Kabar Indonesia

Peringati Hari Toleransi Sedunia, Apa Kabar Toleransi di Negeri Bhineka Tunggal Ika?

ENERGIBANGSA.ID – Hari Toleransi Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1996, dengan harapan untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa.

Majelis Umum PBB mengundang Negara-negara Anggota PBB untuk merayakan Hari Toleransi Internasional pada 16 November. Mengapa kita perlu memperingati Hari Toleransi Internasional?

Semakin maju peradaban dunia modern sekarang ini seperti tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian lapisan masyarakat Indonesia untuk belajar lebih maju. Isu-isu yang mengatasnamakan agama masih sering terjadi yang akibatnya mengobrak-abrik dan menyendat tatanan pemerintah dalam menyatukan Indonesia.

Sobat Energi pasti sudah menyimak berita beberapa hari lalu tentang MUI di Jatim yang melarang pengucapan salam selain ‘assalamua’alaikum’. Sebenarnya hal-hal yang menyinggung agama bukan kali itu saja terjadi di Indonesia, ada beberapa kasus yang menyeret mind set masyarakat sehingga menimbulkan kesensitifan berpersepsi.

Cara pandang yang hanya melihat satu sisi saja membuat mereka memiliki pandangan gelap kearah depan, hal-hal sepele yang tidak perlu diperdebatkan seolah menggambarkan sumber daya manusia Indonesia tidak naik kelas dari masa ke masa.

Semua agama dan keyakinan membawa kebaikan bagi umatnya, seharusnya kita lebih berbangga hati karena dilimpahkan kekayaan yang tidak dimiliki negeri lain. Bahkan, perbedaan itu telah berpuluh-puluh tahun lalu kita ketahui dan lalui bersama.

Menengok kembali asal muasal terbentuknya Indonesia, sebenarnya siapa yang perlu membaca kembali sejarah Indonesia dan memiliki pemikiran lebih terbuka?

Tim energibangsa.id akan mengajak Sobat Energi untuk menelusuri rekam jejak peradaban beragama yang menduduki tanah Indonesia perlu seluruh lapisan masyarakat negeri +62 ketahui kelompok pendorong keanekaragaman agama dan budaya pada abad ke 2 dan ke 4 Masehi yang dulunya dimayoritasi oleh Hindu-Budha. Kemudian pada abad 13 Islam mulai dibawa masuk dari Gujarat India. Setelah itu pada abad 16 kedatangan bangsa Eropa yang mampir dan menyebarkan ajaran Kristen Protestan.

Biarkan perbedaan hidup beriringan untuk memberikan keindahan. Kita harus kembali memiliki sikap “Lita’arafu” yaitu saling mengenal. Kita sebagai warga negara juga harus mengingat kembali pada tujuan Pemimpin negara kita yaitu untuk membuat Indonesia Maju. Tak hanya maju dalam infrastruktur dan teknologi tapi sumber daya manusianya juga harus memiliki pemikiran yang maju.

Jadi sudah sampai mana kesadaran toleransi kita? Mari tak mempermasalah hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan, karena perihal agama sangat sensitif dibicarakan. Melihat kembali pada dasar negara kita Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika jika kita berawal dari keberagaman yang duniapun kagum melihatnya.

Marilah kita warga +62 berbangga diri hidup di negara super kaya dengan perbedaan, tidak perlu terlalu ingin merubah Indonesia menonjol dengan salah satu agama yang ada. Masing-masing dari kita perlu bercermin, harus bersikap seperti apa kita sebagai manusia yang memanusiakan. Rasa toleransi yang juga jangan pernah dilupakan.

Related Articles

Back to top button