fbpx
Ragam Bangsa

Perintah Daendels Membuat Jalan, Kenapa Harus Berujung di Panarukan?

ENERGIBANGSA.ID – Setelah Jalan Anyer-Panarukan selesai dibangun, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan tiga peraturan terkait dengan pengaturan dan pengelolaan jalan raya tersebut.

Peraturan pertama (12 Desember 1809), tentang aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya.

Selain itu, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan.

Peraturan kedua (16 Mei 1810), tentang penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya.

Peraturan ketiga (21 November 1810), tentang penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah. Maupun swasta dari Jakarta, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya.

Hingga ke Penarukan

Lantas, kenapa jalan tersebut harus berujung di Panarukan?

Tujuan awal dibangun adalah untuk kepentingan ekonomi. Ketika berkunjung ke Surabaya (awal Agustus 1808), Daendels melihat bahwa jalan dari Surabaya perlu diperpanjang ke timur.

Jadi, Deandels memutuskan membangun jalan dari Anyer-Panarukan.

Alasannya, wilayah Ujung Timur (Oosthoek) merupakan daerah yang potensial bagi produk tanaman tropis selain kopi, seperti gula dan nila.

Di samping itu, ada kemungkinan perairan di sekitar selat Madura memberikan peluang bagi pendaratan pasukan Inggris.

Maka, dia memerintahkan F. Rothenbuhler, pemegang kuasa (gesaghebber) Ujung Timur sebagai penanggungjawab pembangunan jalan Surabaya sampai Ujung Timur yang dimulai pada September 1808.

Titik akhir jalan di Ujung Timur terletak di Panarukan, bukan Banyuwangi. Pertimbangannya, Banyuwangi dianggap tidak memiliki potensi sebagai pelabuhan ekspor.

Panarukan dipilih karena dekat daerah lumbung gula di Besuki, serta memiliki tanah partikelir yang dapat menghasilkan produk-produk tropis penting lainnya.

(ara)

Related Articles

Back to top button