Essai

Perangi Corona, Sandal Jepit Penambah Bahagia!

Oleh : Andrepedia

ENERGIBANGSA.ID – Sekian tahun saya nulis berbagai artikel, sekian tahun juga saya membaca artikel dari Dahlan Iskan. Ketika saya bukukan, saya lupa artikel yang saya tulis tentang apa dan inspirasinya darimana. Sehingga kadang ketika ngisi di suatu acara kebingungan menceritakan inspirasinya. Karena gak ada hari dan tanggalnya. Nanti di bawah akan disiplin saya tuliskan.

Soal korona ini, informasinya sudah terlalu banyak. Baik yang beneran atau hanya asumsi asumsi dari ahli virus dadakan. Whatever, korona sudah membuat banyak langkah ekonomi terhenti.

Paling miris lagi kalau lihat di Jawa Tengah 1 juta lebih karyawan yang di rumahkan. Lalu ada juga video beredar tangisan tangisan karyawan sebuah supermarket yang juga di rumahkan. Apalagi ditambah yang share video ngasih caption yang memojokan pemerintahan.

Jadi campur aduk perasaan melihatnya. Ada sedih, ada jengkel, dan menyayangkan juga habit menyalahkan pihak lain. Kalau ini di pandang sebagai takdir, yang mana asalnya adalah dari Tuhan, apakah juga akan menyalahkan Tuhan?

Di luar dunia maya, kemarin saya meeting di kantor kepolisian di Semarang. Ada sesuatu yang harus diurusin kaitannya dengan bisnis. Begitu masuk pintu gerbang, mobil di berhentikan, disuruh minggir. Saya sempat berpikir, “wah belum tahu nih yang didalam mobil ada siapa saja”. Tapi itu SOP.

SOP dalam masa terjadinya wabah korona ini. Semua yang masuk kantor harus turun dari mobil, lalu diukur suhu tubuhnya. Para petugas dalam menjalankan SOP nya tidak pandang bulu. Padahal sendainya masker dibuka, mungkin petugas agak segan melihat dengan siapa saya masuk kantor.

Baris, lalu cuci tangan, lalu dilap dengan tisu yang sudah di sediakan. Tidak cukup sampai disitu saja, setelah cuci tangan memakai hand sanitizer, lalu masuk lagi ke dalam ruangan untuk “dimandikan” dengan asap disinfectan mungkin. Baru setelah itu di ijinkan masuk mobil lagi, lalu ke parkiran.

“Ribet ya ndan” kata saya.

“Ya begitulah, kepolisian sekarang sangat sibuk sibuknya mengurus korona ini” kata beliau.

Lalu kami masuk kantor.

Tidak lama meeting selesai.

Oh ya, saya pas punya acara online. Yaitu memberikan penjelasan tentang kursus online bahasa jepang. Yang diikuti hampir 150 orang dari berbagai penjuru. Tapi karena meeting dengan kepolisian, akhirnya sesi penjelasan saya adakan malam hari.

Meeting selesai, saya keluar lagi cari kopi di sekitar kantor di kepolisian kota besar semarang. Kita bertiga memakai baju biasa, tapi mengejutkan pemilik warung kopi karena obrolan kami berat. Yaitu soal hukum, kriminal, tapi balik lagi bahas korona.

Mengikuti ritme kegiatan kawan saya ini, kayak lagi hidup dalam komik konan. Sebentar sebentar kami nyaman bisa leyeh leyeh disopirin naik alphard, tapi setelah itu keliling pakai moda BRT, jadi tahu ternyata transportasi BRT atau Trans Semarang ini murah meriah dan cukup nyaman.

Kemarin, saya pulang kerumah gantian moda lain. Yaitu naik ojol.

Didunia maya wira wiri soal “penderitaan” ojol. Saya kira tidak hanya ojol, tapi juga lainnya yang tah sendirilah siapa saja yang saat ini kesulitan ekonomi.

Kali ini, saya ingin mendengar kisah nyatanya. Saya order ojol.

Di aplikasi terdaftar sepeda motornya honda beat. Tapi ketika ojol nya datang menghampiri saya, saya sempat bingunh yang datang honda scoopy.
Buat saya gak masalah, yang penting driver sama.

Masalah ketika drivernya gak sama. Misal di foto bapak wahyu, tapi ketika datang ojolnya LBP. Wah, sebagai anak buah sontoloyo pasti bisa gembrobyos saya. Haha

Ojol datang, dengan jaket lusuh, rambut berantakan tidak beraturan dan nampaknya driver ojolnya kurang istirahat. Sangat bisa dibaca dari matanya.

Tapi, keramahan ojol itu tetap terasa ketika dia mulai menyapa dan menanyakan tentang apakah saya yang memesan ojol atau bukan.

Tidak lama kemudian saya naik, dan dalam perjalanan mulailah dia bercerita. Tentang bagaimana dia melayani tamunya, tentang bagaimana masa masa korona begini.

Sekilas dia bercerita suatu ketika mengantarkan tamunya, di tengah jalan ada tawuran lalu motor balik lagi menghindari masa yang tawuran.

Saya langsung berpikir, hal hal demikian pasti ada hubungannya dengan ekonomi. Maklum negara maju bernilai tuju, atau pitu dalam bahasa jawa. Alias pitulungan.

Sambil jalan dia bercerita tentang sulitnya mencari sesuap nasi, apalagi saat krisis seperti ini. Mereka harus makan, harus bayar BPJS, harus bayar sekolah anaknya dll. Kalau 5 thun lalu pendapatan 2 jt perbulan masih bisa jalan, sekarang udah mentok gak kelaparan aja udah bersyukur. (Tahan untuk tidak menyalahkan pemerintahan).jokowi juga tambah kerempeng mikir negara. Mikir propinsi misal jateng atau dki mah kecil.

Sambil naik ojol, saya melihat sekeliling. Orang banyak yang pakai masker, raut muka kurang begitu ceria, mereka semua berpikir bagaimana melewati masa krisis ekonomi seperti ini. Saya pun demikian.

Lama lama saya berpikir agak terbalik. perangi ojol !
Caranya :

  1. Berhenti sejenak dan kita pikirkan bahwa berbagai mekanisme ini adalah atas izin Tuhan.
  2. Tidak perlu pikirkan sedang ada pandemic corona atau apapun itu. Anggap saja korona tidak ada ! Atau anggap saja itu adalah flue biasa. Memang kenyataannya flue biasa bukan ? Hanya badan kita aja yang antibodinya harus menyesuaikan. Kita udah jauh lebih kuat !
  3. Terutama bagi yang penghasilannya harian, tetap saja keluar rumah dan datangi calon pembeli. Lakukan kegiatan seperti biasa. Pemilik uang juga butuh makan, dan butuh hiburan.
  4. Tidak perlu kuatir dagangan tidak laku, selagi ada usaha pasti jualannya laku ! Yakin saja sama Tuhan !
  5. Tidak pelu takut ke pasar ! Pasar tradisional adalah tempat dimana sirkulasi udara (tanpa AC) berlangsung dengan baik. Insyaallah virus apapu akan terbang ke langit dan mati !
  6. Makanan pokok seperti sembako ada di pasar tradisional, alat alat rumah tangga ada di pasar tradisional, yang jualan baju di prasar tradisional juga ada, yang jualan kuliner di pasar tradisional juga ada, yang jualan pulsa, paket internet, elektronik juga ada. Saatnya hidupkan pasar tradisional !
  7. Bagi yang melek teknologi, belilah barang barang di pasar tradisional, lalu upload di media sosial atau marketplace untuk di jual ke seluruh indonesia. Jangan beli dari alibaba lalu jual lewat platformnya alibaba lagi. Jac Ma udah kaya raya !
  8. Perangi korona dengan tidak terlalu memikirkan korona, pikirkan saja kita harus sering cuci tangan, banyak makan sayur lokal, banyak makan buah lokal, kemana mana pakai saja masker, dan selalu jaga kebersihan.
  9. Jangan tinggalkan sholat jamaah ! Jika masjid langganan tutup, cari masjid lain atau mushola yang buka. Dengan tetap menjaga kebersihan, sering cuci tangan, tidak mengusap muka (kecuali sudah cuci tangan), bawa sajadah sendiri sendiri.
  10. Yang terkena PHK tidak ada salahnya pulang ke desa saja. Di desa desa berbagai tanah masih luas, pekarangan masih luas (kecuali yang sudah dihabisi oleh developer). Kebutuhan sayuran tetap ada, kebutuhan buah buahan tetap ada, kebutuhan daging ayam tetap ada, kebutuhan ikan air tawar tetap ada, kebutuhan unggas unggas tetap ada, kebutuhan beras akan bertambah terus, pelajari dan saat ini adalah MOMENT YANG TEPAT !
  11. Masyarakat hendaknya membeli kebutuhan hidup dari tetangga yang terdekat, menggunakan jasa tukang cukur dari tetangga yang terdekat, memakai baju tidak perlu beli dari toko modern atau mall. Cukup beli kain, jahitkan ke penjahit terdekat. Gunakan berbagai produk dan jasa dari berbagai lingkungan terdekat.
  12. Buka semua jalur komunikasi antar warga, antar rt, antar rw, antar desa yang bersebelahan. Munculkan wacana wacana ekonomi dan produksi kebutuhan masyarakatnya sendiri.
  13. Jika tetap akan menempuh jalur belanja modern. Bangun swalayan, atau toko toko ritel modern dengan cara patungan di desa desa, di rt rt, di rw rw, manfaatkan kerjasama dengan pemilik lokasi pinggir jalan raya. Buat koperasi atau bumdes yang kepemilikannya bersama sama. Modal modal 300.000 atau 500.000 atau 1.000.000 dikumpulkan sama sama bangun toko modern. Buat aplikasi. Buat layanan pesan antar. Masing masing daerah pikirkan

daerahnya dan pemenuhan kebutuhannya secara mandiri. Bangun di desa desa perpustakaan modern dengan diberi fasilitas wifi, hadirkan mentor pemberdayaan dan motivasi, saatnya desa bisa menghidupi diri sendiri. Sekolah libur gak masalah, anak anak tetap belajar langsung tentang kehidupan tanpa harus memenuhi jalanan setiap paginya dan jam pulang sekolah.

Tidak harus ada arus urbanisasi ke kota kota besar. Jika perusahaan perusahaan besar yang pemiliknya kapitalis membutuhkan karyawan, agar siapkan gaji yang besar dan pelatihan pelatihan kewirausahaan supaya terjadi kemitraan.

Perangi korona dengan kembali beraktivitas seperti biasanya. Jangan biarkan perputaran ekonomi terhenti tapi dengan tetap mengindahkan himbauan pemerintah tentang kehati hatian dan budayakan hidup bersih. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”

Sudah saatnya tidak berbangga diri dan mengejar profesi sebagai PNS atau karyawan di perusahaan swasta. Saatnya MEMANDANG DUNIA PERTANIAN, PERIKANAN, PETERNAKAN, PERKEBUNAN adalah sebuah PRIDE tersendiri.

Adalah sebuah GENGSI tersendiri. GENGSI karena perkotaan tidak akan mampu hidup sendiri tanpa pedesaan dengan kekhasannya sebagai produsen pangan dan berbagai kebutuhan perut.

Orang kota paham internet, orang desa juga paham. Orang kota paham facebook, instagram, youtube, google, orang desa juga paham.

Bila perlu pemimpin daerah sudah saatnya memikirkan, BAGAIMANA CARANYA TRANSPORTASI SEMACAM LRT, MRT, jaringan kereta, dibangun antar desa, antar daerah daerah pusat pertanian.

Bila perlu segera pikirkan juga oleh kepala kepala desa, bagaimana bisa menarik tenaga pendidikan dibidang robotik, pemrograman, digital technology, bahasa asing, AI, dan apapun yang bisa di kerjakan dengan komputer, laptop, internet lalu dibuat pusat pendidikan digital dan automasi di desa desa.

Intinya, perangi korona dengan tidak hanya mengeluh, tidak hanya menyalahkan pemerintahan, tidak hanya berfokus pada masalah masalah ekonomi yang remeh temeh.
Allah menjamin rezeki tiap tiap hambanya !
Bagi pelaku usaha, tetap keluarlah dar rumah dan tawarkan kepada mereka yang tidak mau repot keluar rumah.
Bagi kaum menengah yang sedang lockdown, sudah saatnya anda pintar dengan tidak terlalu happy memasuki mall untuk berbelanja. Tapi lebih banyak ke pasar tradisional yang memiliki SIRKULASI UDARA JAUH LEBIH TERJAMIN KEAMANANNYA TERHADAP VIRUS DARIPADA MALL MALL dan TOKO TOKO MODERN yang banyak menghabiskan freon untuk Air Conditioner.

Itulah diatas yang saya pikirkan sambil naik ojol pulang kerumah.

Ketika sampai dirumah, selain telah mendengar kisah pilu bang ojol yang kesulitan ekonomi (terlihat juga dari mimiknya). Driver ojol tersebut hanya memakai sandal jepit dengan kaki yang legam karena menahan panasnya mesin sepeda motor dan panasnya matahari. Sepertinya, itu sandalnya juga bukan ukurannya karena terlalu kecil. Mungkin dibeli 3 atau 4 tahun silam seharga 15.000 dan belum ganti sampai sekarang.

Melihat sandal jepit itu, saya memilih menguras kantong saya dan memberikan semua kertas kertas merah kepada bang ojol. Dan berkali kali bang ojolnya menyebut asma Allah. Lalu saya cuma bisa pesen: “Mas, jangan tinggalkan masjid”

Saya memilih bahagia, daripada mikirin Corona.

*Andrepedia, business coach.

Jumat legi , 10-4-2020

Related Articles

Back to top button