fbpx
Essai

Pandemi dan Arah Menuju Kepribadi Sehat

Oleh: Oktavia Ika Sari, Mahasiswa Psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang

ENERGIBANGSA.ID—Tepat Bulan Maret 2020 lalu apa yang kita khawatirkan itu akhirnya menghampiri Indonesia. Sebuah hal yang mematikan tetapi tidak tampak wujudnya.

Kalaulah dia mempunyai wujud layaknya manusia yang memiliki mata untuk membaca.

Sangat ingin sekali saya ajak untuk membaca kalimat saya ini “Apa yang kau cari di negeri kami ini? Negeri yang sedang bahagia tiba-tiba kau buat kacau. Sudahlah. Cukup untuk bermain-mainnya. Pergilah! Kapan perlu ku antar kau sampai ke pintu bandara”

Salah satu berita yang mengejutkan saya adalah sebuah perusahaan teknologi jaringan operator hotel dan penyediaan layanan pemesanan tiket pesawat memutuskan untuk berhenti operasi pada Bulan Mei 2020 lalu.

Analisis awam saja, dari kejadian ini bisa menyimpulkan bahwa perusahaan yang sudah memiliki pendanaan yang mumpuni bisa berhenti beroperasi apalagi usaha-usaha kecil.

Hal itu hanya dari segi ekonomi. Belum lagi dari sisi kesehatan, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya.

Jutaan anak Indonesia yang dipaksa untuk mengadakan pembelajaran dari rumah, ribuan kasus bertambah setiap harinya, dan ratusan tenaga medis berguguran menjadi pahlawan bangsa. Sangat sah tahun 2020 tidak mudah!

Kita terjebak dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menerka-menerka apa yang harus dilakukan tetapi tekanan juga cepat bertambah.

Kondisi ini menjadikan siapapun saat sekarang ini menjadi lebih rentan terhadap masalah psikologis. Stress, depresi, cemas dan masalah psikologi lainnya yang meningkat apabila dibiarkan saja akan menimbulkan penyakit mental dan fisik.

Dari data yang dirilis oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, 64,3% dari 1522 responden mengalami masalah psikologis.

Sebanyak 63% dari responden yang memiliki masalah psikologis mengalami cemas dan 66% mengalami depresi. Gejala yang dirasakan yakni kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi, kuatir berlebihan, gangguan tidur, sulit untuk rileks, dan lain sebagainya.

Tuntutan beradaptasi

Masa pandemi Covid-19 ini menuntut kita untuk segera beradaptasi dan bekerja lebih ekstra dalam menjalankan kehidupan.

Apabila seorang individu isinya hanya mengeluh saja setiap saat, menyalahkan keadaan, dan menyerah begitu saja secara otomatis orang tersebut telah menghasilkan energi negatif. Dan malah, semakin memperkeruh kehidupannya sendiri maupun orang terdekatnya.

Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya masa pandemi menjadikan kita semakin berkualitas, kreatif, kuat dan tentunya memberikan dampak positif bagi bangsa.

Marilah  mulai beranjak membenahi diri dalam beradaptasi dengan situasi baru. Langkah dasar untuk mewujudkan seseorang yang berkualitas diperlukannya kepribadian yang sehat terlebih dahulu.

7 kepribadian sehat

Dalam perpektif psikologis, adapun 7 ciri kepribadian sehat menurut Allport yang mana akan membantu kita dalam mewujudkan kepribadian yang sehat.

Pertama, mengalami perluasan diri, dimana kita dapat mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri.

Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri tapi harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang disebut “partisipasi otentik”.

Dalam pandangan Allport, aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut.

Kedua, relasi sosial yang hangat, kondisi ini muncul karena orang yang sehat memberikan cinta yang tanpa syarat.

Sedangkan orang yang tidak sehat, cintanya adalah cinta neurotis (tidak matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu diberikan dengan syarat-syarat.

Ketiga, keamanan emosional, kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri.

Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk emosi-emosi kita, namun tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut dan tidak perlu “bersembunyi” dari emosinya. Seperti bersikap sabar terhadap kekecewaan.

Keempat, dalam persepsi realistis, orang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri.

Mereka memahami realitas sebagaimana adanya. Tidak memaksakan realitas dengan mempersepsikan seuatu sesuai keinginannya.

Kelima, keterampilan dan tugas, Individu sehat akan menggunakan ketrampilan-ketrampilan yang dimilikinya untuk tugas-tugas yang bermanfaat. Menenggelamkan diri ke dalamnya. Bukan untuk ego (pujian), tetapi sebagai dedikasi dan tanggung jawab.

Keenam, pemahaman diri. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya, individu tersebut semakin matang.

Demikian pula dengan apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya. Jika semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang.

Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.

Ketujuh, filsafat hidup. Bahwa seseorang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang.

Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya.

Allport menyebut dorongan-dorongan tersebut sebagai keterarahan (directness). Keterarahan itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. (*)

Related Articles

Back to top button