Kesehatan

Peringati World Mental Health Day, Pentingnya Kita Peduli pada Kesehatan Mental

ENERGIBANGSA.ID ā€“ 10 Oktober tepat diperingati sebagai World Mental Health Day 2019. Hari Kesehatan Jiwa Dunia ini untuk meningkatkan prioritas global terhadap kesehatan jiwa.

Sejak pertama kali pada 10 Oktober 1992 Hari Kesehatan Jiwa Sedunia sudah diperingati 27 kali, Melansir dari situs resmi World Federation For Mental Health (WFMH), peringatan ini diinisiasi oleh Wakil Sekretaris Jenderal, Richard Hunter.

Sebagian sobat energi di Indonesia mungkin masih sepele menganggap peringatan World Mental Health Day ini, padahal masih banyak kasus di luar sana yang mengidap gangguan mental membutuhkan uluran tangan.

Pada 2019, tema Hari Kesehatan Jiwa yaitu Mental Health Promotion and Suicide Prevention atau Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri. Bukan tanpa alasan hal tersebut menjadi tema untuk peringati Hari Kesehatan Jiwa.

Mengapa ada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia?
Mengutip dari laman World Federation For Mental Health (WFMH) tujuan awalnya, secara umum mengampanyekan advokasi kesehatan mental dan mendidik masyarakat tentang isu-isu yang relevan terkait kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Seiring berjalannya waktu, gerakan untuk terus gencar berkampanye memperingati Hari Kesehatan Mental terus berkembang.

WHO turut memberikan notifikasi ke seluruh dunia untuk berkontribusi terhadap masalah gangguan mental ini dengan tajuk ā€œ 40 Second Of Actionā€.
Berdasarkan data WHO, bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia. Hal ini memberitahu kita jika setiap orang sebenarnya bisa menjadi bagian penting mencegah terjadinya bunuh diri.

Begitu menyeramkan apabila tidak ditangani dengan tepat suatu permasalahan juga akan bisa membuat kita mengalami gangguan mental. Lalu, sebenanarnya apa yang dibutuhkan orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan mental? Bagaimana kita membantunya?

Sebagai ruang publik yang dapat beraktifitas dengan normal, kita jangan menutup mata adanya orang-orang yang membutuhkan bantuan serta uluran tangan untuk meredam konflik yang ada dalam diri mereka. Merubah cara respon kita yang tidak menjudge/ bullying, membuat down, dan berhenti berstigma jika mereka itu aneh tidak pantas untuk dijadikan teman dan hal lain yang merendahkan mereka.

Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga Surabaya, Margaretha P.G menuturkan, gangguan mental bisa terjadi karena ketidakseimbangan biologis yang dapat menjadikan sesorang itu depresi. Jika ada teman yang memiliki sikap mudah stress, cemas atau tersinggung kita perlu menjadi pendengar yang baik untuk mereka merasa lebih lega. Selain itu kita menyarankan untuk mereka ke psikiater yang bisa lebih membantu.

Ruang terbuka hijau juga menjadi fasilitas publik yang penting untuk dimanfaatkan bermeditasi merelaxkan diri, berolah raga, serta melihat lingkungan yang segar untuk menjernihkan pikiran, serta membuat masyarakat menghilangkan penat dari padatnya suasana pekerjaan.

Dampak mental illness yang dapat membawa sesorang untuk mengakhiri hidupnya itu sangat membutuhkan perhatian dunia, karena seharusnya mereka memiliki hal hidup yang sama.

Related Articles

Back to top button