fbpx
Sosial & Budaya

Perbedaan Bahasa Jawa Kuno dan ‘Modern’

ENERGIBANGSA.ID– Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terpadat di Indonesia. Bahkan menurut Wikipedia, pulau Jawa masuk urutan ke-13 sebagai pulau terluas dengan jumlah penduduk terpadat di dunia, yaitu sekitar hampir 160 juta jiwa.

Dari sisi budaya yang dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY, dan budaya Jawa Timur.

Sedangkan untuk bahasa, bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua fase bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Jawa Kuno dan bahasa Jawa Baru.

Bahasa Jawa Kuno

Bentuk terawal bahasa Jawa Kuno yang terlestarikan dalam tulisan, yaitu Prasasti Sukabumi, berasal dari tahun 804 Masehi. Sejak abad ke-9 hingga abad ke-15, ragam bahasa ini umum digunakan di pulau Jawa.

Bahasa Jawa Kuno lazimnya dituliskan dalam bentuk puisi yang berbait. Ragam ini terkadang disebut juga dengan istilah kawi ‘bahasa kesusastraan’, walaupun istilah ini juga merujuk pada unsur-unsur arkais dalam ragam tulisan bahasa Jawa Baru.

Sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno merupakan adaptasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India.

Sebanyak hampir 50% dari keseluruhan kosakata dalam tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berakar dari bahasa Sanskerta, walaupun bahasa Jawa Kuno juga memiliki kata serapan dari bahasa-bahasa lain di Nusantara.

Ragam bahasa Jawa Kuno yang digunakan pada beberapa naskah dari abad ke-14 dan seterusnya terkadang disebut juga “bahasa Jawa Pertengahan”.

Walaupun ragam bahasa Jawa Kuno dan Jawa pertengahan tidak lagi digunakan secara luas di Jawa setelah abad ke-15. Kedua ragam tersebut masih lazim digunakan di Bali untuk keperluan ritual keagamaan.

Bahasa Jawa Baru (Modern)

Bahasa Jawa Baru tumbuh menjadi ragam literer utama bahasa Jawa sejak abad ke-16. Peralihan bahasa ini terjadi secara bersamaan dengan datangnya pengaruh Islam.

Awalnya, ragam baku bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa wilayah pantai utara Jawa yang masyarakatnya pada saat itu sudah beralih menjadi Islam.

Karya tulis dalam ragam bahasa ini banyak yang bernuansa keislaman, dan sebagiannya merupakan terjemahan dari bahasa Melayu.

Bahasa Jawa Baru juga mengadopsi huruf Arab dan menyesuaikannya menjadi huruf Pegon. Kebangkitan Mataram menyebabkan ragam tulisan baku bahasa Jawa beralih dari wilayah pesisir ke pedalaman.

Ragam tulisan inilah yang kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar bagi ragam baku bahasa Jawa masa kini.

Pada masa kebangkitan Mataram pada abad ke-17 menjadi awal adanya  pembedaan antara tingkat tutur Ngoko dan Krama yang sebelumnya tidak dikenal dalam bahasa Jawa Kuno.

Buku-buku cetak dalam bahasa Jawa mulai muncul sejak tahun 1830-an, awalnya dalam aksara Jawa, walaupun kemudian alfabet Latin juga mulai digunakan. Sejak pertengahan abad ke-19, bahasa Jawa mulai digunakan dalam novel, cerita pendek, dan puisi bebas.

Kini, bahasa Jawa digunakan dalam berbagai media, mulai dari buku hingga acara televisi. Ragam bahasa Jawa Baru yang digunakan sejak abad ke-20 hingga sekarang terkadang disebut pula “bahasa Jawa Modern”. (ara/ EB)

Related Articles

Back to top button