Inspirasi Bangsa

Patungan, Warga Ngaliyan Dirikan ‘Kampung Cafe’

ENERGIBANGSA.ID (Semarang Raya) – Kemandirian bangsa tidak lain adalah upaya nyata terwujudnya Indonesia berdikari. Artinya, negara ini tak selalu bergantung pada negara besar melainkan mampu memenuhi kebutuhan domestiknya secara mandiri.

Cita-cita mulia itu jangan sampai terhenti pada tataran konsep yang indah. Akan tetapi perlu diwujudkan oleh bangsa itu sendiri. Ini pun tak bisa kemudian disimpulkan, bahwa negara tak hadir dalam upaya itu. Justru, kerjasama sinergis dan dukungan pemerintah sangat urgen untuk diimplementasikan secara lebih riil.

Menimbang visi itu, warga RT 08/ RW III di Kelurahan Ngaliyan Kota Semarang berinisiasi membangun kampung tematik menuju “kampung cafe”. Langkah ini layak menginspirasi semua kalangan.

Semilir Cafe berlokasi di Ngaliyan Semarang . (Foto: DTA)

Kampung Cafe sendiri merupakan sebutan warga lokal, lantaran di pemukiman itu terdapat lebih dari lima gerai kuliner dan makanan. Diantaranya seperti Warung Kepala Ikan “Pak Uban” Cabang Pamularsih serta Cafe Lesehan Senopati yang fokus pada ikan dan ayam bakar. Jenis produk yang dijual pun beragam sehingga persaingan usaha antar warga dapat dihindarkan. Sedangkan calon pembeli bebas memilih jajanan yang akan dibelinya.

Mendirikan Semilir Cafe

Salah satunya adalah Semilir Cafe yang mengusung konsep tempat nongkrong yang disesuaikan dengan selera muda-mudi. Untuk melayani kalangan milenial, Semilir Cafe menyajikan beragam jenis minuman. Mulai dari es lemon tea, kopi, hingga minuman yang diracik kekinian.

Tak hanya minuman. Cafe Semilir juga menawarkan berbagai jenis makanan seperti pisang goreng, tahu krispi, mendoan, kentang goreng, bahkan singkong keju. Sementara menu favorit di cafe itu yakni nasi goreng spesial, sop iga dan sop bandeng.

Menurut Ketua RT 08, Agung, Cafe Semilir awalnya adalah lahan fasilitas umum (fasum) yang penuh tumpukan sampah. Di sekitar lokasi juga tidak ada sarana lampu penerangan jalan saat malam hari.

“Dulu, cafe ini ya tanah fasilitas umum. Karena ndak terpakai, malah jadi tempat pembuangan sampah warga. Kesan kumuh, jorok itu pasti. Itu sangat memprihatinkan”, jelasnya.

“Di depan sini juga tidak ada penerangan sama sekali. Gelap gulita. Padahal ini adalah akses satu-satunya jalan untuk warga kampung situ (sebelah). Pernah pula, taksi tidak berani mengantar penumpang ke kampung itu. Karena sepi mencekam”, paparnya.

Mengelola Lahan Fasilitas Umum

Menyaksikan kondisi yang miris itu, warga berinisiasi melakukan pengelolaan lahan fasum agar lebih bermanfaat.

“Waktu itu kami menggagas ruang usaha bersama. Kami cari investor, dan dari warga ada yang mau membiayai program ini. Kita jalin kerjasama dengan pola bagi hasil”, kata Agung.

Ia menambahkan uang dari hasil jualan banyak dimanfaatkan warga antara lain untuk pembangunan fisik kampung.

“Dari uang itu kita gunakan untuk membangun talut sepanjang jalan ini. Pengadaan lampu-lampu ini juga, sehingga benar-benar terang dan tidak membuat orang takut melintas”, ujarnya.

“Malah ke depan, warga siap patungan lagi untuk menambah saldo yang telah ada. Rencananya kita mau bangun gapura dan taman kecil yang bisa digunakan warga sebagai ruang publik”, terangnya.

Penyumbang Point Semarang sebagai Kota Terbersih

Pengembangan Kampung Cafe secara umum tak hanya berdampak ekonomis bagi warga. Lebih dari itu, lingkungan sekitar Kampung Cafe bahkan menjadi obyek penilaian juri nominasi Kota Terbersih untuk Kota Semarang.

“Ya, di sini, kita sampaikan kalau awalnya tempat pembuangan sampah. Kemudian kita ‘sulap’ jadi bangunan cafe yang menghasilkan secara ekonomis. Alhamdulillah, kita bisa support Kota Semarang ini meraih nobel sebagai Kota Terbersih”, jelasnya.

Langkah menjadi kampung cafe yang bersih juga didukung usaha warga dalam mengelola sampah. Tak dipungkiri, warga mengembangkan konsep sedekah sampah yang secara sukarela diberikan oleh warga pada pengelola.

“Jenis sampah kertas, kardus, koran bekas, sampah kelontong berbahan plastik kemudian dijual kepada pengepul. Uang yang terkumpul juga dapat dimanfaatkan lagi untuk kesejahteraan warga”, imbuhnya.

“Warga telah merasakan dampak positif pengelolaan sampah. Mulai dari sedekah sampah, yang bisa digunakan membantu warga kurang mampu. Hingga menata lahan kosong penuh sampah menjadi sebuah cafe yang banyak dikunjungi kaula muda”, pungkasnya.

Kini, Cafe Semilir yang bermodal patungan warga telah berdiri cantik menghadap akses jalan tol Semarang-Batang. Pesona keindahan di malam hari makin eksotis. Gemerlap lampu penerangan jalan tol serta kerlap-kerlip penerangan rumah warga juga terlihat sangat elok.

Suasana Semilir Cafe pada malam hari. (Foto: DTA)

Apalagi lokasinya yang berdiri di ketinggian, cukup instagramable. Pengunjungnya pun sangat beragam. Mulai dari warga digunakan tempat kegiatan dan perkumpulan, mahasiswa dan kalangan muda. Dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kabarnya juga pernah menyambangi cafe itu. Keren, kan ? Sobat energi, mana kreasi wargamu ? (dd/EB)

Related Articles

Back to top button