fbpx
Ragam Bangsa

Permen dari Bank Haram Dimakan? Simak Penjelasannya

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Baru-baru ini jagat raya sempat dihebohkan oleh postingan dari salah satu postingan netizen. Melalui base di twitter @subtanyarl (16/9/2020), seorang netizen mempertanyakan mengenai hukum di balik memakan permen yang biasa disediakan oleh pihak bank.

Selama ini pemandangan pihak yang menyediakan permen dan air mineral menjadi pemandangan yang lumrah dilihat. Biasanya permen tersebut disuguhkan untuk para nasabah yang datang sembari menunggu dipanggil sesuai dengan nomor antrian.

Namun rupanya hal yang dianggap lumrah tersebut menimbulkan pertanyaan netizen. Dalam tweet di base tersebut ia menuliskan:

“Terlihat sepele? Makan permen fasilitas bank. Permen ini HARAM hukumnya dimakan, begitu juga air minum, makanan, hadiah tas jam dinding dari bank. Karena seluruh hutang berbuah manfaat, mau itu permen atau yang lain maka hukumnya riba,” tulisnya.

Rupanya hal tersebut menimbulkan pro dan kontra dari kalangan netizen. Banyak yang berpendapat jika pernyataan tersebut belum dilandasi oleh dasar yang kuat. Namun ada juga yang berpendapat yang serupa mengenai hukum haramnya riba. Salah satu pendapat yang diberikan adalah

“Kalau semua bilang bank haram mending nggak usah pakai jasa bank deh. Nabung aja di celengan duit yang berjuta-juta, bank juga ambil bunga sedikit untuk gaji karyawannya. Gue sebagai keluarga yang banyak kerja di bank nggak senang dikatain begini melulu,” tutur netizen.

“Gini nder, tolong koreksi ya kalau salah. Pas dulu aku belajar agama, bank itu emang jatuhnya kayak riba kan, makanya dibilangnya haram. Makanya ada syariah yang non bunga. Makan permen dari bank mau dibilang haram ya Wallahu a’lam karena dari dulu kan riba itu enggak boleh,” sahut lainnya.

Lalu sebetulnya, bagaimana hukum dalam islam mengenai hal tersebut?

Mengutip dari Muslimah.or.id, para ulama memiliki dua pendapat mengenai makanan yang disediakan oleh pihak bank. Sebagian ulama mengatakan memperbolehkan hal tersebut namun juga ada yang melarangnya. Ibnu Rusyd al-Jadd, kakek dari Ibnu Rusyd penulis Bidayah al-Mujtaahid melarang keras hal itu.

Ia menyebutkan “Baik dia memiliki harta lain, atau tidak punya harta selain itu, tidak halal baginya melakukan jual beli dengannya baik barang dagangan maupun benda lainnya. Tidak boleh mengonsumsi makanan atau menerimanya sedikit pun dari hibahnya. Siapa yang melakukannya sementara dia tahu bawa itu riba, maka kebiasaannnya seperti kebiasaan orang yang suka ghasab,” (Fatwa Ibnu Rusyd, 1/645).

Sementara itu para ulama yang memperbolehkan adalah Ibnu Utsaimin yang berdalil dengan aktivitas muamalah yang terjadi di antara Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dengan orang-orang Yahudi di sekitar Madinah.

“Banyak di antara orang Yahudi itu yang pekerjaannya sebagai rentenir bagi penduduk Madinah di masa sebelum Islam datang.” Tafsir surat Al Baqarah, Ibnu Utsaimin.

[Tata/EB].

Related Articles

Back to top button