Tokoh Kita

Pierre Tendean : Kisah Cinta dan Dedikasinya

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Lettu Pierre Tendean. Siapa yang tak kenal dengan satu pahlawan revolusi ini? Kisah perjuangan dan kisah cintanya mengiringi kenangan akan jasa Pierre Tendean.

Pierre Andreas Tendean  yang dikenal sebagai ajudan A.H. Nasution merupakan anak dari pasangan AL Tendean dan ME Cornet. Ia merupakan keturunan Minahasa dari ayahnya serta sedikit darah Perancis dari ibunya.

Sebagai anak seorang dokter di Minahasa, orangtuanya sempat mengarahkannya untuk menjadi seorang dokter. Namun tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang tentara, membuat Pierre berhasil masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada 1958 dan lulus pada 1961.

Di lingkungan TNI AD, Pierre Tendean dikenal sebagai The Rising Star. Hal ini berkat kerja kerasnya membuat tiga jenderal ingin menjadikannya ajudan. Ketiga ajudan tersebut ialah Jenderal AH Nasution, Jenderal Hartawan, dan Jenderal Kadarsan. Dan diusia 26 tahun, Pierre berhasil menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution.

Kisah Heroik Pierre Tendean

Kecemerlangan karir serta masa depan Lettu Pierre Tendean harus berakhir pada 30 September 1965, setelah ia diculik kemudian dibunuh dan jasadnya dibuang di sekitar Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tembakan yang diarahkan Pasukan Tjakrabirawa pada dada dan leher, tak bisa menyelamatkan nyawa pahlawan berpangkat letnan satu ini.

Kematian Pierre Tendean tentu membawa duka mendalam bagi keluarganya teruma sang ibu, yang biasanya merayakan ulang tahunnya bersama sang anak di Semarang pada 30 September.

Kala itu, Pierre harus menunda kepulangannya ke Semarang mengingat tugasnya sebagai pengawal A.H Nasution. Namun di sela istirahatnya, suara keributan membawanya untuk pergi keluar. Disana telah ada sekelompok orang yang menodongkan senjata pada Pierre Tendean.

Disinilah tampak betapa Pierre Tendean sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Dengan tegar ia mengaku sebagai Jenderal A.H Nasution, untuk melindungi atasannya meski ia tahu, ia akan dalam bahaya.

“Saya Jenderal AH Nasution” ungkapnya.

Dan berakhir lah ia diculik, dibunuh dan dibuang dalam keadaan kaki terikat. Dan sebagai bentuk penghormatan, dianugerahilah-nya pangkat Kapten.

Kisah Cinta yang Pilu

Kisah tragis dan kematian Pierre Tendean, tak hanya membawa luka bagi keluarga namun juga kekasihnya, Rukmini.

Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin bertemu kala Pierre ditugaskan di Medan tahun 1963 sebagai Komandan Peleton Batalyon Tempur Kodam Bukit Barisan. Ketika itu, ia diajak temannya bertandang ke rumah Chaimin, disana untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Rukmini, anak Chaimin.

Tetap menjalin kasih meski terhalang restu orangtua karena perbedaan agama, pada 31 Juli 1965 mereka berniat meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan dengan sebelumnya mengadakan lamaran. Rencananya, pernikahan akan digelar pada November 1965 di Medan.

Ajakan menikah ini diiringi keseriusan Pierre. Ia dikabarkan mengambil kerja sampingan sebagai sopir traktor perata tanah untuk pembangunan Monas. Pierre juga sudah mencari informasi rumah kontrakan di kawasan Menteng untuk ditempati berdua dengan Rukmini pasca menikah nanti.

Takdir berkata lain, sebelum pernikahan digelar ajal sudah terlebih dahulu mendatangi The Rising Star dua bulan sebelum pernikahan terlaksana.

Perlu waktu lima tahun lamanya untuk Rukmini dapat mengikhlaskan kepergian sang pujaan hati untuk menikah dengan pria lain. Bahkan pada saat perayaan kesaktian Pancasila, Rukmini hadir untuk mengenang kekasihnya. (Sasa/EB).

Related Articles

Back to top button