fbpx
KolomRagam Bangsa

Pariaman, Satu-Satunya Kota Tanpa Etnis China

Mengenang Peristiwa Kansas (Kanso 1944), Sejarah Indonesia yang Dirahasiakan Dunia, tentang satu-satunya kota di dunia yang tidak dihuni oleh Etnis Tionghoa.

oleh : Nika Chaniago, intelektual muda Quora Indonesia.

Energibangsa.id – Sedari kecil sampai saya dewasa saya tidak pernah melihat etnis Tionghoa satu pun ada di Pariaman. untuk dikota kota lain di Sumbar mereka ada dan hidup seperti kita kebanyakan; berdagang dan mempunyai toko.

Sampai suatu hari muncul pertanyaan di benak saya kenapa mereka tidak ada sedangkan ada kuburan China di kota Pariaman ? bukankah ini mengisyarakatkan bahwa mereka dulu pernah menetap di kota Pariaman dan kenapa hilang begitu saja?

Satu-satunya tempat di dunia yang tidak ada Etnis China

Hal ini langsung saya tanyakan kepada ayah saya. lalu, ayah saya menjawab bahwasanya china di Pariaman dulu memang ada tetapi sudah pergi meninggalkan Pariaman semenjak peristiwa kanso (Kansas).

“MOHON MAAF JAWABAN SAYA AKAN MELUKAI PERASAAN BEBERAPA PIHAK TERUTAMA ETNIS TIONGHOA. TAPI INILAH KENYATAAN SEJARAH YANG ADA DI KOTA ASAL SAYA…”

Kisah Mencekam

saya googlinglah dan jawabannya sungguh membuat saya merinding.

Insiden Kansas adalah peristiwa pembunuhan (maaf, dengan penggorokan) terhadap beberapa orang penduduk keturunan Tionghoa di Pariaman karena sesuatu alasan. Kansas dalam artian Kanso, adalah alat yang dilakukan untuk menggorok.

Kanso bisa disamakan dengan jenis logam seng tebal yang terdapat pada beberapa kaleng. Kanso yang digunakan saat itu diambil dari bekas kaleng roti.

Pengkhianatan Entis Tionghoa

Peristiwa Kansas dipicu akibat tidak setianya beberapa oknum penduduk China Pariaman kepada pejuang pribumi. Tidak semuanya memang, namun akibat gesekan rasial tersebut seluruh komunitas China yang ada di Pariaman hengkang menyelamatkan diri ke berbagai daerah.

Aset mereka yang tinggal begitu saja, beberapa waktu kemudian dijual murah melalui perantara.

Merujuk pada sejarah yang dituturkan saksi hidup yang sempat kami wawancarai, kekecewaan pribumi pada komunitas China bermula dari diketahuinya lokasi pejuang pribumi oleh tentara Jepang.

Pejuang pribumi saat itu banyak dieksekusi di tempat persembunyiannya. Apa yang mereka rencanakan selalu diketahui oleh tentara tentara Jepang.

Atas keganjilan tersebut, pribumi saat itu memutar otak. Mereka mencari dimana letak keganjilannya. Mereka berpikir ada sesuatu yang telah terjadi. Ternyata, ada sebuah pengkhianatan yang telah dilakukan terhadap mereka.

Pejuang pribumi yang tersisa mengutus anak-anak untuk memata-matai beberapa oknum yang dicurigai. Mereka disuruh bermain-main di halaman sejumlah kedai yang acap digunakan tentara Jepang berkumpul.

Mulailah anak-anak bermain gasing, patok lele dan permainan tradisional lainnya ke tempat-tempat yang disuruh pejuang pribumi.

Usaha tersebut ternyata berhasil. Salah satu kedai kopi milik non pribumi China di Kp Balacan dikupingi pembicaraannya. Pemberi informasi memang bukan pemilik kedai, tapi langganan tetap yang juga keturunan China. Rupanya selama ini dia (oknum Tionghoa) yang menjadi mata-mata (spionase) Tentara Jepang.

Mengakui Berkhianat pada Bangsa

Singkat cerita, mata-mata Jepang tersebut “diambil malam” oleh pejuang. Dari penuturan yang kami himpun, komplotan mata-mata itu semuanya berjumlah tiga orang.

Tiga orang pengkhianat tersebut dibawa ke tempat persembunyian pejuang. Di sana mereka diinterogasi dan akhirnya mengakui perbuatannya.

Atas perbuatannya itu, ketiga orang tersebut dieksekusi dengan cara yang belum pernah terpikirkan olehnya. Leher mereka digorok hingga nyaris putus dengan Kanso yang maha perihnya.

Ketiga mayat tersebut diletakan menjelang subuh tepat di depan tugu tabuik sekarang ini berada. Kanso sebagai alat eksekusi masih menempel di leher mereka.

Doktrin untuk Membenci Etnis Tionghoa

Saya menyadari insiden inilah yang membuat kami (warga Pariaman) di doktrin untuk membenci etnis Tionghoa. Orang orang dikampung saya rata rata membenci China apalagi yang bersaing di pasar tanah abang.

Saya tidak mendapatkan literature lebih banyak lagi tentang peristiwa ini. memang sejarah ini tidak ada di buku sejarah, namun ceritanya tetap lestari turun temurun diceritakan oleh para orang tua di Pariaman.

Saya sendiri tidak membenci etnis Tionghoa. ini hanyalah ulah oknum tersebut. buktinya, Etnis Tionghoa juga ikut berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia dan sampai sekarang masih besar kontribusi mereka terhadap perekonomian Indonesia.

Artikel ini telah tayang di Quora Indonesia, dengan judul PERISTIWA KANSO (KANSAS 1944)

Related Articles

Back to top button