GP Ansor
Essai

Perang Terbesar BANSER NU

0

oleh : Denny Siregar

ENERGIBANGSA.ID – “Kapan perangnya, Gus ? Cape latihan terus, gatal tangan..” Begitu guyonan seorang kader Banser waktu saya sedang bertamu ke markas mereka. Gus Yaqut Ketum Ansor menanggapi dengan guyonan juga, “Entar kalo perang beneran, kamu lari paling kencang..”

Dan kami pun ketawa keras diiringi dentingan gelas kopi dan kepulan asap didalam ruangan. Ngobrol dengan teman2 Ansor dan Banser NU itu selalu nyaman, penuh guyonan.

Pertanyaan “kapan perang..” meski itu dibawakan dengan nada guyonan, sesungguhnya punya makna yang dalam. Yang dimaksud “perang” itu adalah kegemasan kader Banser terhadap kelompok kadal gurun seperti di FPI yang jumlahnya kecil tapi mulutnya besar.

Sudah sejak lama mereka petantang petenteng di depan anggota Banser NU. Gayanya sok jagoan.

Yang pernah kita lihat, ketika mereka dengan pongahnya bawa bendera hitam ketika Banser punya acara di Garut tahun lalu. Untung kader Banser tidak terprovokasi, cuma membakar bendera mereka saja.

Yang saya khawatir, gesekan2 seperti ini terjadi ditataran bawah. Situasi pada waktu itu seperti ilalang kering yang mudah dibakar.

Elit Banser NU sendiri mengatakan, yang sulit bukan menghantam kelompok kadrun yang jumlahnya kecil tapi mulutnya besar itu.

Tetapi menjaga supaya anggota mereka yang jumlahnya jutaan tidak mudah emosi dan memukul kadrun berjenggot lembar lima itu. Karena sekali ada anggota Banser yang kena hantam, Banser dari seluruh daerah bisa datang dan pada saat itu situasi jelas tidak terkontrol.

Ingat peristiwa tahun 1965, ketika PKI terus menerus memprovokasi kalangan NU bahkan sampai membunuh kyai2 mereka ? Marahnya NU ketika itu mengerikan.

Dan jelas NU menjaga supaya peristiwa kelam itu tidak terjadi lagi. Karena itulah kontrol emosi yang kuat harus mereka punya. Mereka baru bergerak, kalau kyai2 mereka sudah merestui. Ada sistem tongkat komando di organisasi mereka.

Bagi Banser NU, menjaga keutuhan NKRI sekarang ini jauh lebih besar dari sekedar rasa emosi. Mereka sadar, sedikit saja terpancing, maka Indonesia bisa terbakar.

Itulah kenapa ketika seorang anggota Banser dikatai, “kafir, anjing, monyet..” mereka terlihat mengontrol emosi. Bukannya takut, tapi menjaga supaya apinya tidak membesar. Mereka sudah didoktrin untuk tunggu perintah ulama mereka, dan tidak boleh main tangan sendiri.

Saya harus angkat kopi untuk teman2 saya di Banser dan Ansor. Sejak lama saya berteman dengan mereka ketika sama2 menggebuk HTI. Saya diudara, mereka dilapangan. Dan tidak pernah ada rasa jumawa didada mereka, meski jumlah mereka sangat besar.

Saya jadi teringat perkataan Imam Ali, bahwa “kesabaran seseorang teruji ketika ia dalam keadaan marah..”

Dan teman-teman di Banser NU telah menunjukkan pada kita, bahwa kekuatan terbesar bukan saat pada kita lemah, tetapi menahan tangan untuk tidak memukul disaat berkuasa, dan itulah perang terbesar mereka..

Denny Siregar, konsultan politik, penikmat kopi.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Kenapa Malu Memakai Blangkon?

Previous article

Berusia 62 Tahun, Inilah Prestasi Pertamina dalam Beberapa Tahun Terkahir

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai