakek nenek, orang tua hingga ke saya sendiri. Pun, sama dengan agama Marapu yang diturunkan dari leluhur mereka.

Membuat mereka mempertahankan budaya dan adat agar tidak punah. Tetapi negara hanya melihat Marapu sebagai budaya (adat/ penghayat) saja padahal Marapu memahami adatnya sebagai agama dari leluhurnya.

Marapu sebagai Aliran Kebatinan Perjalanan (AKP) juga sebelumnya mengalami diskriminasi. Hal ini karena dianggap masyarakat sebagai aliran sesat, dan bahkan dituduh sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia).

AKP sendiri mengajarkan tentang perjalanan kebatinan kepada Yang Maha Kuasa. Mereka tidak mengajak orang lain untuk bergabung. Juga tak memaksa orang juga untuk keluar dari AKP.

Namun kecaman masyarakat sebagai aliran sesat membuat masyarakat yang menganut AKP merasa terkucilkan.

Ditinjau dari HAM

Dalam hak asasi manusia (HAM), kita sebagai warga negara yang sadar akan banyaknya perbedaan budaya seharusnya lebih menghargai adanya perbedaan. Negara juga seharusnya mampu menghargai penghayat kepercayaan.

Masih banyak penghayat yang mengalami diskriminasi. Padahal penghayat kepercayaan hidup bersahaja dan tetap menjaga tanah tempat tinggal mereka.

Maka, menjadi keuntungan juga bagi Indonesia karena adanya masyarakat penghayat pastinya mereka akan menjaga tempat tinggal mereka. Pun, meski tak diakui oleh negara mereka tetap mempertahankan adat dan budaya mereka.

Diakui negara

Indonesia kini telah mengeluarkan regulasi bahwa penghayat kepercayaan sudah bisa mengganti status agama mereka. Penghayat menjadi ‘kepercayaan’ Kepada Tuhan YME.

Ini adalah angin segar bagi masyarakat penganut ajaran penghayat kepercayaan. Negara juga mulai memfasilitasi anak-anak yang bersekolah dengan pedoman “kepercayaan”.

Buku kepercayaan ini bersifat umum sehingga anak-anak yang bersekolah tetap menjaga spiritualitasnya sejak dini melalui sekolah.

Sebagai warga negara, tentunya kita perlu mengetahui dan mempelajari adanya penghayat kepercayaan atau agama leluhur di Indonesia.

Hal ini penting bagi kita untuk mengenali dan menghargai. Sebagai bentuk dukungan masyarakat penghayat kepercayaan dan terbebas dari diskriminasi.

Selama satu sama lain tidak mengganggu atau menjatuhkan agama dan kepercayaan lain, maka kita sama-sama akan membuat budaya Indonesia menjadi semakin kuat dalam keanegaragaman. (*)

Related Articles

Back to top button